
Hari ini, rasanya Felix tidak bisa focus untuk bekerja. Penolakan yang dilakukan oleh Luna pagi tadi membuatnya terus memutar otak untuk mencari cara menaklukan gadis pujaannya. Selain itu, perkataan Lino juga terus terngiang di kepalanya. Mungkinkah dia adalah laki-laki seperti yang disebutkan oleh Lino sehingga Luna selalu menolaknya?
Ada perasaan marah di dalam hati Felix. Tetapi tidak dipungkiri juga bahwa ada perasaan bersalah juga di dalam sana. Dan perasaan-perasaan itu membuat Felix semakin tidak bisa focus dengan pekerjaan yang ada dihadapannya.
Setelah beberapa saat, Felix pun memutuskan untuk meninggalkan sejenak pekerjaannya. Menenangkan pikirannya dan mencari udara segar agar perasaannya lebih tenang. Dan berhubung jam makan siang sebentar lagi, maka Felix pun memutuskan untuk menuju salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.
Memasuki pelataran pusat perbelanjaan tersebut, Felix pun melihat Luna yang sedang berjalan dari arah parkiran. Dan tanpa menunggu lama lagi, Felix segera menyerahkan kuncinya kepada petugas valet parking untuk bisa mengikuti gadis pujaannya.
Felix pun terus mengikuti kemanapun Luna pergi hingga akhirnya gadis pujaannya itu memasuki salah satu tempat makan di dalam pusat perbelanjaan tersebut. Felix yang mengikutinya pun turut memasuki tempat tersebut dan memilih meja yang cukup jauh dari tempat Luna duduk.
Namun, tanpa diduga, ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri Luna siang itu. Dan entah apa yang dibicarakannya, tiba-tiba saja Luna pergi meninggalkan tempat tersebut dengan wajah yang cukup panik.
Felix yang penasaran dengan kejadian itu pun akhirnya memutuskan untuk mendatangi wanita paruh baya yang masih berada di dalam tempat makan tersebut.
__ADS_1
“Selamat siang.” ucap Felix memberikan salam.
“Selamat siang. Maaf siapa ya?” tanya wanita paruh baya tersebut.
“Perkenalkan nama saya Felix.” ucap Felix memperkenalkan diri sebagai dasar dari sopan santun dan mengulurkan tangannya kepada wanita paruh baya di hadapannya.
“Saya, Rianti. Silahkan duduk dan katakan keperluanmu.” ucap Rianti, wanita paruh baya yang didatangi oleh Felix sambil menjabat tangan Felix dan mempersilahkannya duduk di hadapannya.
“Maaf, tante jika rasanya saya ikut campur. Tetapi saya hanya tertarik dengan pertengkaran tante bersama wanita muda tadi.” ucap Felix yang tidak ingin menunjukkan kepada wanita paruh baya dihadapannya bahwa dia mengenal Luna.
“Kenapa Anda mempertanyakan wanita pembawa sial itu? Apa hubungannya Anda dengannya?” tanya Rianti kembali mencoba mencari tahu tentang pria yang ada di hadapannya.
Pemikiran Rianti telah melanglang buana entah kemana. Rianti pun mulai menduga-duga tentang hubungan Luna dengan laki-laki yang ada dihadapannya ini. Laki-laki yang terlihat memiliki banyak uang dan kedudukan.
__ADS_1
“Saya adalah atasan dari wanita tersebut, tante. Dan melihatnya bertengkar dengan tante, membuat saya penasaran seperti apa wanita yang bisa membuat Anda sangat emosi.” jawab Felix.
Dan senyum Rianti pun mengembang sempurna karena mengetahui bahwa laki-laki dihadapannya adalah atasan Luna. Pikiran jahat pun kembali memenuhi kepala Rianti. Bagaimanapun juga, Rianti sangat kesal jika Luna tidak menderita seperti dirinya. Apalagi jika Luna bisa mendapatkan pekerjaan layak meskipun telah diursirnya dari rumah.
Rianti hanya ingin Luna merasakan sakitnya dibuang dan tidak memiliki apa-apa seperti dirinya dan keluarganya saat ini. Jadi, jangan salahkan jika semua rencana jahat agar Luna dipecat pun telah terancang dengan sempurna dikepala wanita paruh baya tersebut.
****************
Sebenernya Mith sendiri agak bingung mau membuat karakter Felix ini jadi orang jahat apa baik. Tapi yang jelas pengennya bikin Felix di pihak yang tidak disukai oleh Luna. Yah, selain pemaksa juga ada beberapa sifat yang tidak disukai oleh Luna gitu sih. Hehe..
Udah sampe segini, jangan lupa jejak kalian ya. Jangan lupa like, komen, dan vote nya.
****************
__ADS_1
-Bersambung-