
“Permisi, saya harus kembali.” ucap Luna akhirnya untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia sudah tidak sabar untuk bertanya banyak hal kepada Lino, tentu saja tentang kebebasan kedua orang tuanya.
Luna pun berjalan meninggalkan tempat tersebut tanpa mempedulikan lagi pesanannya. Rasanya semua lapar dan keinginannya untuk menikmati hidangan yang tengah viral itu sirna. Bahkan sekarang rasa-rasanya perutnya sudah sangat kenyang dan tidak membutuhkan asupan apapun.
Namun ketika baru beberapa langkah, Luna pun menghentikan langkahnya. Dan gadis itu pun menajamkan pendengarannya untuk meyakinkan dirinya tentang apa yang telah di dengarnya.
“Ibu minta maaf, Nak.” ucap Rianti. Kata-kata yang singkat tetapi dapat membuat seorang Luna Intan Permana mematung di tempat.
Sejujurnya, Luna sangat tidak yakin dengan permintaan maaf dari seorang Rianti. Karena selama ini, selama hidupnya, dengan semua sifat buruk yang diterimanya, Rianti tidak pernah meminta maaf. Bahkan rasanya menyesalpun tidak.
Akan tetapi, kali ini sang ibu itu meminta maaf kepadanya. Apakah ada yang salah dengan ibunya? Ataukah hukuman penjara selama beberapa bulan ini telah membuatnya jera sehingga menyesali semua perbuatannya?
Perdebatan demi perdebatan pun terjadi dalam benak Luna.
“Ayah juga meminta maaf, Nak.” ucap Surya memecah lamunan dan perdebatan yang ada di dalam benak Luna.
__ADS_1
“Apakah tidak salah Anda berdua meminta maaf kepada saya?” ucap Luna setelah menghela nafasnya dengan berat tanpa membalikkan badannya.
Sejujurnya, hatinya sangat sakit kali ini. Melihat kedua orang tuanya, rasanya ia tidak dapat melupakan semua kenangan buruk yang telah terjadi sejak ia kecil. Tanpa mengetahui apa kesalahannya, kedua orang tuanya itu selalu memperlakukan ia dengan tidak baik.
Tapi di satu sisi lain, Luna juga sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dan mendengar permintaan maaf yang keluar dari mulut kedua orang tuanya itu, rasanya sangat menyayat hatinya.
“Kami tahu kesalahan kami tidaklah sedikit, Nak. Tapi tidak adakah pintu maaf untuk kami?” jawab Rianti dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Atau kamu ingin kami bersimpuh di kakimu? Kami akan lakukan asalkan kamu bisa memaafkan kami, Nak.” sambung Surya menambahin perkataan dari istrinya yang tentu saja mendapatkan tatapan tajam dari sang
Luna pun terus terdiam. Hatinya kembali berdebat. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini ia sangat ingin berlari dan masuk kedalam pelukan kedua orang tuanya. Tetapi kembali lagi, ketika mengingat semua apa yang telah mereka lakukan, Luna kembali tidak yakin.
Terlebih ketika terakhir kalinya sang ibu berniat menjual dirinya hanya demi uang. Dan tidak sampai ‘menjual’ anaknya saja, tetapi Rianti juga terus mengancam Luna dan menjadikan gadis itu sebagai pohon uangnya saja.
“Maaf tapi saya harus pergi.” kata Luna pada akhirnya tanpa menanggapi lebih lanjut permintaan maaf dari kedua orang tuanya. Dan kali ini Luna benar-benar pergi tanpa dapat dicegah oleh Rianti dan Surya.
__ADS_1
Luna pergi dengan linangan air mata yang tidak dapat dihentikannya. Jika bisa, ia ingin berteriak sekencang-kencangnya, melepaskan sesak yang ada di dalam dadanya. Namun apa daya, dia masih harus bekerja untuk
memenuhi semua kebutuhannya. Terlebih lagi ia harus menyelesaikan semua pekerjaan dan pekerjaan atasannya sebelum mereka menikah.
Di sisi lain, Rianti dan Surya yang melihat Luna berlari keluar dan terlihat seakan menangis pun akhirnya menyunggingkan senyumnya. Salah satu rencananya telah berhasil. Rencana untuk memporak porandakan hati anak gadisnya. Kini mereka hanya perlu menyusup masuk kesana untuk mendapatkan kembali kepercayaan anak itu.
Setelah semuanya itu dilakukan, saat itulah mereka akan menjalankan rencana selanjutnya. Rencana yang semestinya dilakukan sejak awal tetapi akan sulit jika dilakukan tanpa menaklukkan hati Luna terlebih dahulu.
*********
Jangan lupa vote ya.. Like, komen, love nya juga.. Dan jangan lupa di save.
Terima kasih
*********
__ADS_1
-Bersambung-