Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 72 – Dihubungi Boy


__ADS_3

Hari demi hari penantian Rianti tidak menemukan hasilnya. Hingga akhirnya pada akhir minggu di minggu ketiga, smartphone Rianti pun bergetar menunjukkan adanya pesan yang masuk. Dengan cepat dan tidak sabar,


Rianti pun segera membuka pesan tersebut, terlebih ketika melihat nama yang mengirimkannya pesan.


Senyum Rianti pun mengembang dengan sempurna. Pancaran kebahagiaan tidak dapat ditutupinya lagi. Rasanya jika bisa meloncat tinggi, wanita paruh baya itu akan melakukannya. Namun rasanya tidak mungkin jika ia tidak ingin kakinya kenapa-kenapa.


Rianti pun segera menghubungi nomor yang tadi mengirimkannya pesan. Dengan tidak sabar, Rianti pun terus mengumpat karena panggilan dari dirinya belum juga diangkat. Hingga akhirnya.


“Halo, tante.” jawab Boy di seberang telpon.


Ya, orang yang dihubungi Rianti adalah Boy. Rianti ingin memastikan bahwa foto yang dikirimkan oleh Boy adalah sebuah kebenaran dimana putri semata wayangnya telah ditemukan. Dan hal ini juga berarti dia akan hidup bergelimangan harta kembali karena setelah Luna berada di tangannya, Rianti akan menukarkannya dengan keuangan yang lebih baik.

__ADS_1


“Kamu sudah menemukannya?” tanya Rianti tidak sabar.


“Sesuai dengan foto yang saya berikan, tante. Dan bisa saya pastikan bahwa itu bukan editan karena saya sendirilah yang mengambil gambar tersebut dari smartphone saya.” ucap Boy dengan keyakinan penuh.


Sebenarnya hanya kebetulan Boy menemukan Luna. Karena selama hampir tiga minggu ini, Boy tidak mendapatkan tanda-tanda apapun, baik dari Felix yang telah diikutinya beberapa hari ataupun dari PT LINO yang


menjadi satu-satunya tempat menunggu Boy beberapa hari ini. Namun hari itu, sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Hari itu, Lino dan Luna memutuskan untuk datang ke kantor pusat guna memeriksa semua pekerjaan yang ada di kantor. Dan dari situlah Boy mengikuti semua gerakan Luna selama beberapa hari. Bahkan kini, Boy bisa mengetahui jadwal Luna.


“Tante tenang saja. Karena saya sudah tahu dimana Luna tinggal dan apa saja kegiatannya sehari-hari. Bahkan jam berapa dia biasa pergi bekerja dan pulang, saya juga mengetahuinya. Jadi rasanya menculik dirinya akan sangat mudah.” ucap Boy penuh percaya diri.


“Saya serahkan semua padamu, Boy. Waktu saya sudah tidak banyak lagi. Paling lambat, minggu depan, anak itu sudah harus berada di rumah ini.” ucap Rianti kembali sambil memutuskan sambungan telpon dengan Boy.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa melukiskan kebahagiaan Rianti hari ini. Anak gadisnya telah ditemukan, bahkan hanya dalam waktu tiga minggu. Rasanya tidak sia-sia semua penantiannya selama ini. Jika dilihat sekilas, rasanya orang akan melihat seorang ibu yang sangat merindukan anaknya. Namun, jika ditelisik lebih dalam, pastinya orang akan mengutuk perbuatan Rianti yang akan dilakukan kepada anaknya.


Anak yang dilahirkannya sendiri. Anak yang keluar dari rahimnya. Bahkan katanya anak yang dinantikannya itu akan ditukar dengan sejumlah uang setiap bulannya agar dirinya mendapatkan kehiduapn sosialita seperti dahulu ketika Luna masih berada bersamanya.


Sungguh keterlaluan bukan? Namun itulah kenyataan pahit yang harus diterima oleh Luna. Memiliki seorang ibu yang tidak pernah menganggap dirinya sebagai manusia dan anak, tetapi hanya menganggapnya sebagai mesin pencetak uang. Dan setelah Luna pergi meninggalkan rumah tersebut karena diusir olehnya, Rianti tetap mencari cara agar Luna bisa memberikannya uang yang cukup banyak agar wanita paruh baya itu tidak perlu bersusah ria


mengumpulkan pundi-pundi yang tidak pernah cukup membiayai gaya hidupnya.


**************


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2