Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 153 – Masa Tenang Lino


__ADS_3

Setelah pelajaran pertama yang Lino berikan, Retha dan keluarganya pun seakan menghilang. Meskipun demikian, bisnis dari Yoris pun tetap berjalan seperti biasanya. Hal ini diketahui Lino karena laki-laki itu terus memantaunya demi memberikan serangan kedua.


Dengan menghilangnya Retha, otomatis hari-hari Lino dan Luna pun menjadi tenang. Luna tetap kembali bekerja seperti sebelumnya. Dan beberapa hari tidak datang ke kantor pun dianggapnya sebagai masa cuti.


Lino dan Luna, beserta Bunda Nadia pun tetap melanjutkan rencana pernikahan itu. Meskipun demikian, mereka tetap harus mengundurkan tanggalnya. Bukan tanpa alasan, karena memang waktu sudah terlalu mepet dan ternyata masih banyak hal yang belum diselesaikan karena keributan yang dibuat Retha kala itu.


Selain itu, mengganti acara pertunangan menjadi acara pernikahan, tentunya merubah banyak hal. Dengan demikian, ada hal-hal lain yang harus diurus kemudian, terlebih ketika menyangkut surat-surat yang akan digunakan untuk melegalkan pernikahan tersebut.


Luna pun tidak menolak pengunduran tanggal pernikahan itu. Ia dan Lino pun membuat perjanjian untuk tidak melakukan hubungan terlarang itu kembali sebelum hari pernikahan tersebut.


Meskipun dengan berat hati, Lino pun menyetujuinya. Memang katanya, suatu hubungan terlarang itu bagaikan sebuah candu. Jika telah sekali melakukannya, maka kamu akan ingin terus melakukannya tanpa pernah ada


kata bosan. Setuju?


Bunda Nadia yang tidak mengetahui perbuatan Lino itu pun merasa bahagia karena melihat anak dan calon menantunya terlihat selalu harmonis. Bahkan sebenarnya, Bunda Nadia sudah sangat tidak sabar untuk


meminang Luna menjadi menantunya.

__ADS_1


Entah ada apanya dengan gadis itu, tetapi Luna sangatlah menarik perhatian. Kelembutannya, perhatiannya, tetapi juga kekerasannya itu menjadi daya pikat tersendiri bagi orang-orang di sekitarnya, kecuali kedua orang tuanya.


“Ah, rasanya Bunda udah gak sabar menunggu waktu pernikahan kalian. Bunda udah gak sabar menjadikan Luna menantu.” ucap Bunda Nadia suatu kali ketika Luna dan Lino sedang berada di rumah utama untuk membahas berbagai macam hal kecil dalam pernikahan tersebut.


Luna dan Lino yang mendengar perkataan Bunda Nadia pun hanya bisa tersenyum. Memang akhir-akhir ini mereka sudah sangat jarang bertengkar. Menurunkan ego masing-masing dan mencoba mencari solusi dengan


kepala dingin ketika ada kesalahpahaman.


“Lino apalagi, Bun. Luna terlalu banyak yang godain. Rasanya kalau bisa, Lino mau kurung Luna aja di dalam kamar biar gak ada yang godain calon istri Lino ini.” kelakar Lino menanggapi pernyataan Bunda Nadia


Pernyataan Lino itu pun mendapatkan pelototan dari sang wanita yang dibicarakannya. Luna tidak menyangka bahwa laki-laki yang akan menjadi calon suaminya itu begitu egois hingga dirinya tidak boleh dilirik oleh


orang lain.


Padahal menurut Luna, siapapun dapat melihat dirinya. Melihat Lino. Atau bahkan mengagumi mereka. Itu adalah hak semua orang. Selama itu tidak melampaui batasan yang ada, Luna tidak akan pernah


mempermasalahkannya.

__ADS_1


Namun ternyata tidak demikian dengan Lino. Entah kenapa, seorang laki-laki seringkali menjadi egois bila menyangkut wanita yang dicintainya. Entah kenapa, laki-laki seringkali tidak suka bahkan sangat benci


jika ada laki-laki lain yang mengagumi kekasihnya. Dan demikian juga dengan Lino.


Dan selain mendapatkan pelototan dari sang kekasih, Lino pun harus menerima lemparan bantal dari sang Bunda. Mereka pun akhirnya tertawa bersama. Meluapkan semua kebahagiaan yang ada. Tanpa mengetahui apakah akan ada kerikil-kerikil kecil kembali.


Yah, begitulah takdir manusia. Tidak akan ada yang mengetahui tentang masa depan. Apa yang akan terjadi, tidak akan ada yang tahu. Semua itu adalah kejutan-kejutan dari Sang Pencipta kehidupan.


*********


Jangan lupa like, komen, share, love nya juga ya.


Makasih


*******


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2