Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 111 – Curhat


__ADS_3

Hari demi hari pun berlalu. Sejak saat itu, Luna pun mencoba menghindari Lino sebisa mungkin. Dan beruntungnya, status mereka adalah atasan dan asisten pribadi. Sehingga dengan mudahnya Luna mengelak dari setiap


pembicaraan yang bersifat pribadi.


Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana semua orang bersantai dari segala kegiatannya. Hari dimana keluarga-keluarga berkumpul, para pasangan pun bercengkrama, dan para jomblo meratapi nasibnya.


Bagi Luna, hari Minggu adalah hari untuk mencurahkan isi hatinya bersama Vina, sang sahabat. Dan disinilah mereka saat ini. Di salah satu sudut sebuah café yang cukup terkenal di daerah dekat rumah Vina. Salah satu café yang terkenal cukup instagramable dan dessert-dessert yang sangat menarik, serta memiliki rasa yang sangat nikmat.


“Jadi gimana?” tanya Vina kepada sahabat yang ada di depannya. Sebenarnya, Vina selama ini tahu semua permasalahan sahabatnya. Meskipun Luna hanya irit berbicara, tetapi gosip tetaplah gosip yang bisa sampai ke telinga Vina.


Selain itu, melihat semua perhatian Lino terhadap Luna, menunjukkan bahwa ada hubungan yang lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Lino bahkan tidak segan untuk menjemput dan mengantar Luna hanya agar


tetap berada di dalam pengawasannya dan tidak terjadi hal-hal seperti beberapa waktu lalu.


“Apanya?” tanya Luna dengan bingung sambil terus menikmati fettucini karbonara kesukaannya.

__ADS_1


“Hubunganmu dengan atasanmu. Tentang rencana pernikahan kalian.” ucap Vina dengan santainya. Ia tahu bahwa Lino telah membicarakan pernikahan dengan Luna, tentunya dari gadis yang berada di hadapannya itu. Namun, beberapa waktu lalu memang Luna hanya sempat bercerita seklias saja karena saat itu Vina sedang disibukkan dengan syuting dan bisnisnya yang mulai berkembang.


“Aku masih dengan pendirianku. Kamu tahu semua alasanku.” ucap Luna menjawab pertanyaan dari sahabatnya. Ya, Vina memang selama ini yang paling mengetahui tentang perjalanan hidup dari gadis yang saat ini masih duduk dihadapannya dan masih disibukkan dengan makanan, serta minuman yang menjadi kesukaannya itu.


“Menurutku, tidak ada salahnya mencoba menjalaninya. Mungkin kamu bisa mengajukan untuk berpacaran dahulu atau mungkin bertunangan. Tetapi bukan dalam kontrak. Gunakan hatimu, Lun.” kata Vina mencoba memberikan


saran. Sejujurnya, sebagai sahabat, Vina tidak ingin Luna terus berlarut dalam kenangan masa lalunya. Karena hidup itu akan terus berjalan maju, bukan berjalan mundur.


“Entahlah, Vin. Aku terlalu takut untuk melangkah maju jika berhubungan dengan lawan jenis. Kamu tahu begitu banyak kenangan burukku tentang lawan jenis, termasuk kenangan buruk dengan Jordan.” ucap Luna sambil mengaduk milkshake yang menjadi pendampingh fettucini karbonaranya.


“Namun sejujurnya aku pun merasakan ketulusan dari Lino, Vin. Terutama Bunda Nadia. Ada di antara mereka itu membuat aku merasa nyaman, seperti berada dalam rumah sendiri.” ucap Luna tiba-tiba setelah mereka terdiam cukup lama.


Vina yang kala itu sedang menikmati makanannya pun cukup tidak terkejut dengan perkataan Luna. Ia juga tahu bahwa Luna adalah sosok yang sangat merindukan sebuah keluarga yang hangat, yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri. Oleh karena itu, mendengar tentang kasih sayang dari orang tua Lino, Vina pun yakin bahwa sahabatnya akan bahagia ketika masuk ke keluarga tersebut.


“Rasanya Bunda menerima aku apa adanya, tanpa memandang status aku yang hanya sebagai bawahan disana. Bunda gak pernah memandang rendah aku, Vin. Bahkan ketika Lino mengatakan akan menikah dan menyerahkan semuanya kepada Bunda, aku bisa melihat pancaran kebahagiaan dimata Bunda.” ucap Luna kembali sambil mengenang malam pada saat Lino memutuskan untuk menikah dengannya.

__ADS_1


“Jadi apa masalahnya, Lun? Mereka menerima kamu apa adanya. Dan aku yakin kamu akan bahagia disana.” ucap Vina mencoba ‘menyadarkan’ sahabatnya untuk meraih kebahagiaannya sendiri.


Luna yang mendengar pertanyaan Vina pun hanya bisa terdiam. Entah apa yang dirasakan oleh gadis itu sehingga ia merasa tidak yakin pada dirinya sendiri dan pada laki-laki yang akan meminangnya. Ia seakan takut mengecewakan Lino. Tetapi disamping itu, ia juga takut jika Lino pada akhirnya bukanlah laki-laki yang tepat untuknya.


Namun, setiap orang memang seringkali memiliki perasaan tidak yakin dengan pasangannya, bukan? Hampir tidak ada pasangan yang akan yakin 100% karena kita masing-masing tidak mengetahui tentang masa depan.


“Entahlah, Vin. Tapi aku tidak yakin untuk bahagia. Selama ini bahkan aku hanya menjalani hari demi hari tanpa sebuah kebahagiaan, bukan? Rasanya kebahagiaan tidak pernah mau mampir ke hidupku.” ucap Luna


mencoba menjawab pertanyaan Vina.


“Pandanganku masih sama, Lun. Dan pendapatku pun masih sama. Kamu bisa mencobanya terlebih dahulu. tiga bulan mungkin? Atau enam bulan? Cobalah meminta waktu dan berhubunganlah dengan atasanmu itu tanpa


sebuah surat perjanjian. Jadilah pasangan yang sesungguhnya agar kamu tahu dan lebih mengenalnya.” ucap Vina kembali memberikan pendapatnya kepada Luna.


*************

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2