
Hari pertunangan Luna semakin mendekat. Demikian juga hari diadakannya reuni kecil-kecilan yang diprakarsai oleh Enriko dan teman-temannya. Namun hingga kini, Luna belum bisa memutuskan akan menghadiri acara tersebut atau tidak.
Sebenarnya, jika ditanya lebih dalam, tentu sajaLuna sangat ingin menghadiri acara tersebut. Namun rasanya Luna sudah tidak memiliki tenaga ekstra untuk hal-hal seperti itu.
Jadwal Luna belakangan ini mendadak sangat penuh. Bukan hanya di hari kerja, tetap di akhir pekan pun Luna masih harus terus mengurus segala keperluan acara pertunangannya.
Meskipun dibantu oleh tim dari wedding organizer, tetapi seorang Luna tetap ingin memastikan semuanya sendiri dan melihat langsung semua kebutuhannya. Selain itu, ia juga masih harus memastikan hal-hal kecil yang takutnya akan terlupakan.
Dan tantangan untuk dua orang menuju jenjang yang lebih lanjut, bukan hanya perkara acara itu. Banyak sekali cobaan-cobaan yang dihadapi. Dan itulah yang sedang dihadapi oleh Lino dan Luna.
Pertengkaran demi pertengkaran, baik besar ataupun kecil sering kali menghiasi hari-hari mereka. Hingga rasanya Luna ingin menyudahi ini semua. Ia tidak sanggup jika harus terus bersitegang dan membuat otaknya semakin bekerja keras.
Seperti halnya beberapa hari ini. Luna kembali mendiamkan atasannya diluar jam kerja. Dan permasalahannya adalah karena Luna memergoki Lino sedang bersama seorang wanita di sebuah café tanpa memberitahunya. Luna pun bisa memastikan bahwa wanita itu bukanlah client ataupun partner kerja sama mereka. Entah siapa wanita itu.
Luna memang tidak mengkonfrontasi langsung ketika melihat Lino dan wanita itu disebuah café. Bahkan Luna memilih untuk meninggalkan tempat tersebut dengan menitipkan sebuah surat kepada pelayan disana. Namun, untuk mengungkapkan rasa marahnya, Luna pun memilih untuk diam. Bahkan ketika Lino mencoba menjelaskan, Luna tetap terdiam tanpa mau memberikan komentar apapun.
__ADS_1
Tidak hanya itu, ternyata hal kecil pun bisa menjadi masalah. Contohnya adalah masalah pakaian yang akan dikenakan. Setelah proses pemesanan di awal yang seakan lancar tanpa ada kendala, tetiba saja Lino merasa
keberatan ketika Luna mencoba gaun yang akan digunakannya.
Banyak sekali hal yang tidak sesuai menurut laki-laki itu. Padahal, ketika awal memesan, Lino pun menyerahkan semuanya kepada Luna. Bahkan Lino berpesan untuk memesan gaun sesuai dengan apa yang diinginkan dan
diimpikan oleh gadis itu.
Namun ternyata perkataan itu hilang lenyap di hari fitting. Bahkan ketika gaun itu sudah setengah jadi, Lino pun memberikan banyak complain dan meminta banyak perbaikan sesuai dengan pandangannya.
Tentu saja hal itu membuat Luna pun menjadi naik darah. Apalagi ketika argumentasi dari Luna pun seakan ditolak mentah-mentah oleh Lino. Dan akhirnya pertengkaran pun tidak dapat dielakkan lagi.
janji setelahnya. Pastinya setelah ia bisa mendapatkan kesepakatan dengan calon tunangannya itu.
Dan rasanya Luna pun benar-benar membutuhkan yang namanya refresing sejenak. Otaknya terlalu penat untuk mengurus ini semua. Belum lagi pekerjaan yang seakan tidak pernah habisnya.
__ADS_1
Akhirnya, sebelum waktu yang diberikan kemarin, di beberapa hari sebelum acara reuni, Luna pun memilih untuk menghubungi Gera, guna memberikan konfirmasinya.
Luna
Hai, Gera. Aku mau memberikan konfirmasi ke kamu. Aku akan dateng ke acara reuni besok ya. See you, Gera.
Dan tidak membutuhkan waktu lama, Gera pun membalas pesan masuk dari Luna dengan nada yang sangat bahagia karena akan bertemu dengan salah satu kakak angkatan yang menjadi favorit hampir semua mahasiswa
dan mahasiswi kala itu.
+6287254…..
Hai, kak. Terima kasih untuk konfirmasinya. See you, kak. Nanti kalau kakak sudah sampai sana, bisa hubungi Gera lagi ya.
Luna yang membaca pesan dari Gera pun hanya tersenyum tipis dan meletakkan kembali smartphone nya. Luna pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang memang belum selesai dikerjakan. Ya, Luna akhirnya mengirimkan pesan pada Gera di sela-sela kepenatan melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
***********
-Bersambung-