
Siang ini, PT Lino mengadakan pertemuan dengan PT ER di sebuah restaurant yang cukup ternama. Pertemuan ini akan membahas tentang kerja sama yang tentunya akan menguntungkan kedua belah pihak.
Untuk informasi, PT ER juga salah satu perusahaan yang cukup berkembang di negara ini. Meskipun belum sebesar PT Lino, tetapi PT ER pun cukup banyak dilirik oleh para pelamar pekerjaan karena memiliki gaji dan tunjangan yang cukup membuat hidup lebih nyaman.
Untuk pertemuan kerja sama ini, tentunya Lino akan turun tangan sendiri. Dan dimana Lino akan melakukan meeting, disitulah Luna akan selalu bersamanya. Ya, itulah salah satu tugas Luna, mendampingi kemana saja atasannya pergi dan mempersiapkan semua berkas-berkas yang akan dibutuhkan untuk semua pertemuan yang akan diadakan.
Tepat pukul 14.00, pintu ruangan VIP di restaurant tersebut pun dibuka. Dan masuklah perwakilan dari PT ER, yaitu Enriko. Dia bukanlah pemilik perusahaan itu. Maksudnya belum. Karena memang orang tuanya belum menyerahkan perusahaan itu sepenuhnya kedalam tangannya. Oleh karena itu, ia masih datang sebagai perwakilan saja.
“Silahkan duduk, Pak Enriko.” ucap Lino yang memang telah mengenal karena beberapa kali berhubungan dengan Enriko dan bertemu di beberapa acara yang digelar untuk pengusaha-pengusaha.
“Terima kasih, Pak Lino.” ucap balik Enriko sambil menjabat tangan Lino yang memang telah diulurkan kepadanya.
Dan mereka pun membahas kerja sama dengan sangat serius tanpa mempedulikan waktu yang terus berputar hingga akhirnya kesepakatan pun dijalin oleh kedua belah pihak. Setelah itu, mereka pun berbincang sesaat
__ADS_1
hingga terdengar pintu terbuka.
“Mohon maaf, permisi Pak Lino. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00. Setelah ini, Anda masih ada pertemuan kembali dengan Pak Roland dan Pak Cleon. Apakah mau direschedule?” tanya Luna setelah menutup kembali pintu yang tadi dibukanya.
“Luna? Anda benar Luna Intan Permana?” tanya Enriko yang sejak tadi memperhatikan dengan seksama sejak mulai Luna membuka pintu hingga berbicara dengan laki-laki dihadapannya.
Luna dan Lino pun serentak menolehkan kepalanya melihat laki-laki yang ada di ruangan tersebut dengan tatapan heran.
“Maaf, Pak Enriko, apakah Anda mengenal saya?” tanya Luna dengan sopan. Ia tahu bahwa laki-laki yang ada dihadapannya adalah rekan bisnis dari atasannya. Oleh karena itu, Luna pun harus bersikap sopan dengan
“Tentu saja. Kamu adalah kakak tingkat saya. Dan saya termasuk dalam salah satu fansmu semasa kuliah.” ucap Enriko tanpa basa basi dan tanpa bisa menutupi kebahagiaannya bisa bertemu dan bertatap muka dengan gadis pujaannya. Bahkan, kali ini, ia pun bisa berbicara langsung dengan Luna. Hal yang tidak bisa dilakukannya sejak dahulu karena memang Luna adalah gadis yang tidak tersentuh oleh siapapun.
Mendengar pernyataan Enriko, tentu saja membuat Luna bingung. Ia tidak pernah merasa memiliki penggemar ketika mengenyam pendidikan dimanapun. Jika ditanya laki-laki yang menyatakan perasaan padanya, tentu saja
__ADS_1
ada. Tetapi ia tidak pernah menganggapnya sebagai penggemar. Dan Luna pun selalu menolak setiap laki-laki yang menyatakan perasaan padanya.
Demikian juga dengan Lino. Ia pun tidak menyangka dengan pernyataan laki-laki yang ada dihadapannya. Penggemar? Fans? What? Seberapa banyak laki-laki yang menginginkan wanita yang menjadi asisten pribadinya? Mungkin itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala Lino. Namun, tentunya ia tidak bisa menunjukkan perasaannya terkejut dan tidak sukanya itu saat ini. Terlebih ketika Enriko merubah panggilan yang formal dengan aku – kamu. Rasanya, Lino ingin segera berlalu dari tempat ini.
“Aku seneng banget bisa ketemu kamu, Lun.” ucap Enriko kembali memecah keheningan yang tercipta sejak perkataannya yang menyebut dirinya sebagai fans dari Luna. Enriko pun segera berdiri dan berjalan menuju Luna. Memegang tangan Luna dan menuntunnya ke kursi yang ada di sebelahnya tanpa mempedulikan kehadiran Lino disana.
Luna sendiri yang mendapat perlakukan dari Enriko pun hanya bisa menurut. Ia masih diliputi kebingungan tentang adanya kumpulan fans yang terbentuk ketika ia berkuliah.
“Kita kembali ke kantor sekarang, Luna.” ucap Lino menghentikan tindakan Enriko yang akan membawa Luna duduk. Dan Luna pun mengehmbuskan nafasnya lega karena ia merasa cukup tidak nyaman dengan perlakuan Enriko yang menurutnya sok kenal.
“Baik, Pak. Maaf, Pak Enriko, saya permisi.” ucap Luna dengan cepat. Ia tidak ingin berlama-lama disana dan sebelum meletakkan pantatnya di kursi, Luna pun segera berbalik dan membukakan pintu untuk Lino.
Luna dan Lino pun berlalu dari ruangan itu. Meninggalkan Enriko sendirian disana.
__ADS_1
*************
-Bersambung-