Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 46 – Cuti


__ADS_3

Luna pun segera membuka pintu mobil dengan tangan yang masih bebas. Tidak lupa juga Luna mengibaskan kembali tangan yang digenggam oleh Felix dan segera turun dari mobil tersebut. Dan Luna pun memilih untuk masuk kembali ke dalam pekarangan rumahnya, serta meminta kepada security untuk menutup pintu pagar rapat-rapat tanpa mengijinkan Felix untuk masuk.


Luna pun menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu di rumah Vina. Rasanya lelah berlari dari halaman depan hingga masuk kembali ke dalam rumah dengan penampilannya saat ini. Ya, Luna memang selalu menggunakan


high heels ketika bekerja untuk menunjang penampilannya. Terlebih rok sepan selututnya hari ini sangat menyulitkannya untuk berlari tadi.


Luna pun segera mengambil smartphone yang tadi sempat dimasukkannya ke dalam tas tangan yang selalu dibawanya untuk bekerja. Ia akan mengajukan cuti untuk hari ini. Karena jika pun dipaksakan untuk berangkat sekarang, maka dia juga pasti akan terlambat sampai di rumah atasannya.


Luna pun mengirimkan pesan kepada atasannya untuk meminta cuti hari ini.


Asisten Luna


Maaf, Pak Lino. Hari ini saya mengajukan cuti dadakan. Mohon maaf karena saya meminta ijin terlalu mendadak. Saya akan mengirimkan semua berkas meeting hari ini ke email Bapak segera.


Mungkin memang terlihat agak kurang ajar karena mengajukan cuti dengan mendadak, bahkan Luna juga tidak menyampaikan alasannya. Namun, pada dasarnya Luna juga bingung harus menyampaikan alasan apa. Luna


sendiri sebenarnya juga sangat ingin mengajukan keberatan terhadap supir yang dikirim atasannya itu, tetapi rasanya Luna tidak sedekat itu dengan atasannya sehingga menyampaikan keberatan melalui pesan singkat.


Dan setelah mengirimkan pesan yang sangat singkat, Luna pun memilih untuk mengambil segelas air minum di dapur. Luna sangat ingin melegakan tenggorokannya yang terasa kering terbakar emosinya tadi ketika di mobil.

__ADS_1


“Mbak Luna tumben belum berangkat kerja?” tanya salah satu asisten rumah tangga di rumah Vina ketika melihat Luna yang mengambil air minum di dapur dengan penampilan yang sudah rapi.


“Tadi sudah mau jalan, Tik. Tapi gak jadi, rasanya agak kurang enak badan jadinya saya kerja dari rumah saja.” jawab Luna setelah meneguk airnya.


“Oh gitu, jangan lupa istirahat ya, mbak Luna. Jangan sampai sakit.” jawab asisten rumah tangga yang bernama Tika itu.


Luna dan Vina memang memiliki kedekatan dengan asisten rumah tangga di rumah itu. Mereka tidak membeda-bedakan dan melihat jabatan. Namun, tentunya semua juga harus tahu batasannya sendiri-sendiri. Jadi sangat tidak heran jika asisten rumah tangga di rumah tersebut bisa berbicara dan bercerita kepada majikannya dengan santai.


Dan tidak berapa lama kemudian, smartphone Luna pun berdering, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Luna tahu betul siapa yang mengirimkan pesan tersebut sehingga gadis itu pun segera membukanya.


Bos Lino


Merasa mendapatkan angin segar untuk mengungkapkan keinginannya, Luna pun segera membalas pesan tersebut dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.


Asisten Luna


Supir yang Bapak sebutkan tadi sampai tepat waktu. Terima kasih atas niat baiknya. Namun, mohon maaf, Pak, saya rasa saya tidak membutuhkan supir tersebut. Jadi saya rasa, saya tidak perlu untuk diantar jemput lagi kedepannya. Saya akan berangkat sendiri seperti sebelumnya.


Luna tahu persis bahwa atasannya tidak mengetahui masalahnya dengan supir yang tadi dikirimkan untuk menjemput dirinya. Dan Luna juga tahu bahwa pastinya mantan atasannya itu belum menceritakan apapun kepada

__ADS_1


atasannya saat ini. Jadi, Luna pun akan menutupi masalahnya dengan tidak menceritakan masalahnya.


Luna tidak mau memiliki kesan bahwa dia adalah wanita yang suka menceritakan masalahnya kepada semua orang. Bukan hanya untuk menjaga image nya, Luna juga bukan orang yang bisa dengan mudahnya bercerita


kepada orang lain. Baginya, masalahnya adalah konsumsi dirinya sendiri. Tidak perlu orang lain mengetahuinya. Orang lain hanya perlu tahu bahwa dirinya baik-baik saja.


Mungkin terkesan sangat mustahil. Namun itulah kenyataannya. Dan hingga saat ini, satu-satunya orang yang bisa menjadi tempat curhat Luna hanyalah Vina, sahabatnya. Itupun tentunya setelah melewati proses yang sangat panjang sehingga Luna bisa mempercayakan ceritanya kepada gadis itu.


Dan setelah mengirimkan balasan kepada atasannya, serta setelah memastikan atasannya menerima pesan singkatnya, Luna pun segera mengirimkan email untuk berkas-berkas yang perlu dibawa oleh Lino untuk pertemuan hari ini.


**************


Mungkin dari kalian ada yang menganggap bahwa sikap Luna terlalu berlebihan. Benar? Atau mungkin ada juga yang bilang bahwa Luna gak sopan terhadap atasan. Benar?


Tapi perlu diketahui bahwa kita tidak bisa menjudge orang hanya karena sebagian cerita hidupnya. Jika kalian adalah saksi hidup orang tersebut, mungkin kalian bisa sedikit berkomentar. Tapi ingat, hanya sedikit saja. Karena, kalian tetap tidak akan mengetahui apa yang dirasakannya.


“Never judge someone by the opinion of others.” -Anonymous-


************

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2