
“Luna Intan Permana.” ucap Lino membuka kalimatnya sambil menatap Luna dengan tajam.
Mendapatkan tatapan tajam, Luna pun hanya bisa semakin menundukkan kepalanya. Kali ini ketakutannya akan dipecat bertambah berkali-kali lipat. Namun, apakah Lino akan memecat Luna?
“Bertemanlah denganku.” ucap Lino tanpa diduga oleh Luna.
Luna yang tidak menyangka akan ajakan berteman dari CEO nya hanya bisa membelalakan matanya dan menatap lurus ke arah CEO yang ada di hadapannya. Sepertinya ia sedang berhalusinasi atau mungkin telinganya salah
mendengar.
“Luna.. Hai..” ucap Lino sambil melambaikan tangannya dihadapan wajah Luna yang tampak sangat terkejut sehingga tidak bisa menjawab perkataannya.
“Ah, iya, Pak. Maaf. Boleh tolong diulang, Pak?” tanya Luna dengan sopan setelah mendapatkan kesadarannya kembali.
__ADS_1
“Saya ingin kita berteman, Luna. Hanya itu.” ucap Lino mengulang perkataannya.
Entah ada dorongan apa, tetapi rasanya Lino sangat ingin dekat dengan gadis yang ada di hadapannya itu. Sejak pertemuannya pertama kali di divisi keuangan, gadis ini telah merebut perhatiannya. Entah mungkin wajahnya yang memikat atau tubuhnya yang cukup menggoda, atau mungkin ada hal lain yang Lino sendiri tidak bisa menjelaskannya. Namun, memang tidak biasanya Lino bersikap seperti ini dengan seorang gadis. Apalagi gadis yang baru pertama kali ditemuinya.
Meskipun demikian, Lino tidak bisa serta merta mengklaim bahwa Luna adalah miliknya. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkannya. Salah satunya adalah Retha yang selama ini telah mendampingi dirinya. Selain itu, akan sangat aneh jika tiba-tiba saja Luna menjadi dekat dengan dirinya sedangkan selama ini tidak pernah ada seorang karyawati pun yang dekat dengannya.
Jadi, untuk memilih hal yang aman, Lino pun menawarkan sebuah pertemanan. Mulai dari pertemanan, Lino akan memastikan kembali dirinya. Apakah dia benar-benar tertarik dan ingin memiliki gadis dihadapannya ini atau hanya sekedar tertarik karena melihat penampilannya yang cukup sederhana tetapi penuh keanggunan.
Selain itu, dengan sebuah pertemanan, Lino akan bisa menjadi lebih dekat tanpa rasa canggung dan tidak perlu terlalu memusingkan perasaan Retha. Dan pastinya, tidak akan ada gossip miring di kantor ini.
“Maaf, Pak. Tapi kita adalah atasan dan bawahan. Rasanya kurang pantas jika berteman. Cukup sebagai rekan kerja saja.” ucap Luna mencoba menolak pertemanan yang ditawarkan oleh Lino.
Lino yang selama ini hampir tidak pernah merasakan penolakan dari seorang wanita pun cukup terkejut. Biasanya, dia yang akan meninggalkan dan menolak wanita yang mendekatinya, entah wanita yang dijodohkan oleh Bundanya atau wanita yang memang ingin mendekatinya karena kekayaannya. Namun kali ini, seorang Adelino Damaresh ditolak oleh seorang wanita yang berstatus sebagai bawahannya.
__ADS_1
“Boleh tau alasanmu menolak pertemanan dari saya?” tanya Lino tanpa bisa menutupi rasa penasarannya.
“Seperti yang saya katakana tadi, Pak. Mohon maaf sebelumnya. Tapi rasanya kurang pantas jika antara Bapak dan saya terdapat suatu hubungan pertemanan secara personal. Anggaplah saya salah mengartikan
pertemanan yang Bapak maksudkan, tetapi saya hanya menghindari perkataan dan pandangan miring yang pastinya akan ditujukan kepada saya.” ucap Luna mencoba menjelaskan maksud penolakannya.
“Saya rasa tidak akan ada perkataan dan pandangan miring seperti yang kamu sebutkan. Karena kita juga harus tetap professional dalam bekerja.” ucap Lino masih terus berusaha untuk membujuk Luna agar menyetujui pertemanan yang ditawarkannya.
Luna yang tidak tahu harus menjawab apa lagi pun memilih untuk diam. Karena semua perkataannya tidak akan diterima oleh Lino. Salah-salah dengan ngotot menolak tawaran pertemanan, Luna malah akan mendapatkan surat pemecatan. Oleh karena itu Luna lebih memilih untuk diam dan mengundurkan diri dari ruangan Lino.
“Saya permisi undur diri terlebih dahulu, Pak. Karena membicarakan yang bukan pekerjaan di jam kerja adalah sikap tidak professional.” ucap Luna dengan menekankan perkataannya pada kata professional seperti yang telah tadi Lino ungkit.
Lino pun hanya bisa terdiam. Perkataan Luna tentang profesionalitas pun telak menampar Lino secara tidak sadar.
__ADS_1
******************
-Bersambung-