
Lino yang melihat Luna tersiksa dengan rasa panas seperti itu pun merasa frustasi. Pada satu sisi dia marah melihat calon tunangannya terlihat bersama dengan laki-laki lain disebuah kamar hotel, yang entah apa jadinya jika ia tidak datang. Namun di satu sisi, dia tidak bisa melihat Luna yang tampak tersiksa seperti itu. Dan Lino pun hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar serta mengacak rambutnya.
Akhirnya, Lino pun meminta semua untuk keluar dari ruangan itu. Ia ingin menyelamatkan Luna seorang diri, entah apa yang akan dilakukannya dan bagaimana cara menyadarkan Luna. Namun Lino akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyadarkan diri Luna dari entah apa yang merasukinya itu.
Lino sebenarnya bukanlah laki-laki yang suka memanfaatkan keadaan. Dia juga bukan laki-laki yang suka tidur dengan sembarang wanita. Terlebih, dia bukan laki-laki yang suka merusak seorang wanita tanpa sebuah ikatan apapun. Dan tentunya dia bisa buktikan semuanya itu.
Namun sebenarnya, Lino jugalah seorang laki-laki normal. Terlebih melihat kepolosan dari gadis yang sangat dicintainya secara diam-diam itu. Dan bagaikan kucing yang diberi ikan, tentunya akan tertarik untuk melahapnya. Meskipun memang sebenarnya tidak seharusnya manusia disamakan dengan kucing atau binatang yang lain, bukan?
Ditengah-tengah kefrustasian Lino saat ini, dimana ia masih tidak tahu harus berbuat apa, suara-suara yang dikeluarkan Luna pun mulai terdengar kembali. Bahkan gadis itu mulai menggerak-gerakkan badannya semakin hebat dan tak tentu arah, serta mengeliat tanpa dapat ditahan.
__ADS_1
Lino pun tersadar dari lamunan dan peperangan batinnya, dimana setan dan malaikat sedang bertarung untuk mencari solusi terbaik bagi Luna. Ia pun memalingkan wajahnya ke tempat dimana Luna diletakkan dan diselimuti oleh Siska agar tubuhnya tidak terlihat dengan jelas oleh siapapun juga.
Namun lagi-lagi betapa terkejutnya Lino karena ternyata selimut yang tadinya digunakan untuk menutupi tubuh Luna, telah jatuh entah dimana, mungkin karena terkena tendangan atau karena gerakan liar dari Luna, maka selimut itu pun terserakan. Dan Lino pun hanya bisa menelan ludahnya secara kasar.
“Argh.. Bisa gila gue lama-lama kalau begini.” ucap Lino dengan frustasi. Lino tidak dapat memungkiri bahwa keinginannya pun semakin lama semakin meningkat. Terlebih melihat gerakan-gerakan Luna yang terlihat sangat 'nakal' dengan keadaannya saat ini.
Lino pun memutuskan untuk membawa Luna ke kamar mandi guna mendinginkan tubuh gadis itu. Menyiramnya dengan air dingin dibawah shower. Lino memutuskan hal ini, karena ia terus mendengar suara dari mulut Luna yang terus menyebutkan ‘panas”.
Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit pun berlalu. Luna terus diguyur oleh air dingin dari shower yang ada di kamar mandi. Namun bukannya mereda, keinginan Luna pun malah semakin naik. Terlebih ketika guyuran air yang mengenai tubuhnya bagaikan percikan-percikan yang menyalakan api di dalam dirinya.
Mendapatkan perlakuan berani dari Luna, yang meskipun tampak tak berdaya, tetapi tangannya tetap mencari sesuatu untuk melepaskan bara api dalam dirinya itu, akhirnya pertahanan Lino pun semakin runtuh. Terlebih ketika tubuh Luna melekat erat tanpa ada jarak sama sekali pada dirinya. Laki-laki mana yang bisa menahannya jika berada dalam situasi seperti ini? Mungkin kali ini iblis dalam diri Lino sedang memenangkan pertandingan. Dan memang Lino pun mulai terhanyut dengan perlakuan Luna.
Akhirnya pertarungan itu pun terjadi. Entah sejak kapan, pakaian yang dikenakan oleh Lino pun telah terlepas. Kini mereka berdua sama-sama dalam keadaan yang sama, tanpa sehelai benang pun.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Luna pun tidak bisa menahan lagi ledakan yang ada di dalam tubuhnya. Ia pun mendapatkan apa yang dikehendaki oleh tubuhnya itu dari laki-laki yang akan menjadi tunangannya beberapa hari lagi.
Namun tidak demikian dengan Lino. Setan yang telah menjadi pemenang dari malaikat dalam perdebatan untuk menyelamatkan Luna itu pun terus membisikkan kata-kata yang sangat manis dan menarik bagi dirinya untuk menikmati hidangan yang ada di depan matanya.
Terlebih ketika bagian bawah tubuhnya telah berdiri dengan sangat menantang untuk memasuki rumah yang akan menjadi kediamannya.
Lino pun membawa Luna yang telah lemas untuk kembali ke tempat tidur. Lino masih dalam keadaan sadar dan tahu bahwa tindakannya membiarkan Luna berada dibawah pancuran air dingin terlalu lama, dapat membuatnya menjadi sakit. Dan tentunya Lino tidak ingin membuat tunangannya sakit, bukan? Terlebih semakin mendekatinya hari pertunangan mereka. Oleh karena itu, Lino pun dengan segera menutupi tubuh Luna dengan bathrobe yang ada di dekatnya dan membawanya keluar dari sana.
Meskipun demikian, Lino pun tetap tidak ingin melepaskan Luna. Keinginan telah melingkupinya disela-sela kesadarannya itu. Terlebih lagi, ketika beberapa saat setelah ia meletakkan Luna di tempat tidur, gadis itu mulai lagi dengan gerakan-gerakan 'nakal'nya. Karena ternyata, hawa panas yang tadi sempat menghilang itu kini muncul kembali dan mulai menyiksanya secara perlahan.
Mereka pun akhirnya mengulang kembali pertarungannya. Dan kali ini, Lino yang telah dikuasai seluruhnya oleh keinginannya, berhasil menerobos rumah yang sangat nyaman pada diri Luna dengan beberapa kali percobaan. Tubuh mereka pun sama-sama bergerak, bergetar, dan akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan secara bersama.
Dan mereka pun masih terus mengulang dan mengulang hingga akhirnya lelah itu datang dan mereka pun tertidur dengan berpelukan.
__ADS_1
************
-Bersambung-