Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 119 – Mengganti Panggilan


__ADS_3

“Saya sudah berbicara banyak dengan Bunda Nadia. Dan saya setuju dengan keputusan Bapak. Tapi kemarin saya juga sudah berbicara dengan Bunda untuk tidak langsung menikah. Saya ingin kita saling mengenal lebih dalam terlebih dahulu.” ucap Luna to the point karena memang waktu telah semakin malam dan sejujurnya Luna juga sudah semakin lelah, mengingat banyaknya kegiatan mereka hari ini.


Lino yang mendengar itu pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia pun menganggukan kepalanya dengan senyum yang mengembang sempurna.


“Kamu tidak bercanda kan, Luna? Ini bukan karena paksaan Bunda kan? Kamu menyetujuinya dari hatimu kan?” tanya Lino karena merasa tidak yakin dengan perkataan Luna. Lino hanya takut bahwa Bunda Nadia


memaksa gadis itu untuk menyetujui pernikahan itu.


Luna pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Lino.


Lino pun tidak bisa menyembunyikan lagi kebahagiaannya. Kalau bisa, ia ingin sekali memeluk gadis yang ada


disebelahnya. Namun, Lino pun berusaha menahan diri karena tidak ingin membuat gadis itu terkejut dan takut kepadanya.


“Jadi sekarang kita harus cari tanggal untuk pertunangan itu. Setelah itu, kita akan sampaikan kepada Bunda.” kata Lino sambil memegang tangan Luna dengan sangat erat. Ya, hanya sebatas itulah yang dilakukan oleh Lino agar Luna tidak takut kepadanya.

__ADS_1


“Maaf, Pak..” kata Luna yang terpotong oleh perkataan Lino karena merasa rishi dengan panggilan ‘Pak’ yang masih disematkan Luna kepadanya.


“Aku bukan bapakmu, Luna. Panggil aku dengan yang lain. Kita bukan lagi sekedar atasan dan bawahan.” ucap Lino memotong perkataan Luna.


Luna pun tersenyum melihat perubahan mimik wajah laki-laki yang ada disebelahnya. Luna seakan melihat pribadi lain dari seorang Lino Damaresh yang tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain.


“Maaf. Boleh saya lanjutkan?” tanya Luna masih dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.


“Nope! Kecuali kamu sudah bisa mengganti panggilanmu terlebih dahulu. Dan aku mau panggilan khusus.” ucap Lino karena masih ingin menggoda gadis yang telah menjadi kekasihnya itu.


“Saya…” kata Luna yang lagi-lagi terputus.


“Aku, Luna. Aku dan kamu. Bukan saya dan Anda.” ubah Lino memperbaiki perkataan Luna agar tidak terlalu serius jika berdua bersamanya. Lino ingin hubungan mereka tidak sekaku ketika statusnya adalah atasan dan bawahan.


Luna pun hanya bisa menghela nafasnya. Tiba-tiba kepalanya sakit melihat tingkal laku laki-laki disebelahnya itu. Citra atasan yang tegas pun lenyap seketika. Kalau para bawahannya melihat ini, pasti mereka akan mentertawakannya.

__ADS_1


“Baiklah..baiklah.. Aku bingung harus memanggil apa. Tidak mungkin kan dipanggil kakak? Kamu bukan kakakku kan? Mas? Gak cocok dengan mukamu. Abang? Sama saja gak cocok.” kata Luna dengan wajah bingungnya.


“Panggil aku sayang. Atau beb. Atau honey. Terserah kamu.” kata Lino dengan mata berbinar layaknya anak kecil yang mendapatkan permen.


Luna pun hanya menggelengkan kepalanya. Rasanya ia sangat malu dengan panggilan-panggilan itu. Dan ia pun tidak mengharapkan panggilan itu dari lawan jenisnya karena sejujurnya itu membuatnya rishi.


“Bagaimana kalau Nono? Lino menjadi Nono. Kayaknya imut dan menggemaskan.” kata Luna memberikan usul dengan jahil.


“Oke. Dan aku akan panggil kamu Nana. Bagaimana?” kata Lino menyetujui perkataan Luna karena merasa panggilannya cukup lucu untuk mereka berdua.


Dan akhirnya urusan panggilan pun terselesaikan dengan damai karena mereka menemukan suatu solusi yang cukup simple tapi agak bikin geli juga sih.


****************


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2