Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 118 – Berbicara Dengan Lino


__ADS_3

Hari pun telah berganti. Setelah kemarin seharian Luna menemani Bunda Nadia untuk bersantai sambil berbelanja, kini saatnya gadis itu kembali mengumpulkan pundi-pundi demi masa depan yang lebih cerah.


Ya, hari ini Luna kembali siap untuk bekerja bersama Lino. Dan sesuai saran dari Bunda Nadia, hari ini Luna akan membicarakan tentang keputusannya kepada atasannya itu. Entah kapan waktu yang tepat, mengingat hari ini mereka padat dengan berbagai pertemuan yang diadakan baik di dalam kantor ataupun diluar.


Waktu telah menunjukkan pukul 07.00 dan itu berarti Luna telah berada di rumah atasannya dan semua sarapan pun telah tersedia disana. Kini, Luna hanya perlu mempersiapkan semua berkas yang dibutuhkan oleh


atasannya dan setelah itu, ia akan menemani sang atasan untuk menghabiskan sarapannya sebelum mereka memulai kegiatan hari ini.


Tidak perlu menunggu lama, Luna pun menyelesaikan semua pekerjaannya di ruang kerja Lino. Luna pun bersiap untuk turun dan menunggu laki-laki itu untuk menikmati sarapannya. Namun ternyata, waktu ia keluar dari ruang kerja Lino, laki-laki itu pun keluar dari kamarnya. Luna pun sedikit membungkukkan badannya untuk menghormati sang atasan. Dan mereka pun memutuskan untuk turun bersama.


Setelah menghabiskan sarapannya, Luna dan Lino pun segera berangkat menuju ke kantor. Ya, hari ini mereka ada meeting pagi dengan jajaran manager di kantor tersebut untuk membicarakan tentang berbagai masalah


yang ada di kantor.


Setelah dari meeting tersebut, Lino pun memiliki janji dengan PT Z untuk membicarakan tentang projek mereka yang sedang berlangsung. Dan meeting tersebut juga masih berada di kantor. Namun nanti, setelah makan siang, Lino akan meninjau lokasi untuk projek mereka selanjutnya. Dan peninjauan tersebut juga termasuk dengan mengunjungi warga sekitar untuk beramah tamah.


Sibuk? Sangat! Hari ini memang Luna dan Lino sangat disibukkan dengan jadwal pekerjaan. Berkas yang harus dipersiapkan pun sangat banyak. Namun, setelah dari ramah tamah itu, mereka bisa kembali ke kantor. Dan

__ADS_1


itulah waktu yang cukup santai untuk mereka, meskipun tetap tumpukan pekerjaan pasti sudah menunggu kedua orang itu.


********


Waktu pun cepat berlalu. Kini Luna dan Lino pun telah kembali ke kantor. Dan mereka pun masih berkuta dengan pekerjaan masing-masing. Lino dengan tumpukan berkas yang harus di acc dan ditanda tangan olehnya, sedangkan Luna dengan berbagai dokumen yang harus dipersiapkan untuk meeting esok hari.


Waktu pun menunjukkan pukul 18.00. Luna pun telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia pun sedang membereskan meja kerjanya. Namun, sampai saat ini, atasannya itu belum menunjukkan tanda-tanda untuk


meninggalkan ruangannya.


Luna yang mulai gelisah pun berulang kali mengintip ruangan yang berada di sebelah ruangannya. Pada satu sisi, dia ingin memasuki ruangan itu dan berbicara secara empat mata dengan atasannya tentang keputusannya. Namun disisi lain, ia juga tidak ingin mengganggu pekerjaan laki-laki itu karena ia tahu betapa menumpuknya berkas yang harus diperiksa, serta ditanda tangani.


Tok..tok..tok.. Luna pun mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan ‘Chief Execurive Officer’.


“Masuk” ucap Lino dari dalam ruangannya setelah mendengar ketukan pada pintunya tanpa melepaskan pandangan dari berkas yang sedang dikerjakannya.


Luna pun memasuki ruangan tersebut dengan debar jantung yang entah seperti apa. Antara takut, malu, dan lain sebagainya.

__ADS_1


“Selamat malam, Pak.” ucap Luna dengan tertunduk, mencoba menetralkan detak jantungnya yang seakan menggila.


“Maaf, Lun. Kayaknya pekerjaan saya masih banyak. Kamu ada yang perlu dibicarakan?” tanya Lino tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang seakan tidak ada habisnya di meja itu.


“Maaf, Pak. Saya hanya ingin membicarakan hal diluar pekerjaan. Tapi kalau Bapak sibuk, saya bisa lain waktu membicarakannya. Mungkin saya permisi terlebih dahulu, Pak.” kata Luna sedikit kecewa karena merasa tertolak oleh Lino sebelum ia mengungkapkan keputusannya.


Luna pun berbalik hendak meninggalkan ruangan itu. Namun ternyata Lino menahannya.


“Pekerjaan saya sudah selesai. Kita bicarakan sekarang ya.” kata Lino sambil menutup berkasnya dan mengalihkan pandangannya kepada gadis yang diam-diam ternyata mulai dipujanya.


Luna pun menganggukan kepalanya dan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Diikuti dengan Lino yang meninggalkan mejanya dan duduk tepat disebelah gadis itu.


“Jadi?” tanya Lino membuka percakapannya dengan Luna yang tiba-tiba menjadi canggung.


“Saya sudah berbicara banyak dengan Bunda Nadia. Dan saya setuju dengan keputusan Bapak. Tapi kemarin saya juga sudah berbicara dengan Bunda untuk tidak langsung menikah. Saya ingin kita saling mengenal lebih dalam terlebih dahulu.” ucap Luna to the point karena memang waktu telah semakin malam dan sejujurnya Luna juga sudah semakin lelah, mengingat banyaknya kegiatan mereka hari ini.


Lino yang mendengar itu pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia pun menganggukan kepalanya dengan senyum yang mengembang sempurna.

__ADS_1


************


-Bersambung-


__ADS_2