
Hari hari pun berlalu dengan cepatnya. Dan Felix pun tetap berusaha mendekati Luna. Sedangkan Luna sendiri masih tidak bisa luluh kepada pria yang menjadi atasannya itu. Luna masih tetap dengan sikapnya yang cuek dan dingin jika mendapatkan sebuah pendekatan secara personal.
Sementara usaha dari Vina pun terus berkembang. Dan berkat pengajaran dari Luna kepada tim Vina yang bekerja langsung di lapangan, kini gadis itu bisa lebih focus dengan pekerjaannya di PT LINO.
Dan hari ini, tepat tiga bulan Luna bergabung di PT LINO. Selain mendapatkan pekerjaan dan penggemar berat, tentunya, Luna juga telah mendapatkan beberapa teman dekat. Hera dan Tino.
Hera adalah salah satu orang di bagian keuangan yang sangat supel dan mudah bergaul. Dia juga memiliki pembawaan yang sangat ceria. Jadi jangan heran jika dia akan sangat mudah berteman dengan siapa saja. Hera
juga bukan tipe orang yang suka memilih dalam pertemanan. Prinsipnya, bertemanlah dengan siapa saja tapi dekatlah dengan orang yang memiliki aura positif.
Sedangkan Tino, dia adalah salah satu ’penggembira’ di bagian keuangan. Dengan gayanya yang agak kemayu, Tino selalu membawa keceriaan tersendiri untuk teman-teman tim nya. Jangan ditanya seberapa bawel laki-laki ini. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa dia juga adalah biang gosip dan biang rebut di bagian ini.
“Cepat.. cepat.. Pak Lino sudah hampir sampai.” ucap salah satu karyawan di bagian keuangan memberitahu ke seluruh ruangan agar segera bersiap karena CEO PT LINO hari ini akan melakukan sidak ke semua bagian.
Dengan kecepatan yang tak bisa terkalahkan oleh kecepan mobil sport para karyawan pun bersiap merapikan pakaiannya dan para karyawati bersiap dengan make up nya agar terlihat lebih fresh dan menarik, sebelum ikut berbaris di pintu masuk untuk menyambut sang CEO
__ADS_1
Namun berbeda halnya dengan Luna. Gadis itu masih saja tetap berdiam di ruangannya dan melakukan pengecekan terhadap beberapa file yang menjadi tanggung jawabnya.
Tiba-tiba, ketukan pun terdengar dari pintu ruangannya.
“Luna, ayo segera bergegas. CEO hampir saja sampai di tempat kita. Kita semua harus menyambutnya juga. Setidaknya, tinggalkan dahulu kerjaanmu itu.” ucap Hera sambil membuka sedikit pintu ruang kerja Luna setelah mendapatkan jawaban dari pemilik ruangan.
“Oke.. Tunggu sebentar, Ra.” ucap Luna sambil sedikit merapikan mejanya sebelum beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
Selama tiga bulan bekerja di perusahaan ini, Luna memang belum sekali pun bertemu dengan CEOnya sendiri. Hal ini memang disebabkan oleh Lino yang lebih sering menghadiri meeting di luar kantor, ataupun bekerja dari rumah, daripada datang ke kantor.
“Selamat Pagi, Pak Lino.” ucap para karyawan dan karyawati secara serentak ketika Lino telah mencapai di pintu.
Lino pun hanya melambaikan tangannya dan memasuki ruangan tersebut sambil mengedarkan pandangannya.
Tidak ada yang aneh ataupun berubah dari ruangan ini. Hingga akhirnya pandangannya tertuju pada seorang gadis yang nampak asing di matanya. Ya, walaupun jarang sekali berada di kantor, tetapi Lino sangat mengenal karyawan dan karyawatinya. Setidaknya dia mengenal wajah para bawahannya, meskipun jarang sekali mengenali nama satu per satu, karena memang hampru semua karyawan di PT LINO adalah orang-orang yang telah mengabdi cukup lama.
__ADS_1
Tentunya, selain gaji yang menggiurkan, untuk bisa masuk dan bergabung dengan PT LINO juga tidaklah mudah. Jadi bisa dipastikan mereka yang telah masuk dan bergabung di perusahaan ini, akan malas untuk keluar dan mencari pekerjaan di tempat lainnya.
“Siapa dia?” tanya Lino kepada Felix, sang manager keuangan.
“Luna Intan Permana. Asistent manager keuangan. Baru bekerja tiga bulan di kantor ini.” ucap Felix menginformasikan karena seingatnya, CV dan surat lamaran dari Luna sudah pernah diberikannya kepada atasannya ini melalui email.
“Panggilkan dia untuk ke ruangan saya sekarang.” ucap Lino sambil meninggalkan ruangan divisi keuangan.
Dan Luna yang mendengar sekilas pun tampak pucat. Ia tidak tahu apa kesalahannya sehingga dirinya harus dipanggil untuk menghadap ke ruangan CEO. Apakah karirnya akan berhenti sampai saat ini? Apakah ini akhir
dari pekerjaannya di tempat ini? Dan masih banyak pikiran lain yang ada di dalam benaknya.
**************
__ADS_1
-Bersambung-