Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 88 – Tindakan Luna


__ADS_3

“APA YANG BAPAK LAKUKAN PADA SAYA?” ucap Luna sambil terus berteriak di sela-sela tangisnya ketika melihat pergerakan dari Felix yang seakan baru saja terbangun dari tidur panjangnya.


“KENAPA BAPAK MELAKUKAN INI PADA SAYA?” ucap Luna kembali sambil terus berteriak di hadapan Felix tanpa menunggu laki-laki itu mengumpulkan ‘nyawa’ nya, meskipun hanya sebatas drama.


“APA SALAH SAYA SAMPAI BAPAK TEGA?” teriak Luna yang kembali terdengar di sela-sela tangis pilu nya meratapi kenyataan bahwa kesuciannya telah direngut oleh laki-laki disampingnya itu.


Dan Luna yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari mantan atasannya itu pun terus menangis dan menangis tanpa mengenal lelah.


Felix yang telah terduduk cukup lama pun kini beralih menuju Luna yang berada di ujung tempat tidur. Felix pun berinisiatif untuk memeluk gadis yang sangat dipujanya itu. Berharap dengan memeluknya, gadis itu bisa menjadi lebih tenang. Dan dengan demikian, Felix bisa meyakinkan Luna untuk menerima lamarannya. Jika nantinya Luna mengetahui bahwa dirinya masih suci, tidak ada masalahlah untuk Felix karena mereka telah menikah.


Namun, baru saja menggeser duduknya, Luna telah kembali berteriak. Bahkan kini dia telah beranjak dari tempat tidurnya tersebut dengan membawa selimut yang mereka gunakan bersama untuk menutupi tubuhnya.


Felix yang masih mengira Luna akan berlari ke dalam kamar mandi pun hanya menatap gadis tersebut tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun. Namun ternyata dugaan Felix salah. Karena tujuan Luna bukanlah kamar mandi, melainkan balkon yang ada di kamar tersebut.

__ADS_1


“Luna..” teriak Felix ketika melihat Luna mulai menaiki sisi balkon. Felix sangat tidak menyangka bahwa Luna akan berpikiran nekat dengan menaiki balkon tersebut. Terlebih kamar mereka berada di lantai yang cukup tinggi.


Namun ternyata, memanjat balkon dengan berbalut selimut itu sangat menyulitkan bagi Luna. Terlebih bagi gadis baik-baik yang tidak pernah memanjat pagar sekolah untuk membolos. Dan dengan mudahnya, Felix pun bisa meraih Luna. Menggendongnya dan membawanya kembali ke kamar. Tak lupa juga Felix mengunci pintu balkon tersebut agar tidak membahayakan Luna. Ia tidak habis pikir bagaimana gadis polos seperti Luna bisa berpikir untuk mengakhiri hidupnya, bahkan sebelum mereka membicarakan jalan keluar untuk masalah mereka.


“Pergi!” kata Luna melemah dan masih di sela-sela tangisnya yang juga belum berhenti.


Felix yang mendengar perkataan Luna pun hanya bisa terdiam. Terus memeluk gadis pujaannya itu agar tidak dapat berbuat hal yang membahayakan. Bahkan ketika Luna meronta-ronta, memukul, dan bahkan menendangnya, semua diterima oleh Felix tanpa melepaskannya sedikit pun.


Felix masih tidak bergerak sedikit pun. Ingin rasanya ia menyuntikkan kembali obat penenang yang dibawanya. Karena sesungguhnya ia tidak tega melihat kekekecewaan di wajah gadis pujaannya. Bahkan mendengar tangis pilu yang tak kunjung usai pun hampir saja membuat Felix ikut menitikkan air matanya.


 


Namun, jika Luna kembali tertidur, maka ia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan baik. Oleh karena itu, Felix memilih untuk menenangkan gadis itu dengan cara lain. Dan inilah cara Felix, membiarkan Luna melampiaskan seluruh emosinya, serta berusaha untuk tidak tersulut emosi ketika gadis it uterus berteriak ingin mati dan mengakhiri hidupnya yang penuh dengan kesedihan.

__ADS_1


Sebenarnya, jika ditelisik lebih jauh, Felix bukanlah orang jahat. Bahkan ketika ada kesempatan menikmati tubuh gadis pujaannya, Felix tidak melakukannya. Meskipun harus menekan hasratnya dengan sangat kuat, Felix rela melakukan hal tersebut.


Namun, obsesi Felix lah yang telah membutakan matanya. Bahkan sampai berani mengambil tindakan membawa Luna pergi jauh dari tanah airnya, serta memaksa gadis itu untuk menikah dengannya.


Felix hanya ingin Luna menjadi miliknya untuk selamanya. Dan berbagai cara telah dilakukan Felix untuk mendekati Luna. Mulai dari mendekati sebagai atasan, hingga Felix rela untuk menjadi supir yang mengantarkan Luna. Namun, semua itu ditolak oleh Luna.


Namun, hal yang membuat Felix sakit hati serta memutuskan untuk memakai cara pemaksaan adalah ketika melihat Luna menginap di kediaman Lino. Rasanya Felix tidak menyangka bahwa sahabatnya itu menusuknya


dari belakang. Dari situlah Felix beranggapan bahwa ia harus bergerak lebih  cepat lagi agar Luna tidak menjadi milik Lino. Dan menikah dengan Luna adalah satu-satunya cara untuk mengamankan Luna dari sahabatnya, serta laki-laki lain yang tertarik dengan gadis itu.


***************


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2