
Kita tinggalin dulu Luna dengan Vina. Biarkan mereka untuk saling cerita-cerita terlebih dahulu sambil melepaskan kangen satu sama lainnya. Mereka sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, jadi sesekali mereka juga harus beristirahat.
Sekarang kita akan beralih ke sebuah rumah yang megah di salah satu perumahan elit di ibu kota. Yak, benar sekali. Ini adalah rumah dimana Bunda Nadia tinggal bersama anak laki-laki satu-satunya, sekaligus pewaris dari PT LINO. Siapa lagi kalau bukan Lino Damaresh?
Lino sebenarnya memiliki rumah sendiri yang berbeda dengan Bunda Nadia. Namun, Lino juga sering pulang ke rumah Bunda Nadia untuk menemani. Sedangkan rumah Lino yang biasa didatangi oleh Luna dijadikan sebagai
rumah singgah jika Lino memang sedang sangat sibuk.
Hari ini, karena weekend, dan seperti weekend-weekend sebelumnya, Lino akan tidur di rumah Bunda Nadia. Namun, untuk hari ini, akan berbeda dengan weekend-weekend sebelumnya karena Bunda Nadia akan mengundang keluarga Retha untuk makan malam bersama. Meskipun demikian, Bunda Nadia tidak memberitahukan hal ini kepada Lino. Dia berharap dengan kehadiran keluarga Retha, Lino bisa membuat hubungannya dengan gadis itu menjadi lebih serius.
“Minah, rendangnya sudah jadi? Kalau sayur sup nya sudah selesai? Sambalnya?” tanya Bunda Nadia kepada salah satu asisten rumah tangganya.
Ya, Bunda Nadia hari ini memasak berbagai macam menu masakan untuk menyambut kedatangan anak dan calon besannya. Bahkan Bunda Nadia yang berbelanja untuk mendapatkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak hidangan-hidangan tersebut.
Jika dilihat sekilas, Bunda Nadia memang terlihat sebagai seorang wanita yang cukup perfeksionis. Tetapi, sebagai seorang ibu, sangat wajar kan jika dia menginginkan yang terbaik untuk anak dan keluarganya? Oleh karena itu, Bunda Nadia cukup memilih gadis yang akan mendampingi anak laki-laki satu-satunya.
__ADS_1
Meskipun demikian, Bunda Nadia juga tidak menutup kemungkinan jika memang Lino bisa mendapatkan gadis pilihannya sendiri. Bunda Nadia bukan orang yang terlalu kolot sehingga mementingkan status diatas segalanya. Menurutnya, selama gadis itu tidak matre dan bisa bekerja sama dengan anaknya, maka hal itu tidak akan menjadi masalah. Dan tentunya, untuk bekerja sama dengan seorang Lino Damaresh, gadis tersebut harus memiliki
pendidikan yang cukup tinggi.
“Sudah, Bu. Nanti satu jam sebelum makan malam, saya akan hangatkan kembali.” ucap Minah.
Bunda Nadia pun hanya menganggukan kepalanya dan berlalu dari dapur untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Tubuhnya yang mulai menua membuatnya menjadi sangat cepat lelah.
***********
“Bun.. Lino pulang..” ucap Lino sambil memasuki ruang keluarga.
Bunda Nadia yang mendengar sapaan dari anaknya punlangsung keluar dari kamrnya untuk menyambut kedangan anak laki-laki satunya itu. Kebetulan, kamr Bunda Nadia memang berada di lantai satu sehingga memudahkan dirinya untuk menyambut kepulangan sang anak.
__ADS_1
“Anak Bunda sudah pulang. Kamu segera mandi ya. Kita akan kedatangan tamu special satu jam lagi.” ucap Bunda Nadia setelah keluar dari kamarnya.
“Siapa, Bun?” tanya Lino penasaran
“Nanti kamu juga akan tahu. Sekarang yang terpenting adalah kamu mandi dulu. Badan kamu asem sekali baunya.” ucap Bunda Nadia sambil berpura-pura menutup hidungnya dan mengibaskan tangannya tanda mengusir Lino
dari hadapannya.
“Bunda gak mau cium anaknya yang paling ganteng inidulu sebelum mandi? Banyak lho gadis yang mau cium aku meskipun belum mandi.” ucap Lino menggoda Bunda Nadia.
“Ish, Bunda sih bukan kayak gadis-gadis itu. Pilih-pilih kalau mau cium lah.” jawab Bunda Nadia tidak termakan perkataan anaknya.
Ya begnilah kehidupan ibu dan anak ini. Mereka tidak segan-segan untuk saling menggoda satu sama lainnya. Dan meskipun Lino adalah anak laki-laki dengan tanggung jawab besar, namun dia akan tetap bersikap seperti anak-anak jika di depan Bunda Nadia. Bahkan, Lino juga tidak akan segan-segan untuk menunjukkan kemanjaannya kepada Bunda Nadia dimana pun dia berada.
__ADS_1
***************
-Bersambung-