Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 149 – Pembicaraan Pernikahan


__ADS_3

Tidak ingin membuang waktu lagi, Retha pun mengajak kedua orang tua nya untuk mengunjungi rumah Bunda Nadia. Retha memang tidak memberitahukan alasan sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Ia hanya berkata


untuk beramah tamah karena dahulu mereka cukup dekat.


Orang tua Retha pun menyetujuinya. Mereka juga sudah lama sekali tidak bertemu dengan Bunda Nadia. Lebih tepatnya setelah pembatalan perjodohan antara Retha dan Lino.


Memang orang tua Retha yang menjauh. Mereka cukup kecewa dengan keputusan dari wanita paruh baya itu. Namun, mereka tetap menghormati keputusan tersebut karena memang kebahagiaan anak pasti yang akan


diutamakan oleh orang tuanya. Dan jodoh atau tidak, memang semestinya bukan mereka yang mengatur.


Dan sore selepas kerja itu pun, mereka akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kediaman Bunda Nadia.


Tok..tok..tok..


Pintu kediaman Bunda Nadia pun diketuk sore menjelang malam itu.


Seorang asisten rumah tangga pun segera membukakan pintu. Ia pun mengenali kedatangan Retha dan kedua orang tuanya. Oleh karena itu, asistent rumah tangga itu pun mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruangan yang telah disediakan untuk menerima tamu. Tak lupa juga, ia memberitahukan kepada sang pemilik rumah.


“Wah, kejutan sekali aku kedatangan kalian.” ucap Bunda Nadia memberikan salam kepada ketiga tamunya setelah memasuki ruang tamu di rumah megah miliknya.


“Maaf kami datang tanpa memberi kabar, Jeung. Kita juga diajakin sama anak ini, katanya sudah lama gak kesini.” kata Cerelia membalas sapaan Bunda Nadia sambil berdiri dari posisi duduknya dan mencium kedua pipi Bunda Nadia sebagai salam.

__ADS_1


“Silahkan duduk.” kata Bunda Nadia kembali mempersilahkan ketiga tamunya untuk duduk kembali karena memang ketiganya berdiri setelah melihat kedatangan sang pemilik rumah.


Mereka pun kembali duduk di kursi mewah yang telah disediakan di ruang itu. Ya, Bunda Nadia memang mendesign ruang tamu keluarganya dengan sangat nyaman. Kursi sofa besar yang bisa muat banyak orang


beserta meja yang sangat mewah dengan kerang-kerang dibawa kacanya. Sungguh sangat menyenangkan dan nyaman pastinya berada disana, meskipun hanya sebatas ruang tamu.


“Jadi apakah ada hal penting? Atau kalian merindukanku?” tanya Bunda Nadia.


Sebenarnya, Bunda Nadia mencium ada hal yang tidak beres. Karena keluarga Kusuma ini terkenal sangat jarang beramah tamah dengan orang lain. Bagi mereka bisnis adalah nomor satu. Meskipun usahanya belum sesukses PT Lino, tetapi mereka cukup berusaha keras untuk memajukan semua bidang usahanya.


Mendapati pertanyaan dari Bunda Nadia, ketiga orang itu pun saling pandang. Lebih tepatnya, kedua orang tua Retha memandang langsung ke arah anaknya itu. Mereka pun meminta jawaban atas ajakannya mengunjungi rumah ini.


sangat indah, mengingat dia akan membicarakan soal pernikahannya.


“Katakanlah, sayang.” kata Bunda Nadia.


Bagaikan mendapatkan lampu hijau, Retha pun semakin mengembangkan senyumnya. Karena inilah saatnya ia mempertahankan posisinya dan memastikan kedudukannya disisi seorang Lino Damaresh.


“Lino dan Retha sudah sepakat untuk menikah, Bunda. Lebih tepatnya di hari pertunangan Lino. Anak Bunda sudah menyetujui untuk mengganti acara pertunangannya dengan acara pernikahan kami.” jelas Retha dengan kebahagiaan yang tidak dapat ditutupinya lagi.


Perkataan Retha, tenttu saja membuat Bunda Nadia terkejut. Ia sungguh tidak tahu bahwa rencana awal yang telah mereka susun berubah. Dan jika acara itu diganti dengan pernikahan Lino dengan Retha, bagaimana dengan Luna?

__ADS_1


“Aku harap Bunda merestui kami ya. Dan aku mengajak kedua orang tuaku kesini untuk membicarakan tentang acara tersebut.” lanjut Retha masih dengan senyum yang merekah di wajahnya.


“Retha, kenapa kamu tidak bicarakan dulu dengan kami?” ucap Yoris, sang papa tak kalah terkejutnya dengan Bunda Nadia dan baru bisa mengeluarkan kata-katanya setelah bisa menenagkan dirinya.


“Kejutan, Pa. Karena aku dan Lino juga baru merencanakannya beberapa hari lalu.” jujur Retha tanpa bisa menyembunyikannya lagi.


“Maaf, Retha. Tapi semua sudah dikerjakan dan sudah disepakati. Mulai dari acara, dekor, tempat, dan lainnya. Dan acara itu hanya tinggal hitungan hari, jadi tidak mungkin dirubah lagi.” ucap Bunda Nadia memberikan


pengertian. Jadi jika memang Retha ingin melanjutkan acara pernikahannya dengan Lino, maka harus dengan konsep yang sudah ada.


“Tidak masalah, Bunda. Besok Bunda bisa temani Retha untuk fitting gaunnya? Saya rasa ukuran badan saya dan calon tunangan Lino yang gagal itu hampir sama. Jadi tidak masalah menggunakan gaun miliknya.” kata Retha kembali.


Permintaan Retha pun disetujui oleh Bunda Nadia. Dan mereka pun terus membicarakan tentang acara demi acara yang akan diselenggarakan beberapa hari kemudian itu. Karena memang semestinya kedua orang tua harus terlibat dalam sebuah pernikahan dari anaknya bukan?


***********


-Bersambung-


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN SHARE YA, KAWAN-KAWAN


TERIMA KASIH SEBELUMNYA

__ADS_1


__ADS_2