
Sepeninggal Enriko dari ruangan Luna, Lino pun memasuki ruangan tersebut. Entah ada angin apa hingga akhirnya sang atasan yang biasanya memanggil melalui sambungan telpon sampai langsung datang ke ruangan asisten pribadinya.
“Sudah selesai?” tanya Lino setelah membuka pintu dan melihat Luna sedang membereskan berkas-berkas yang akan digunakan esok hari. Lino memang tahu bahwa Luna akan selalu mempersiapkan semuanya pada sehari sebelumnya. Oleh karena itu, ketika bekerja di luar kantor, Luna lebih sering pulang terlambat dari rumah Lino. Dan karena hal itu juga Luna semakin menyukai cara kerja Luna.
Luna yang sedang fokus dengan pekerjaannya pun sedikit terkejut. Namun ketika melihat yang membuka pintu ruangannya adalah atasannya, ada sedikit perasaan lega di hatinya.
“Hampir selesai, Pak.” ucap Luna setelah menetralkan keterkejutannya.
“Saya tunggu di parkiran. Mobil kamu tinggalkan saja malam ini disini. Kita akan ke rumah Bunda.” ucap Lino kembali memberikan perintah dan berlalu dari ruangan tersebut. Lino memang orang yang lebih senang
menunggu di ruangan lain, terlebih ketika orang yang ditunggu itu sedang melakukan pekerjaannya. Menurutnya, jika ia menunggu di ruang yang sama, maka pekerjaan orang tersebut akan terganggu. Dan hal tersebut akan berdampak dengan semakin lamanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Oya, Lino juga memperlakukan hal tersebut untuk dirinya sendiri. Ia sangat tidak senang jika diganggu ketika sedang melakukan pekerjaan. Oleh karena itu, jika ada orang yang menunggunya, maka ia akan meminta orang tersebut menunggunya di ruang meeting, café seberang kantor, ataupun tempat lainnya.
Luna pun segera mepercepat apa yang sedang dikerjakannya. Ia sangat tahu bahwa Bunda Nadia memiliki jam yang tepat. Jadi jam makan malam pun harus tepat. Sedangkan perjalanan menuju rumah Bunda Nadia biasanya membutuhkan waktu cukup lama karena macet. Oleh karena itu ia tidak bisa membuang banyak waktu.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Luna dan Lino pun bisa berangkat menuju rumah Bunda Nadia.
Sesampainya di rumah Bunda Nadia, Luna dan Lino pun disambut oleh asisten rumah tangga disana. Dan kedatangan mereka tepat dengan jam makan malam. Oleh karena itu, Bunda Nadia telah berada di meja makan. Jadi, Luna dan Lino pun langsung menuju meja makan untuk menikmati hidangan tersebut.
Setelah selesai makan, Lino pun membawa Bunda Nadia dan Luna ke ruang tengah. Meskipun memang sudah menjadi tradisi disana bahwa setelah makan, semua anggota keluarga akan berkumpul dan bercerita satu sama
lain, tetapi hari ini sikap Lino cukup berbeda. Seakan ada hal penting yang ingin diucapkannya.
“Bun, Lino sudah memutuskan. Lino mau segera menikah dengan Luna. Untuk tanggal dan semuanya, Lino akan menyerahkan semuanya kepada Bunda dan Luna. Lino akan mengikutinya.” ucap Lino setelah semuanya duduk
Tentu saja keputusan Lino ini membuat kebahagiaan tersendiri bagi Bunda Nadia. Karena memang ini adalah salah satu hal yang telah lama dinantikannya. Namun berbeda dengan Luna. Gadis ini seakan tidak bisa berkata
apa-apa. Ia sangat terkejut dengan keputusan Lino yang tidak dibicarakan dengannya terlebih dahulu.
“Tapi..” ucap Luna yang terputus karena Lino memotong pembicaraannya.
__ADS_1
“Setelahnya, kamu masih bisa bekerja, Lun. Kita akan bekerja sama, baik di perusahaan ataupun dalam rumah tangga kita. Kita akan menjadi kolaborasi yang solid dimanapun berada.” ucap Lino memotong pembicaraan
gadis itu dan berusaha meyakinkan Luna.
“Tapi..” ucap Luna kembali dan lagi-lagi terputus. Kali ini karena Bunda Nadia menyela perkataan gadis itu.
“Tapi kamu tetap harus memprioritaskan suamimu ya, sayang. Dan ingat, berikan Bunda cucu yang banyak setelah itu. Pastikan juga kalian tidak menundanya ya.” ucap Bunda Nadia dengan sorot mata yang sangat bahagia. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Luna.
Luna pun hanya bisa menelan ludahnya. Ia tahu bahwa Bunda Nadia sangat menyayanginya. Dan Lino pun telah banyak berkorban untuknya, termasuk menyelamatkannya dari kedua orang tuanya sendiri, beserta pernikahannya dengan Felix.
Namun, Luna tidak bisa membohongi perasaannya bahwa ada ketakutan tersendiri dalam hatinya saat ini. Ia sangat takut laki-laki di hadapannya akan berubah setelah pernikahan nanti. Ia tidak ingin pengalaman di dalam keluarganya terulang di dalam keluarga kecilnya nanti.
Tapi kali ini, keputusan Lino sepertinya sudah tidak dapat ditentang. Namun, nanti Luna akan mencoba untuk bernegosiasi dengan atasannya itu karena itu juga menyangkut hidupnya.
*************
__ADS_1
-Bersambung-