
Pagi hari pun tiba. Hari ini adalah hari Minggu. Hari terakhir untuk bersantai sebelum besok harus memulai aktivitas kembali. Hari yang biasa digunakan oleh manusia-manusia yang telah berkeluarga untuk berkumpul bersama setelah lima hari atau lebih beraktivitas diluar rumah.
Sesuai rencana yang telah disusunnya semalam, hari ini Lino akan mencoba membuka negosiasi dengan Bunda Nadia. Karena ini tentang masa depannya, maka Lino pun telah mempersiapkan dengan sangat matang. Dia
sudah memikirkan apa saja yang harus dikatakannya dan apa saja yang akan ditawarkan kepada Bunda Nadia.
“Bun, No mau bicara dengan Bunda ya setelah kita sarapan.” ucap Lino membuka pembicaraan pagi ini dengan Bunda Nadia di meja makan sambil menunggu sarapan mereka dihidangkan oleh para asisten rumah tangga.
“Tentang?” tanya Bunda Nadia dengan santai meskipun sebenarnya beliau sudah mengetahui apa yang hendak dibicarakan oleh sang putra. Mungkin anaknya telah memikirkan ucapannya semalam dan siap memberikan
jawabannya pagi ini.
“Tentang ucapan Bunda semalam. Lino sudah memikirkannya sampai Lino susah tidur, Bun.” ucap Lino sambil merengek manja kepada Bunda Nadia.
Dan mendapati jawaban manja dari sang putra, mau tidak mau Bunda Nadia pun tersenyum lucu. Seorang CEO muda yang sangat berbakat dan terkenal dingin bisa sangat manja seperti ini. Sungguh sangat menggelikan.
Bunda Nadia pun menganggukan kepalanya tanda menyetujui ucapan anaknya. Dan mereka pun memulai sarapannya karena para asisten rumah tangga telah selesai menyajikan semua hidangan untuk sarapan kedua
majikannya.
__ADS_1
Mereka pun sarapan dalam diam. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya masing-masing. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya sarapan pun selesai. Lino dan Bunda Nadia pun memutuskan untuk
berpindah tempat, dari ruang makan menuju taman belakang. Rasanya, berbicara hal yang serius dan ditemani dengan pemandangan hijau akan lebih menyenangkan dan menyegarkan.
“Bicaralah, Nak. Kenapa CEO tampan dihadapan Bunda yang terkenal dingin tiba-tiba tidak bisa berkata-kata? Padahal tadi katanya ada yang mau dibicarakan.” ucap Bunda Nadia mencoba menggoda anaknya karena
telah beberapa saat mereka duduk di taman itu dan Lino masih saja terdiam.
Lino pun hanya tersenyum mendengar godaan dari Bunda Nadia.
“No sudah memikirkan perkataan Bunda kemarin malam.” ucap Lino membuka pembicaraan dengan Bunda Nadia.
Lino pun menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Bunda Nadia.
“Jadi, apa keputusanmu?” tanya Bunda Nadia ingin mengetahui keputusan yang diambil oleh anaknya setelah memikirkan dalam waktu yang sangat singkat.
“Bagaimana kalau aku menyukai perempuan lain, Bun? Apakah Bunda akan merestui kami?” tanya Lino. Bagaimanapun juga, Lino tidak bisa menjalin sebuah hubungan jika Bunda Nadia tidak menyetujuinya. Meskipun
mungkin Lino akan memperjuangkannya jika memang dia sangat menyukai perempuan itu, namun jika pada akhirnya Bunda Nadia tetap menolaknya, maka Lino akan memilih mengakhiri hubungan tersebut.
__ADS_1
“Apakah Bunda mengenalnya? Siapa dia?” tanya Bunda Nadia dengan sedikit penasaran karena setahunya, Lino bukan orang yang mudah suka ataupun jatuh cinta dengan seorang gadis.
“Asisten pribadi Lino, Bunda.” ucap Lino singkat, dimana Lino melupakan fakta bahwa Bunda Nadia hanya mengetahui bahwa asisten pribadi Lino adalah Roland.
“Sayang? Kamu normal kan?” tanya Bunda Nadia dengan mengertukan keningnya ketika mendengar jawaban dari Lino.
Lino yang bingung pun ikut mengerutkan keningnya. Lino masih belum paham kemana arah pembicaraan Bunda Nadia saat ini. Apakah Lino normal? Tentu saja Lino masih normal.
“Rasanya Bunda harus segera menikahkanmu dengan seorang gadis baik-baik, sebelum semuanya terlambat.” ucap Bunda Nadia kembali dengan sedikit frustasi mendengar perkataan Lino tadi.
“Bunda, Lino janji akan menikah. Tapi biarkan Lino menentukan pilihan Lino sendiri, Bun. Please.” ucap Lino memohon.
“Silahkan kamu memilih sendiri. Tapi pastikan pilihanmu adalah seorang GADIS, Lino. Dan pastikan dia tidak akan memalukan keluarga kita.” ucap Bunda Nadia dengan menekankan kata ‘gadis’ di kalimatnya.
“Kalau itu, Bunda jangan khawatir. Lino pastikan dia memiliki syarat dan standar yang Bunda inginkan.” kata Lino sambil menyunggingkan senyumnya.
“Bawa dia kehadapan Bunda. Bunda sendiri yang akan menilainya.” jawab Bunda Nadia mengakhiri pembicaraan dengan Lino dan berlalu masuk ke dalam rumah.
**************
__ADS_1
-Bersambung-