
Dan Felix pun mengeluarkan smartphone nya untuk menghubungi seseorang. Ia ingin semua rencananya lebih cepat terlaksana dan mendapatkan Luna sebagai pendamping hidupnya. Ia ingin meruntuhkan semua kesombongan Luna karena tidak ingin berteman dengannya. Dan jika cara pertama tidak berhasil, Felix telah menyiapkan cara kedua yang akan membuat Luna tidak bisa diterima oleh laki-laki manapun.
“Segera persiapkan surat perjanjian dengan wanita itu. Aku ingin segera mendapatkan anaknya. Aku akan memberikan sepuluh juta per bulan ketika anaknya telah berada di tangan dia. Dan aku akan memberikannya
tiga puluh juta per bulan setelah menikahi anaknya. Dan jika sampai aku tidak bisa menikahi anaknya, dia harus mengembalikan padaku serratus kali lipat dari yang sudah aku berikan padanya.” ucap Felix kepada orang di seberang telepon.
Dan setelah memberikan instruksi dengan sangat jelas, Felix pun segera menutup panggilannya dan mengembalikan smartphone nya ke dalam kantung celana miliknya. Ia pun memilih untuk meninggalkan rumah
sahabatnya, yang entah masih bisa disebut sahabat atau tidak. Ia ingin segera menenangkan dirinya.
*********
Keesokan Harinya – Rumah Rianti
Felix yang masih dalam masa cutinya pun telah sampai di kota kelahiran Luna bersama seorang pengacara yang telah dihubunginya kemarin untuk membuat surat perjanjian antara dirinya dan Rianti.
Ya, orang yang kemarin dihubungi oleh Felix ketika masih berada di rumah Lino adalah seorang pengacara kepercayaannya. Dia juga teman kuliah Felix. Oleh karena itu, Felix tidak segan untuk meminta tolong kepadanya. Dan tentunya Felix juga memberikan sejumlah uang untuk mengurus tentang perjanjian tersebut.
__ADS_1
Sebelum, Felix memang telah menghubungi pengacara tersebut untuk mempersiapkan sebuah surat perjanjian. Namun, kala itu, Felix belum mengatakan dengan tegas tentang apa saja isi dari surat perjanjian tersebut.
Namun, setelah Felix menghubunginya kembali semalam, akhirnya surat perjanjian itu pun jadi dengan lengkap. Dan tentunya diharapkan tidak merugikan salah satu pihak. Dan jika terkesan akan menyulitkan pihak Rianti, itu Felix lakukan hanya agar Rianti tidak melanggar janjinya kepada Felix.
Setelah menempuh perjalanan hingga enam jam, akhirnya Felix pun sampai ke kota tujuannya. Namun karena hari telah semakin petang, akhirnya Felix pun mencari tempat menginap terlebih dahulu.
Felix pun memilih penginapan yang tidak terlalu jauh dari rumah Luna. Hal ini dilakukannya agar memudahkan dirinya untuk mencapai rumah tersebut keesokan harinya. Selain itu, tentunya Felix juga ingin mengawasi sedikit kegiatan orang-orang yang ada di rumah tersebut.
**********
Tok..tok..tok..
Tiga kali ketukan pertama diberikan oleh Felix terhadap pintu yang tertutup dihadapannya. Namun, setelah beberapa menit, tidak ada jawaban atas ketukan tersebut.
Tok..tok..tok..
Tiga kali ketukan kedua diberikan oleh Felix dengan lebih keras terhadap pintu yang tertutup tersebut. Namun lagi-lagi masih tidak ada jawaban dari orang-orang yang berada di dalam rumah tersebut.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
Tiga kali ketukan ketiga ini mungkin tidak bisa disebut ketukan lagi, tetapi adalah sebuah gedoran yang diberikan oleh Felix. Dan harapannya kali ini pun terkabul karena tidak perlu menunggu lama, pintu itu pun terbuka.
“Siapa? Ganggu banget pagi-pagi begini.” ucap Jordan sambil membukakan pintu rumahnya dengan mengucek matanya menandakan dirinya baru saja bangun dari tidurnya yang terganggu akibat gedoran yang dilakukan
oleh tamu dihadapannya saat ini.
“Saya Felix dan mencari Ibu Rianti. Apakah beliau ada?” ucap Felix dengan tenang tanpa mempedulikan gerutuan dari laki-laki dihadapannya.
“Masuklah. Saya carikan ibu dulu. Entah dimana wanita tua itu.” ucap Jordan kembali mempersilahkan tamunya masuk.
Felix pun segera memasuki rumah kecil tersebut sambil melihat-lihat sekeliling ruangan yang dimasukinya itu. Dan Felix pun memilih untuk duduk di sofa tua yang ada di ruangan tersebut.
**************
-Bersambung-
__ADS_1