Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 28 – Kemarahan Luna (2)


__ADS_3

“Luna, tunggu!” ucap Felix kembali.


Namun Luna pun terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari Felix. Luna tahu, sedikit banyak ada penyesalan dalam nada suara laki-laki yang sedang mengejarnya itu. Namun, tetap saja harga diri Luna telah


terluka.


Bagi kalian, mugkin Luna terkesan sangat lebay. Bahkan bisa jadi menurut kalian, hanya kecupan seharusnya tidak akan membuat seseorang menjadi semarah itu. Namun, bagi seorang perempuan yang memiliki masa lalu buruk, perlakuan seperti tadi, meskipun hanya sebuah kecupan, maka bisa jadi akan membangkitkan kenangan buruknya.


Terlebih lagi, gadis seperti Luna, memiliki harga diri yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan pengalaman buruk dalam keluarganya yang selalu menginjak harga dirinya. Jadi, setelah keluar dari rumah tersebut, Luna selalu berusaha bangkit dan membuat sebuah tembok tinggi dalam dirinya yang bernama ‘harga diri’ agar tidak diinjak-injak lagi seperti sebelumnya.


Dan perlakuan yang diterimanya dari Felix beberapa waktu lalu, tentunya melukai harga dirinya itu. Luna merasa dirinya sebagai sebuah objek yang bisa saja dirusak oleh laki-laki itu. Oleh karena itu, tentunya Luna sangat tidak bisa menerima hal tersebut.


“Luna, tunggu. Saya minta maaf.” ucap Felix setelah berhasil mengejar dan menghentikan langkah Luna karena laki-laki ini berhasil mendahului dan menghalangi langkah gadis pujaannya.


Luna pun yang terhalang langkahnya, mau tidak mau harus berhenti dan menatap laki-laki di depannya.

__ADS_1


“Pergi!” ucap Luna singkat.


“Gak, Lun. Saya minta maaf. Saya menyesal telah berbuat terlalu jauh.” ucap Felix pantang menyerah untuk mendapatkan maaf dari gadis pujaan yang ada di hadapannya sekarang.


“Maaf? Sayangnya tidak ada maaf untuk perbuatan hina seperti yang telah Anda lakukan, Bapak Felix yang terhormat. Jadi kembalikan smartphone saya dan pergi! Atau Anda juga bisa membuang smartphone saya itu. Saya tidak peduli.” ucap Luna kembali.


Dan entah kebetulan atau memang keberuntungan bagi Luna, tidak berselang lama dari Luna menyelesaikan kalimatnya, ada sebuah taxi yang melaju mendekat ke arahnya. Dengan segera dan tidak ingin menyiakan waktu,


Luna pun memanggil taxi tersebut dan meninggalkan Felix berdiri di tempatnya.


Memang penyesalan itu selalu datangnya belakangan, bukan? Jadi alangkah baiknya jika berpikir lebih banyak terlebih dahulu sebelum melakukan sebuah tindakan.


**********


Luna pun kini telah tiba di rumah Vina sahabatnya. Luna memang belum pindah dari rumah tersebut. Bukan karena aji mumpung tetapi karena memang Vina yang meminta kepada Luna untuk tetap tinggal di rumah tersebut.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan, Vina memang selama ini merasa nyaman tinggal bersama dengan Luna. Selain ada teman, Vina juga merasa tidak kesepian meskipun sebenarnya mereka cukup jarang bertemu karena kesibukan


masing-masing.


Dan Luna pun tidak tinggal di rumah itu dengan cuma-cuma. Jika sebelum bekerja hampir semua kebutuhan makan sehari-hari Luna ditanggung oleh Vina, kini Lunalah yang lebih banyak berbelanja untuk kebutuhan dapur setiap bulannya. Ini adalah salah satu bentuk balas jasa dari Luna selama tinggal di tempat Vina.


Selama ini pun, Luna selalu merapikan dan membersihkan kamarnya sendiri. Meskipun sudah berkali-kali Vina mengatakan bahwa akan ada asisten yang membersihkannya, tetapi Luna selalu menolaknya.


Luna memang bukan orang yang suka berhutang terlalu banyak. Dan dengan menggunakan fasilitas yang ada di rumah itu, Luna akan merasa banyak berhutang budi kepada sahabatnya. Jadi, Luna pun memilih untuk tetap mencoba mengerjakan banyak hal itu sendiri.


Dan beginilah gambaran kehidupan Luna. Wanita yang cukup mandiri dan tidak mau berhutang budi, meskipun kepada sahabatnya sendiri.


************


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2