
Hari demi hari pun berlalu. Kini, kehidupan Luna pun disibukkan dengan persiapan acara tunangannya dengan Lino, sang atasan.
Ketika pagi hari, Luna harus bekerja sebagai asisten pribadi dari atasannya. Ketika menjelang siang, Luna disibukkan meeting dengan orang-orang dari wedding organizer yang akan membantu mereka dalam
menyelenggarakan acara tersebut. Dan malamnya, Luna masih harus mempersiapkan berbagai hal kecil, mulai dari gaun, souvenir, undangan, dan berbagai hal lainnya yang belum selesai dikerjakan ketika meeting siang.
Rasanya kalau sehari bisa dipanjangkan dan lebih dari 24jam, Luna akan sangat bahagia karena hari-harinya tidak akan cepat berlalu.
Kini, acara pertunangan itu tinggal tiga minggu lagi. Luna dan Lino pun sedang sibuk memilih undangan yang akan diberikan langsung oleh mereka. Memang mereka bisa saja meminta kurir untuk membagikan undangan-undangan tersebut. Namun, menurut sepasang kekasih ini, ada beberapa undangan yang layaknya diberikan langsung untuk menghormati si penerima.
Dan tanpa disangka, ketika Luna dan Lino memilih-milih undangan yang akan diantarkan, Enriko datang dan langsung memasuki ruangan Luna tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Selamat malam. Maaf mengganggu.” ucap Enriko dengan senyum yang mengembang setelah sebelumnya cukup terkejut karena melihat Lino yang ada di ruangan gadis pujaannya itu.
“Selamat malam, Pak Enriko. Ada yang bisa saya bantu? Saya rasa ini sudah bukan waktunya untuk membahas pekerjaan, bukan?” ucap Lino dengan sarkas karena melihat Enriko yang kurang tahu sopan santun ketika memasuki ruangan orang lain.
“Maaf, Pak Lino. Tapi saya sedang mencari Luna karena sekarang sudah waktunya untuk pulang. Jadi saya menjemputnya untuk meninggalkan perusahaan ini.” ucap Enriko dengan santai karena merasa memiliki
__ADS_1
kedekatan antara dirinya dan Luna.
Mendengar perkataan Enriko, Lino pun mengalihkan pandangannya ke gadis yang saat ini masih berada di hadapannya. Pandangan Lino seakan meminta penjelasan terhadap ajakan dari Enriko kepada gadis itu.
Luna yang memahami kecemburuan atasan serta kekasihnya itu pun hanya mengulas senyum sekilas. Dan ia pun mengalihkan pandangannya ke Enriko.
“Maaf, Pak Enriko. Tapi saat ini saya masih ada pekerjaan disini jadi tidak bisa pulang bersama dengan Anda. Saya rasa, Anda juga tidak perlu menunggu karena saya akan pulang bersama Pak Lino.” ucap Luna dengan tenang.
“Kamu sudah berkali-kali menolakku, Luna. Jangan tolak aku lagi. Dan aku akan menunggumu menyelesaikan urusanmu dengan bosmu disini.” ucap Enriko kekeuh dengan pendiriannya karena hingga saat ini ia belum
pernah berhasil mengajak Luna untuk satu mobil bersamanya.
Sebenarnya, Luna dan Lino telah sepakat untuk mengantarkan undangan Enriko ke perusahaannya langsung melalui kurir. Mereka pun mengundang Enriko ke acara tersebut hanya karena perusahaan mereka menjalin
kerja sama. Oleh karena itu, akan sangat tidak sopan jika tidak mengundang.
Tetapi karena dirasa kehadiran Enriko saat ini merusak suasana dan membuat suasana menjadi panas, maka Luna pun memutuskan untuk menyerahkan undangan tersebut. Harapannya, setelah mendapatkan undangan
__ADS_1
itu, Enriko akan segera meninggalkan ruangan.
Namun ternyata harapan hanyalah harapan. Karena bukannya meninggalkan ruangan itu, Enriko malah mendekat kepada Luna dan sedikit memukul meja yang ada di hadapan Luna.
“Kamu bertunangan? Dengan atasanmu sendiri?” ucap Enriko yang tidak percaya dengan nama pada undangan yang saat ini ada di tangannya.
“Hmm.. Ada masalah? Saya rasa Kita tidak sedekat itu untuk Anda bisa bertanya banyak hal, Pak Enriko.” ucap Luna kembali, enggan menjawab semua pertanyaan dari Enriko. Luna tahu ketika ia menjawab pertanyaan
tersebut, maka akan ada pertanyaan-pertanyaan lain yang akan dilontarkan oleh laki-laki itu.
“Apakah tidak ada laki-laki lain, Luna? Atau kamu sengaja bekerja di perusahaan besar untuk mendapatkan bosnya? Kamu mau hidup enak tanpa harus bekerja keras?” ucap Enriko lagi dengan nada berapi-api.
Selama ini, Enriko memang tahu bahwa banyak laki-laki yang menginginkan seorang Luna Intan Permana. Namun ia tidak menyangka bahwa akhirnya ada satu laki-laki yang berhasil menaklukan Luna. Dan ia lebih tidak percaya lagi bahwa laki-laki itu adalah atasan gadis itu sendiri.
Oleh karena itu, semua ucapannya keluar begitu saja dari mulutnya tanpa bisa terkendali. Ia menuduhkan suatu hal yang sama sekali ia tidak ketahui tetapi terlintas begitu saja di kepalanya saat ini.
***********
__ADS_1
-Bersambung-