
Sesuai rencana yang telah dibuat, kini Rianti, Jordan, dan Surya pun mulai bergerak cepat untuk meluluhkan hati Luna. Selain karena waktu yang diberikan oleh Retha sudah tidaklah banyak, mereka juga sudah mulai kehabisan uang dan uang yang diberikan oleh Retha selalu dibatasi oleh nona muda itu.
Sebagai langkah pertama, Jordan pun menyamar sebagai penyapu jalan di dekat kantor Luna. Disini, dia akan mulai mempengaruhi Luna sedikit demi sedikit untuk membukakan pintu maaf dan hatinya kembali untuk
keluarganya. Jordan pun akan mencoba mengemis maaf dari adiknya itu untuk semua tindakan yang pernah dilakukan.
Dan inilah hari pertama Jordan menyamar sebagai penyapu jalan disana. Namun sayangnya, hari ini Jordan tidak dapat mendekati adiknya tersebut karena Luna selalu bersama dengan Lino. Tidak hanya ketika datang ke
kantor, tetapi juga waktu pulang. Jordan pun harus bersadar untuk bisa mendekati sang adik.
Hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima pun masih dengan kejadian yang sama. Entah kenapa Lino seakan memperketat pengawasan terhadap Luna. Gadis itu seakan tidak dibiarkan berkeliaran sendiri tanpa
pengawasannya. Oleh karena itu, hingga hari kelima ini, Jordan masih sangat sulit mendekati Luna.
Minggu pun berganti. Senin kembali datang untuk menyambut para manusia melakukan aktivitasnya kembali. Dan disinilah Jordan kembali menunggu Luna dengan menyamar sebagai penyapu jalan. Namun lagi-lagi jalannya tidaklah mulus. Hari keenam ini pun, ia masih gagal mendekati adiknya.
Hingga akhirnya penantian Jordan pun terhenti di hari kesepuluh karena di hari itu, ia mendapatkan kesempatan untuk mendekati Luna pada siang hari.
*******
__ADS_1
Hari Kesepuluh – Siang Hari, Jam Makan Siang
“Lun. Tunggu!” teriak seseorang ketika Luna berjalan keluar gedung kantor tempat dimana dirinya bekerja untuk menuju salah satu restaurant yang sangat ia ingin datangi. Entah kenapa, belakangan ini dia sangat ingin makan mie di restaurant tersebut. Menurutnya, rasanya sangat nikamt. Bumbunya meresap dengan daging yang sangat lembut.
*(kenapa malah jadi ngomongin makanan sih? Skip..skip.. soal makanannya. Kembali ke Luna lagi.)
Luna pun menoleh, mencari arah suara yang memanggilnya itu. Karena seingatnya, ia tidak sedang memiliki janji dengan siapapun. Lino pun yang biasa makan siang bersama dengan dirinya sedang sibuk sehingga tidak bisa menemaninya kali ini.
Dan betapa terkejutnya Luna ketika mengetahui siapa yang memanggil. Ingin berlari, tetapi tangan orang yang memanggilnya itu pun telah mencekal pergelangan tangan Luna sehingga ia tidak bisa berlalu.
“Tunggu. Aku cuma mau bicara sebentar.” ucap Jordan yang ternyata adalah orang yang memanggil Luna tersebut.
“Lepas! Atau aku teriak.” ucap Luna mengancam karena ia tidak bisa melepaskan pergelangan tangannya yang dicekal oleh Jordan dengan sangat kuat.
Luna pun akhirnya menganggukan kepalanya dan mengajak Jordan menuju salah satu café yang memang berada disana.
“Waktu kakak hanya sepuluh menit tidak lebih. Dan waktunya sudah aku mulai.” ucap Luna dengan nada suara datar dan tatapan dingin yang entah ia dapatkan darimana. Meskipun demikian, sebenarnya Luna sangat
ketakutan menghadapi Jordan. Karena ia tahu bahwa kakaknya bisa melakukan berbagai kejahatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
__ADS_1
Oleh karena itu, tanpa sepengathuan Jordan, Luna pun mengirimkan lokasinya kepada Lino. Dan ia pun mengirimkan rekaman suara ketika ia berbicara pada kakaknya itu. Harapannya, Lino paham bahwa dirinya sedang berada dengan siapa sehingga jika terjadi sesuatu kepadanya, lelakinya itu akan mudah untuk mencarinya.
“Ibu sakit. Dia selalu nyebut nama kamu. Aku gak minta banyak tapi aku harap kamu mau datang untuk menjenguk ibu.” ucap Jordan memulai pembicaraannya.
Dan setelah mengucapkan itu, Jordan pun terdiam sesaat. Mengambil nafas yang dalam dan menghembuskannya dengan berat.
“Aku tahu kesalahan kami sangat fatal. Tapi maafkanlah kami. Kamu tahu bahwa kami adalah keluargamu. Bagaimanapun juga, kita memiliki darah yang sama. Mau atau tidak mau, kamu tidak bisa menolak kenyataan itu. Dan tanpa ayah ibu, kamu tidak akan ada disini.” lanjut Jordan.
“Aku sudah selesai bicara. Untuk terakhir kalinya, aku harap kamu mau menyetujui permintaanku. Dan jika kamu mau menjenguk ibu, bicaralah padaku karena setiap hari aku bekerja sebagai penyapu jalan disini. Aku bekerja untuk kesembuhan ibu karena sekarang aku sadar bahwa keluarga adalah hal yang terpenting untukku. Aku pergi.” kata Jordan mengakhiri pembicaraannya dan berlalu dari tempat tersebut.
**********
Terima kasih buat kalian yang telah membaca part ini.
Semoga kalian suka.
Jangan lupa dukung Mith dengan kasi like, komen, love, dan vote ya.
I**nget, komen yang positif dan membangun ya. Kritik juga tidak masalah. Tetapi untuk komen negatif dan menjatuhkan, jauh-jauh saja.**
__ADS_1
***********
-Bersambung-