
“Maaf kalau saya egosi. Tapi percayalah kalau kita bisa mencobanya, Luna.” ucap Lino kembali. Ia tahu bahwa akan sia-sia jika ia mengungkapkan perasaannya saat ini. Oleh karena itu, ia pun memilih jalan lain untuk meyakinkan Luna.
“Saya juga mohon maaf, Pak Lino. Tetapi saya tetap menolak. Saya belum siap untuk menikah. Di usia saya saat ini, saya hanya ingin mengejar karir saya.” ucap Luna kembali dengan tegas. Bukannya ia tidak ingin mencobanya tetapi semua bayangan buruk tentang sebuah pernikahan selalu menghantuinya.
“Apakah tidak ada toleransi, Lun? Kamu tahukan bahwa Bunda sangat bahagia dengan kabar tersebut? Kamu tahukan bahwa Bunda sangat menyayangimu?” tanya Lino kembali mencoba berbicara lebih banyak kepada Luna
agar ia mau membuka hati dan membuka dirinya, terutama untuk Lino.
Kali ini, Lino sangat tidak memahami Luna. Biasanya, wanita akan sangat bahagia jika ia mengajaknya menikah. Bahkan, banyak gadis yang menawarkan untuk menikah dengannya. Namun Luna sangat berbeda. Gadis ini
bahkan menolak ketika Lino memutuskan untuk menikah dengan dirinya.
Lino pun cukup heran karena kedekatannya selama ini ternyata tidak berpengaruh terhadap gadis itu. Lino banyak sekali mendengar tentang kedekatan seorang atasan dengan sekretaris wanitanya ataupun asisten pribadinya. Bahkan banyak atasan yang menikah dengan sekretarisnya sendiri. Rasanya cinta memang bisa datang ketika terbiasa bersama. Namun ternyata hal itu tidak berlaku untuk Luna.
__ADS_1
Kedekatannya, bahkan segala perhatian yang Lino berikan, meskipun hanya perhatian kecil, tetapi tidak mempengaruhi gadis itu. Bahkan Luna juga tidak memandang kedekatannya sebagai kekasih pura-pura yang
dijalaninya selama ini. Luna bagaikan memiliki tembok yang sangat tinggi dan membentengi dirinya. Dan tembok itu tidak bisa ditembus oleh siapapun, termasuk Lino.
“Saya tahu bahwa Bunda sangat menyayangi saya. Dan Bapak juga pasti tahu bahwa saya juga sayang dengan Bunda Nadia. Bahkan saya juga menganggap Bunda Nadia lebih daripada ibu saya sendiri.” ucap Luna
menjawab pertanyaan Lino. Dan kali ini Luna benar-benar menjawabnya dari hati kecilnya yang terdalam, dimana dia merasakan kasih sayang dari Bunda Nadia melebihi kasih sayang yang Rianti berikan kepadanya.
“Kalau Bapak bertanya apakah saya tega membuat Bunda sedih, saya rasa Bapak sudah tahu jawabannya. Tapi saya juga harus memikirkan perasaan saya. Hati saya sendiri.” ucap Luna kembali memberi alasan kepada
Lino pun tidak bisa membalas apapun dari perkataan Luna. Lino hanya bisa menebak-nebak tentang isi hati Luna sendiri. Bisa jadi memang sudah ada yang mengisi kekosongan disana. Atau bisa juga ada goresan luka yang tidak bisa disembuhkan disana sehingga Luna tidak bisa membuka hatinya kembali untuk yang lain. Lino juga tidak mengetahuinya dengan pasti.
“Kita bisa mencobanya, Lun. Bukalah hatimu, Lun. Saya akan menjaganya. Saya berjanji tidak akan memberikan luka. Dan kamu bisa memegang janji saya.” ucap Lino kembali setelah terdiam cukup lama dan mengumpulkan semua kata-kata yang bisa meluluhkan hati seorang wanita.
__ADS_1
Luna pun tampak bimbang. Ia sangat takut untuk menyerahkan hatinya. Bahkan pengalamannya selama ini dengan beberapa pria, membuatnya yakin bahwa pria hanya ingin mempermainkan perasannya. Bahkan tidak
jarang pria hanya menginginkan keuntungan darinya, seperti Jordan misalnya.
“Berikan kepercayaanmu kepada saya, Lun. Saya akan terus mencoba untuk meluluhkan hatimu. Tapi tolong buka benteng pertahanan hatimu. Biarkan aku memasukinya dan memberikan cahaya disana.” ucap Lino kembali karena tidak mendapatkan tanggapan apapun dari gadis disebelahnya. Dan Lino yakin bahwa Luna sedang memikirkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Yakinlah pada saya, Lun. Kita telah bekerja sama cukup lama. Kamu juga tahu bagaimana saya memegang setiap perkataan dan janji saya. Kamu juga tahu bagaimana saya menjalankan tekat yang telah saya buat.” ucap Lino kembali.
Luna pun terus terdiam. Ia memang memikirkan setiap kata yang diucapkan oleh laki-laki di sebelahnya itu. Ingin rasanya percaya dengan setiap kata-kata itu. Namun laki-laki kenangan buruk, dimana melihat kedua orang tuanya saling menyakiti, membuatnya kembali menutup rapat benteng pertahanannya.
Dan Lino yang masih tidak mendapatkan jawaban dari Luna pun memutuskan untuk kembali menjalankan mobilnya. Mungkin lain kali ia akan mencobanya kembali. Atau mungkin ia akan meminta bantuan Bunda Nadia
ataupun orang lain untuk berbicata dengan Luna, serta meyakinkan Luna.
__ADS_1
*************
-Bersambung-