
“Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa. Tadi sebenarnya aku pengen nyusulin kamu. Tapi aku takut kalau-kalau ternyata dia mau berbuat sesuatu ke kamu tapi gak jadi karena ada aku. Jadi aku memilih untuk bersembunyi sehingga jika dia berbuat jahat, kita bisa menangkapnya dan menjebloskannya kembali ke penjara.” kata Lino dengan santai.
Luna pun memilih untuk meninggalkan Lino dengan perasaan yang semakin campur aduk. Ingin marah tapi sedikit banyak yang dikatakan Lino itu benar. Tetapi ia juga sangat tidak suka dan perkataan kekasihnya itu sangat menyinggungnya.
Yah, mungkin inilah yang dinamakan darah lebih kental daripada air. Jadi mau bagaimana pun kita marah dan benci pada keluarga kita, tetapi kita tidak akan rela jika ada yang menjelekkan atau hendak berbuat jahat kepada keluarga kita sendiri.
Luna pun memasuki ruangannya dan menutup pintu ruangan tersebut dengan sangat keras sehingga menimbulkan kekagetan tersendiri bagi Lino yang masih terdiam di tempatnya itu.
Lino pun lantas menyusul kekasihnya itu walaupun sebenarnya ia tidak tahu apa yang membuat Luna terlihat marah hingga menutup pintu dengan keras seperti itu.
“Hai, ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sangat marah? Apakah aku ada salah bicara?” tanya Lino setelah menyusul Luna memasuki ruangannya. Lino memang laki-laki, tetapi ia sangat tahu ketika kekasihnya itu
sedang dalam emosi yang cukup tinggi seperti saat ini.
Meskipun Lino sebagai lelaki sering dikatakan tidak peka terhadap perasaan perempuan, tetapi apabila melihat kemarahan yang terlihat jelas di depan mata, tidak mungkin ia tidak mengetahuinya. Namun, mungkin apa yang menyebabkan kemarahan itu biasanya ia tidak mengetahuinya.
Mendengar pertanyaan Lino, Luna pun hanya bisa menghela nafasnya dan memalingkan wajahnya kembali menghadap layar monitor yang telah menampilkan pekerjaan yang menunggunya.
__ADS_1
“Hai.. Sayang, aku tidak bisa membaca pikiran kamu lho.” ucap Lino kembali seraya duduk di kursi yang ada di hadapan kekasihnya itu.
“Kalau kamu memang tidak merasa bersalah. Ya sudah. Tidak perlu membahasnya. Silahkan keluar dan aku mau kembali bekerja.” ucap Luna dengan nada sinis yang mengisyaratkan bahwa ia malas membahasnya.
“Oke, sorry kalau aku ada salah. Tapi yang jelas aku tidak tahu dimana letak kesalahanku.” ucap Lino kembali.
Yah, mungkin begitulah kebanyakan kaum lelaki. Tanpa sadar melakukan kesalahan tetapi dengan mudahnya meminta maaf tanpa mengetahui letak kesalahan pastinya. Dan dengan demikian, mereka akan mengulang kesalahan yang sama, serta kejadian pun akan terus berulang.
“Gak perlu minta maaf kalau memang gak tau salahnya. Anda kan memang Tuan selalu benar, bukan?” sindir Luna. Sebenarnya, gadis ini tidak mengharapkan permintaan maaf dari kekasihnya seperti saat ini. Terlebih
“Lalu apa mau kamu, Luna Intan Permana?” ucap Lino yang mulai geram dengan setiap balasan dari Luna.
“Cukup tinggalkan ruangan ini. Aku harus kembali bekerja karena pekerjaan telah menanti untuk diselesaikan. Dan tidak perlu bicara sebelum kamu mengetahui apa kesalahanmu sendiri.” ucap Luna kembali dengan tegas dan mata yang tertuju pada monitor di hadapannya tanpa menatap kekasihnya itu.
“Oke, kalau itu mau kamu. Tapi aku tegaskan satu hal. Disini, aku tidak memiliki kesalahan apapun. Mulai dari semua tindakan dan ucapanku adalah sebuah kebenaran. Jadi rasanya, aku tidak perlu mengoreksi
diriku untuk mengetahui dimana letak kesalahanku sehingga membuatmu semarah ini.” kata Lino mengakhiri pembicaraannya dan meninggalkan ruangan dimana kekasihnya berada.
__ADS_1
Dan setelah pintu ruangannya tertutup dengan rapat, Luna pun mua=lai mengangkat wajahnya. Mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang sejak tadi menjadi fokusnya.
Ia pun mulai merenungkan kata demi kata yang dikeluarkan oleh kekasihnya itu. Tidak menampik bahwa apa yang dikatakan Lino benar adanya. Dan bagaimana pun juga, yang dilakukan oleh kekasihnya itu juga untuk keselamatannya. Namun, sedikit ada perasaan tercubit di hatinya mengingat bahwa yang mengancam keselamatannya itu adalah keluarganya sendiri.
Rasa marah dan jengkel yang sejak tadi Luna rasakan pun sedikit demi sedikit menjadi berkurang. Kini, perasaan marah itu pun berubah menjadi perasaan bersalah kepada kekasihnya yang selama ini berusaha untuk terus menjaganya. Namun untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf saat ini juga, Luna masih terlalu gengsi melakukannya.
Mungkinkah nantinya Luna akan meminta maaf terlebih dahulu dan membicarakan apa yang dikatakan Jordan kepadanya? Dan apakah Luna akan menyetujui permintaan Jordan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, terutama Rianti yang katanya sedang sakit parah itu?
**********
Jangan lupa like, komen, share, dan vote ya
Makasih
**********
-Bersambung-
__ADS_1