
Makan malam telah selesai beberapa jam yang lalu. Keluarga Yoris pun telah kembali ke kediamannya beberapa waktu lalu. Kini, Lino pun telah berada di balkon kamarnya sendiri. Memandang gelapnya langit dan merasakan dinginnya angin.
Entah kenapa dan sejak kapan, tetapi kesunyian telah menjadi salah satu teman Lino beberapa tahun belakangan ini. Dan Lino sangat menikmati ditengah-tengah kesunyian yang ada.
Meskipun jika berada diantara ketiga sahabatnya, Lino tampak seperti orang yang supel, mudah bergaul, dan mengasikkan, tetapi dibalik itu semua, Lino membutuhkan sebuah kesunyian untuk mengembalikan lagi tenaganya. Memulihkan lelahnya.
Jadi jangan heran jika hampir setiap malam, Lino akan berlama-lama berada di balkon kamarnya ataupun tempat-tempat sepi yang bisa membuatnya memandang langit malam. Dan dengan demikian, besok dia akan bersemangat kembali mengerjakan semua pekerjaan yang telah menunggu.
Namun, tampaknya malam ini Lino tidak bisa terlalu menikmati kesunyiannya. Karena beberapa saat lalu, terdengar pintu kamarnya diketuk dan namanya dipanggil oleh Bunda Nadia. Lino pun harus menghentikan kegiatannya berdiam diri dalam kesunyian dan membukakan pintu untuk Bundanya tersayang.
“Lagi ngapain kamu, Nak?” tanya Bunda Nadia setelah memasuki kamar Lino dan melihat pintu balkon yang masih terbuka lebar dan membiarkan dinginnya angin malam memasuki kamar ini.
“Gak lagi ngapa-ngapain kok, Bunda.” jawab Lino yang memilih untuk merebahkan kepalanya dipangkuan sang Bunda.
Jika dilihat, memang sangat lucu pemandangan saat ini. Seorang CEO ternama tidur bermanja-manja dipangkuan bundanya. Siapa yang akan menyangka coba?
__ADS_1
“Bunda kenapa belum istirahat? Bunda kan harus banyak istirahat. Inget umur, Bunda.” ucap Lino kembali sambil mencoba bercanda dengan Bunda Nadia.
“Kamu ngatain Bunda udah tua?” jawab Bunda Nadia disertai jeweran di telinga Lino seperti kepada anak-anak SD yang membandel karena tidak membuat tugas sekolah.
“Ya bukan gitu, Bunda. Lino mana berani ngatain Bunda yang paling cantik. Bahkan kalau dilihat, Bunda itu masih seperti gadis usia dua puluh tahun lho.” kata Lino merayu Bunda Nadia.
“Iya, gadis usia dua puluh tahun tapi tiga puluh tahun yang lalu. Kamu mau berkata seperti itu kan?” jawab Bunda Nadia menimpali perkataan anaknya.
Dan mereka berdua pun tertawa bersama karena candaan-candaan yang dilemparkan bersama. Memang ibu dan anak yang sangat kompak dan pastinya akan membuat iri banyak orang. Karena biasanya anak laki-laki tidak akan sedekat itu dengan ibunya.
“Apapun, Bunda. Memang Bunda ingin bertanya apa ke Lino sampai harus seserius ini?” tanya Lino yang merubah posisinya menjadi duduk menghadap Bunda Nadia.
Memang rasanya untuk berbicara hal yang serius sangat tidak nyaman jika dalam posisi tiduran seperti tadi. Akan lebih nyaman jika berhadapan karena kita dapat melihat mata dari lawan bicara.
__ADS_1
“Kapan kamu akan memberikan Bunda cucu, Nak? Bunda sudah tua, kita tidak ada yang tau sampai batas mana usia kita. Bunda cuma ingin bisa menemanimu menikah dan memiliki anak.” ucap Bunda Nadia.
Sebagai seorang ibu, Bunda Nadia tahu bahwa prioritas utama Lino bukanlah membangun sebuah keluarga. Namun, Bunda Nadia tidak akan pernah tenang jika anaknya tidak memiliki pendamping. Apalagi jika tiba-tiba dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Rasanya ia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum melihat anak laki-lakinya menikah.
“Nanti ya, Bun. Belum saatnya, Bunda. Lino masih terlalu muda untuk menikah dan punya anak. Karir Lino masih terlalu panjang.” jawab Lino dengan senyum di wajahnya untuk menenangkan sang Bunda.
“Menikahlah dengan Retha, Nak. Kita sudah mengenal keluarganya. Retha juga gadis yang Bunda rasa cukup pantas untuk mendampingimudari segi manapun.” pinta Bunda Nadia.
Sejujurnya, Lino sangat malas jika harus membahas soal menikah dan punya anak. Buat Lino, menikah bukanlah tujuan utama. Bahkan jika tidak menikahpun, Lino tidak akan masalah asalkan selamanya ada Bunda Nadia disisinya.
Namun, jika sudah permintaan Bundanya sendiri, apakah Lino bisa menolaknya? Rasanya sangat sulit. Akan tetapi menikah dengan Retha? Rasanya juga Lino tidak memiliki keinginan untuk itu.
“Akan Lino pikirkan dahulu ya, Bun.” jawab Lino sambil terus menggenggam tangan Bunda Nadia.
“Segeralah memberi keputusan, Nak. Kamu tidak bisa membawa-bawa gadis orang terus menerus tanpa status yang jelas.” ucap Bunda Nadia mengakhiri pembicaraannya dan meninggalkan Lino sendirian di kamarnya.
__ADS_1
******************
-Bersambung-