
Hari berlalu dengan sangat cepat. Tanpa terasa, sore hari pun tiba. Mentari pun mulai turun dari peraduannya, menyisakan warna jingga yang menghiasi cakrawala. Luna pun berpamitan untuk pulang ke kediamannya.
“Bunda, Luna pulang dulu ya. Sudah sore. Besok Luna masih harus kembali bekerja.” ucap Luna berpamitan kepada Bunda Nadia.
“Terima kasih Luna mau menemani Bunda hari ini. Sering-seringlah datang kemari.” jawab Bunda Nadia sembari mengantarkan Luna hingga ke pintu rumah.
Luna pun kembali ke kediaman Vina dengan diantarkan oleh Lino. Meskipun Luna sempat menolak keinginan Lino untuk mengantarkannya pulang, tetapi perkataan dari Bunda Nadia membuatnya menerima tawaran Lino. Dan
kini, Luna bersama dengan Lino dalam satu mobil yang akan membawa gadis itu kembali ke kediamannya.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil tersebut. Bukan karena tidak ada bahan untuk dibicarakan, tetapi lebih karena kedua individu ini yang terlalu menunggu satu sama lainnya. Luna menunggu Lino untuk membuka
pembicaraan, dan Lino pun sebaliknya. Dan oleh karena hal itu, kini hanya hati merekalah yang berbicara.
“Terima kasih.” ucap Luna ketika telah tiba di depan rumah yang ditinggalinya. Dan Lino pun hanya menggangukan kepalanya untuk menjawab perkataan Luna.
Luna pun masuk ke dalam rumah untuk mempersiapkan dirinya agar dapat cepat beristirahat sekaligus mempersiapkan pekerjaan yang akan besok dilakukannya.
__ADS_1
************
Pagi Hari – Rumah Lino
“No, bangun!” ucap sebuah suara yang sangat keras sambil menggedor pintu kamarnya.
Lino yang masih terbua di alam mimpi pun harus ditarik paksa ke dunia nyata mendengar betapa bersiknya gedoran yang ada di balik pintu kamarnya. Dan dengan kepala yang sedikit berat, serta mata yang masih ingin terpejam, Lino pun memaksakan tubuhnya untuk bangun dari peraduannya.
Lino pun membuka pintu kamarnya tanpa bertanya lebih dahulu siapa yang berani membangunkannya. Dan setelah pintu terbuka..
PRAKK..
“Apa-apan itu, No? Elu tahu kalau gw sedang dalam proses menaklukan Luna. Dan elu nikung gue.” ucap laki-laki yang melemparkan amplop tersebut.
Lino yang masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan itu pun hanya bisa membuka amplop yang ada di tangannya dan mengeluarkan semua isinya. Dan disinilah Lino mulai paham tentang apa yang dibicarakan oleh Felix pagi-pagi buta seperti sekarang.
“Elu membawa Luna ke acara makan malam bersama kolega. Bahkan elu mengajak Luna untuk menginap di rumah Bunda. Apa sebenarnya maksud lu?” tanya Felix berapi-api.
__ADS_1
Lino yang masih melihat-lihat foto itu bingung antara harus senang dengan foto yang dilihatnya, karena sangat nyata terlihat kedekatan antara dirinya, Luna, dan Bunda Nadia. Namun disisi lain, Lino juga bingung bagaimana bisa Felix mendapatkan foto-foto tersebut. Dan kini, Lino juga bingung bagaimana harus menjelaskan kepada sahabatnya itu tentang foto yang diterimanya.
“Kenapa? Bukannya Luna asisten pribadi gue? Wajar dong dia ikut dalam acara itu?” kata Lino membalikkan pertanyaan kepada Felix. Dan Lino pun bisa bernafas lega karena akhirnya bisa mendapatkan alasan yang
cukup tepat untuk diberikan kepada Felix.
Felix yang mendengar ucapan Lino pun hanya terdiam. Namun, dalam hatinya, dia masih memiliki kecurigaan akan kedekatan antara Lino dan Luna. Bahkan dengan jelas dalam foto-foto tersebut, bahwa Luna menggandeng
lengan Lino dengan sangat mesra. Dan terdapat juga foto dimana Bunda Nadia terlihat tersenyum sambil memandang ke arah Lino dan Luna.
Meskipun sebuah persepsi bisa saja salah hanya dengan beberapa foto, namun feeling seseorang biasanya akan lebih kuat. Dan disini, feeling Felix mengatakan bahwa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Lino perihal hubungannya dengan Luna.
************
Kira-kira, darimana ya Felix bisa dapat foto-foto Lino dan Luna? Ada yang bisa menebaknnya?
Yuk jangan lupa tinggalkan jejak disini. Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya.
__ADS_1
***********
-Bersambung-