Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 67 – Bertemu Luna


__ADS_3

Felix pun memilih untuk melangkahkan kakinya keluar dari kamar Lino. Ia tahu bahwa ucapan Lino tidak dapat dibantah lagi. Lino bisa saja memecatnya saat ini juga dan memblacklist dirinya dari semua perusahaan. Meskipun Lino bukan orang terkaya dan paling berpengaruh, tetapi dia cukup memiliki pengaruh di antara koleganya.


Namun, ketika Felix hendak membuka pintu terakhir yang akan membawanya keluar, pintu tersebut pun terbuka. Dan betapa terkejutnya Felix karena yang membuka pintu tersebut adalah Luna, gadis yang beberapa saat lalu menjadi perdebatan antara dirinya dan Lino.


Luna sendiri yang tidak menyangka bahwa Felix sedang berada di rumah atasannya pun menjadi terkejut. Tidak biasanya Felix berada di rumah atasannya, terlebih dengan waktu yang relative masih sangat pagi seperti


sekarang ini.


“Selamat pagi, pak Felix.” ucap Luna memberikan salam. Mau bagaimanapun juga, laki-laki itu adalah mantan atasannya. Jadi tidak mungkin Luna pura-pura tidak mengenalnya. Terlebih karena ini adalah rumah Lino, dimana semua penghuninya mengetahui bahwa Luna pernah pulang bersama dengan Felix.


“Selamat pagi.” ucap Felix dengan canggung. Sejujurnya ia sangat terkejut dengan kehadiran Luna. Namun, dengan cepat Felix pun menetralisir perasaan terkejutnya itu agar tetap terlihat biasa saja.


“Maaf, Pak.. Saya permisi mau masuk ke dalam karena pekerjaan saya sudah menanti.” ucap Luna yang terhalang oleh Felix sehingga tidak dapat melewati pintu yang telah dibukanya.

__ADS_1


Felix yang tidak menyadari keberadaannya karena terkesima dengan penampilan Luna pun menjadi sedikit terkejut. Dan dengan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Felix pun menggeser berdirinya agar Luna bisa melewatinya. Namun setelah beberapa langkah Luna memasuki rumah itu, Felix pun memegang tangan Luna untuk menghentikan langkah gadis itu.


“Bisa kita bicara?  Please.” ucap Felix sambil sedikit memohon kepada Luna.


Luna yang tidak tahu harus berbuat apa pun menjadi terdiam. Ia tidak tahu apakah mengiyakan permintaan Felix adalah pilihan terbaik atau malah sebaliknya. Namun, sangat tidak sopan jika dia menolaknya. Karena entah kenapa, sorot mata Felix kali ini berbeda dengan yang biasanya.


“Jika kamu takut, aku akan membuat jarak sekitar satu meter sehingga tidak akan bisa mengjangkaumu.” ucap Felix yang melihat sedikit keengganan di mata Luna.


Luna pun akhirnya menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan Felix untuk berbicara dengannya. Entah apa yang akan dibicarakan oleh mantan atasannya itu, Luna pun tidak mengetahuinya. Namun karena janjinya untuk menjaga jarak, Luna pun setuju untuk mengikuti laki-laki itu menuju taman depan.


“Aku mau minta maaf atas kekurangajaranku padamu, Luna. Aku tahu aku salah karena melewati batas. Tapi aku juga punya alasan untuk itu. Aku harap kamu mau memaafkan aku.” ucap Felix setelah mereka duduk di kursi tersebut dengan jarak yang cukup jauh.


Luna yang tidak tahu harus menjawab apa, kembali hanya bisa menganggukan kepalanya. Sejujurnya ia sudah tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurut Luna, kejadian itu pun sudah cukup lama jadi tidak perlu lagi diingat. Lagipula, semua itu telah terjadi dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti sebelumnya.

__ADS_1


“Aku juga berharap kamu tidak menjauhiku, Luna. Kita bisa berteman jika kamu tidak keberatan.” ucap Felix kembali karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Luna. Tetapi Felix melihat anggukan dari Luna yang berarti gadis itu telah memaafkannya. Oleh karena itu, Felix berani melanjutkan perkatannya meskipun tanpa jawaban dari Luna.


Luna pun semakin tidak bisa menjawab perkatan Felix. Ia tidak menyangka mantan atasannya it uterus berusaha untuk mendekatinya meskipun selama ini dia selalu menolak pertemanan ataupun kedekatan yang diberikan oleh Felix.


Dan kini, Luna berada di sebuah dilemma apakah harus menerima pertemanan itu atau tidak. Karena jika menuruti kata hatinya, maka Luna sangat enggan menerima pertemanan itu. Bukan karena Felix hanya sebagai bawahan dan bukan seorang CEO, tetapi lebih karena Luna memang selalu membatasi diri untuk dekat dengan laki-laki, siapapun itu.


Namun, jika menurut pemikirannya, Luna merasa tidak masalah jika hanya berteman dengan laki-laki itu. Karena mereka pun juga tidak setiap hari bertemu dan berinteraksi, bukan? Karena nyatanya Luna sangat jarang


menginjakkan kaki di kantor pusat tempat Felix bekerja.


“Mohon maaf, pak Felix. Saya rasa, saya tidak bisa menerima pertemanan dari Bapak. Biarlah hubungan antara kita tetap sebagai hubungan professional saja.” ucap Luna menolak pertemanan yang ditawarkan oleh Felix.


*******************

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2