
Satu hari menjelang pernikahan antara Luna dan Felix, keluarga Luna pun telah sampai di negara dimana anak perempuan mereka satu-satunya akan melangsungkan pernikahan. Surya, Rianti, dan Jordan, datang
dengan menggunakan pesawat pribadi yang telah disiapkan oleh orang kepercayaan Felix sebelumnya. Dan memang kedatangan mereka cukup dekat dengan hari perayaan karena Felix ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Luna tanpa tekanan dari keluarganya.
Sesampainya di hotel yang telah disediakan oleg Felix, Rianti pun segera menuju kamar sang putri satu-satunya yang telah ia ketahui dari asisten Felix yang menjemputnya tadi. Meskipun sebenarnya sang orang kepercayaan Felix cukup ragu untuk mempertemukan ibu dan anak itu karena perintah dari atasannya, tetapi Rianti dengan lihai meyakinkan orang tersebut karena rasa rindunya kepada putri bungsunya itu. Terlebih putrinya sebentar
lagi akan menikah, jadi ini adalah saatnya yang tepat untuk meminta maaf atas semua perlakuannya kepada putri kecilnya.
Orang kepercayaan Felix pun memahami situasi Rianti. Oleh karena itu, dia pun memberikan akses lift untuk menuju kamar calon nyonya nya. Dia juga memberikan nomor kamar agar Rianti mudah menemukan anaknya guna
meminta maaf.
Sesampainya di pintu kamar tujuan, Rianti pun segera mengetuk pintu tersebut.
Tok..tok..tok..
Hingga beberapa lama menunggu, Rianti pun tidak mendapatkan jawaban apapun dari sang pemilik kamar. Namun wanita paruh baya ini rupanya tidak ingin menyerah. ia pun terus mengetuk pintu kamar yang ada dihadapannya, bahkan dengan lebih keras dari sebelumnya. Karena menurut keterangan dari orang kepercayaan Felix, Luna tidak keluar kamar sama sekali sejak kemarin. Bahkan ia lebih senang menghabiskan waktunya di kamar tersebut.
__ADS_1
Oleh karena itu, Rianti pun yakin bahwa anaknya berada di balik pintu tersebut.
Tok..tok..tok..
Entah ketukan keberapa yang telah dilakukan oleh Rianti. Dan akhirnya pintu pun terbuka meskipun tidak terlalu lebar. Tanpa membuang kesempatan, Rianti pun mendorong pintu tersebut agar terbuka lebih lebar dari sebelumnya dan memberikannya jalan untuk memasuki kamar tersebut.
“I.. Ibu..” ucap Luna yang membukakan pintu dan cukup terkejut melihat keberadaan Rianti di depan kamarnya bahkan menerobos masuk ke dalam kamar tersebut.
“Kenapa? Kaget? Udah hidup enak, lupa punya orang tua? Atau berharap orang tua kamu sudah mati? Dasar anak tidak tahu diri! Tidak tahu diuntung!” ucap Rianti penuh emosi, terlebih letika melihat betapa besarnya kamar yang ditempati Luna, bukan seperti kamarnya yang standard dan masih harus ditempati bertiga bersama suami dan anak sulungnya.
“Maksud Ibu?” tanya Luna terbata-bata karena memang gadis itu selalu ketakutan jika berhadapan dengan sang ibunda. Entah kenapa Ibu kandungnya sendiri tidak pernah bisa berkata dengan baik dengan dirinya. Sejak
Namun tanpa menjawab perkataan Luna, Rianti yang telah memasuki kamar itu pun menarik rambut panjang Luna hingga membuat gadis itu kesakitan. Rianti pun menyeret Luna dan menutup pintu kamar tersebut agar tidak ada yang mengetahui tindakan yang dilakukannya kepada anak gadis satu-satunya.
“Untung Ibu bertemu dengan Felix dan memberitahukan niat baiknya untuk meminangmu. Kalau tidak, Ibu yakin kamu tidak akan mengatakan pada kami kalau akan menikah dengan orang kaya. Kamu mau menikmati
hartanya sendirian, kan?” kata Rianti sambil terus menarik rambut Luna hingga berada di kamar tidur gadis itu.
__ADS_1
“Ahhh, Ibu.. Sakit, Bu.. Lepaskan, Bu..” ucap Luna terus mengiba karena tarikan Rianti pun semakin kencang di rambut gadis itu. Bahkan menyebabkan beberapa helai dari rambut itu harus patah dari akarnya.
“Sakit? Ini gak seberapa, Luna! Kamu harusnya bersyukur Ibu mau melahirkan kamu. Dan sekarang kami mau merestui hubungan kamu dengan Felix. Harusnya kamu tahu diri!” ucap Rianti yang semakin menjadi-jadi
dalam menarik rambut Luna. Hingga akhirnya Rianti pun menghempaskan Luna ke tempat tidur king size yang selama beberapa hari itu digunakan oleh Luna.
“Sekarang, kamu tanda tangan ini! Dan kamu harus berpura-pura tidak terjadi apapun di hadapan Felix. Ingat! Semua uang yang diberikan oleh Felix setelah kalian menikah, harus kamu alihkan langsung ke rekening Ibu. Bila ada kekurangan sepeserpun, kamu akan menanggung akibatnya, Luna!” ucap Rianti sambil menyerahkan kertas perjanjian yang harus ditanda tangani Luna.
Ya, setelah Surya mencoba untuk mendapatkan uang dari istrinya, Rianti pun mulai berpikir untuk mendapatkan uang lebih banyak tanpa diketahui oleh suaminya. Jadi satu-satunya cara adalah kembali menggunakan Luna dan mengambil semua uang yang diberikan oleh Felix kepada gadis itu. Rianti yakin bahwa nantinya Felix akan memberikan dana bulanan kepada istrinya dengan jumlah yang lebih besar daripada yang diberikan untuk
dirinya. Oleh karena itu, inilah kesempatan itu.
Dan Luna yang tidak mengetahui hal tersebut pun hanya bisa menanda tangani kertas yang diberikan oleh Rianti dengan pasrah. Ia bahkan tidak tahu perjanjian yang dibuat oleh Rianti dan calon suaminya. Jadi, agar semua masalah cepat selesai, ia akan menanda tangani semua hal yang berkaitan dengan permintaan Rianti.
Setelah Luna selesai menanda tangani, Rianti pun segera berlalu dari kamar tersebut dan meninggalkan Luna yang menangis sendirian. Rianti keluar dengan mengendap-endap, tanpa bisa menghilangkan senyum dari wajahnya.
***********
__ADS_1
-Bersambung-