Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 16 – Meminta Saran


__ADS_3

Perkataan Luna terus terngiang-ngiang di kepala Lino. Mulai dari penolakannya hingga tentang profesionalisme. Lino harus mengakui bahwa kali ini dia cukup tidak bersikap professional karena harus membicarakan hubungan pribadi di jam bekerja.


Namun, entah ada apanya dari gadis itu, Lino seakan tersihir hingga ingin dekat terus dengannya. Dan ini benar-benar baru sekali ini dirasakan oleh Lino. Biasanya dia akan dengan mudah mengendalikan dirinya dihadapan wanita. Bahkan dia akan cenderung menjauhi.


“Argh.. Harus bagaimana ini?” teriak Lino tanpa sadar yang sudah cukup lama terdiam.


“Elu kenapa?” tanya Roland yang tiba-tiba masuk ketika mendengar teriakan dari atasannya itu.


Roland yang memang hendak memberikan laporan kepada Lino cukup terkejut dengan teriakan dari atasannya tersebut. Oleh karena itu, ia pun tanpa mengetuk pintu, langsung memasuki ruangan atasannya.


“Elu gak bisa ketuk pintu dulu, Land?” tanya Lino yang cukup terkejut dengan kedatangan Roland menerobos ke ruangannya.


“Elu yang bikin gue kaget, Nyet. Gue mau kasi laporan tau-tau denger teriakan elu. Gue pikir elu kenapa-kenapa.” jawab Roland dengan santainya.


Ya, itulah mereka. Meskipun masih di lingkungan kantor, tetapi kedua orang ini bisa dengan santainya saling menghina atau memanggil dengan panggilan gue elu. Tapi kalau kalian berpikir bahwa Roland tidak sopan kepada atasan, mungkin kalian belum pernah menemukan hubungan persahabatan yang seperti saudara. Dan itulah mereka.

__ADS_1


Meskipun demikian, Roland akan dengan sekejap merubah panggilannya dan sikapnya jika berada di antara client ataupun para karyawan lainnya. Jadi, bisa dianggap bahwa becandaan ini hanya ketika ruangan tertutup.


“Pusing gue, Land.” ucap Lino kembali sambil mengacak rambutnya.


“Perasaan kerjaan belum gue kasi ke elu. Dan daritadi elu baru sidak doing. Pusing kenapa lu?” tanya Roland dengan sedikit heran. Pasalnya, pekerjaan yang harusnya di cek oleh Lino masih dipegang olehnya.


Lino pun menceritakan kebingungannya. Mulai dari ketertarikannya dengan seorang gadis di divisi keuangan hingga sikap tidak professional yang dilakukannya barusan tadi.


“Akhirnya ada gadis yang bisa membuat lu pusing, bro. Bahagia gue.” ucap Roland di sela-sela tawanya.


“Ampunlah, Pak Bos. Elu tau sendiri tunggakan gue banyak banget. Malah mau potong gaji gue lagi lu. Gak berperasaan amat lu mah.” kata Roland yang seketika berhenti tertawa karena takut gajinya benar-benar akan dipotong bos nya yang hampir tidak memiliki perasaan itu.


“Bantu gue cari cara, Roland. Dan elu juga cari tau tentang masa lalu dari gadis itu. Cari tau juga apakah dia punya kekasih atau gak. Kalau punya, pastikan dia putus dengan segera.” ucap Lino kembali kepada Roland sambil mengambil berkas-berkas yang ada di tangan Rolang, yang memang belum sempat diserahkannya kepada atasannya itu.


“Kerjaan gue banyak, No. Kenapa gak suru Cleon aja aja sih, No? Dia kan bagian HRD jadi pasti tau tentang tu cewek.” ucap Roland memberikan saran kepada atasannya yang sedang dibuat kalang kabut oleh seorang

__ADS_1


gadis.


Mendapatkan penolakan dari Roland, Lino pun hanya melemparkan tatapan tajam yang katanya bisa langsung menembus jantung orang yang ditatapnya. Dan Rolan pun tahu apa arti tatapan tersebut.


“Oke.. Gue cari tau segera.” kata Roland menyerah dengan perintah atasannya itu. Ia tahu, jika sudah mengeluarkan tatapan ‘mematikan’ tersebut, berarti Lino sedang dalam mode tidak bisa dibantah lagi.


Dan setelah perdebatan yang memakan waktu tidak sebentar itu selesai, Roland pun segera menjelaskan berkas yang tadi dibawanya. Ia memberikan laporan-laporan yang memang dibutuhkan oleh Lino. Roland juga menyerahkan beberapa berkas yang harus diperiksa dan ditanda tangani oleh Lino.


Setelah semua pekerjaannya selesai, Roland pun undur diri dari ruangan atasannya. Namun, sebelum pintu benar-benar terbuka, Roland kembali memberikan saran kepada Lino.


“Menurut gue, elu pindahin aja kerjaan dia jadi sekretaris pribadi elu mungkin, atau ke kantor kecil yang memang elu sering datengin.” ucap Roland sambil membuka pintu ruangan Lino dan meninggalkan atasannya itu sendirian.


****************


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2