Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 27 - Kemarahan Luna (1)


__ADS_3

“Lun..” panggil Felix


“Luna..” panggil Felix kembali karena tidak mendapatkan tanggapan apapun dari gadis yang ada di hadapannya.


“Luna” panggil Felix tidak ingin menyerah dengan menaikkan nada suaranya.


Luna masih tidak bereaksi terhadap ketiga panggilan yang dilakukan oleh Felix. Bukan Luna tidak tahu sopan santun. Tetapi sekali lagi, ini adalah salah satu reaksi ketidaksukaan Luna terhadap ‘pemaksaan’ yang telah dilakukan oleh Felix.


Jika bukan karena smartphone miliknya dipegang dan disimpan oleh laki-laki dihadapannya, mungkin Luna sudah pulang sejak tadi.


“Baiklah jika kamu memang masih tetap mau diam. Jangan salahkan saya kalau berbuat lebih.” ancam Felix yang masih tetap saja diacuhkan oleh Luna.


Luna masih tidak menanggapi ancaman dari Felix. Menurut Luna, karena ini adalah tempat umum, dan pada hari ini juga di café ini cukup ramai pengunjung, maka Felix tidak akan bisa melakukan hal-hal aneh kepadanya. Jadi Luna cukup yakin dengan keputusannya untuk tetap berdiam diri hingga menunggu smartphone nya dikembalikan oleh Felix.


Felix pun segera berpindah tempat duduk. Jika tadinya Felix dan Luna duduk berhadapan, maka kini Felix telah berpindah menjadi duduk di sebelah Luna.


Felix pun segera memegang kedua pipi Luna dan menguncinya sehingga Luna tidak dapat memalingkan wajahnya ke tempat lain. Dan tanpa membutuhkan waktu lama, Felix segera memajukan wajahnya dan mengecup bibir merah Luna.

__ADS_1


Cup


“Kamu..” kata Luna terhenti karena kecupan yang dilakukan oleh Felix kembali.


Cup


Luna yang masih tidak mempercayai kejadian yang baru saja terjadi pun hanya bisa terdiam. Namun keterdiaman Luna pun tidak lama. Ketika ketiga kalinya Felix hendak mengecup bibirnya, Luna pun telah melayangkan tangannya yang bebas ke wajah laki-laki di hadapannya.


Plak


Plak


Luna sudah tidak mempedulikan lagi smartphone nya yang saat ini masih dipegang oleh Felix. Selama masih ada uang di dompetnya ataupun kartu debit yang dibawanya, maka Luna masih bisa pergi kemana saja dengan aman. Urusan smartphone, Luna masih bisa membelinya lagi lain waktu.


Yang jelas, Luna tidak terima dengan penghinaan yang dilakukan oleh Felix kepadanya. Mencuri ciuman di bibirnya adalah sebuah penghinaan yang sangat besar bagi Luna. Dan Luna akan sangat tidak memaafkan hal tersebut.


“Luna, tunggu!” teriak Felix yang masih mengejar Luna keluar dari café.

__ADS_1


Mendengar teriakan dari Felix, bukannya Luna menghentikan langkahnya, tetapi gadis itu malah mempercepat langkahnya. Entah kenapa, hari ini rasanya sulit sekali mencari taxi yang masih kosong. Apakah karena hari ini


adalah akhir pekan sehingga banyak orang menggunakan jasa transportasi tersebut untuk bepergian.


“Luna, tunggu!” ucap Felix kembali sambil menarik pergelangan tangan Luna yang berhasil diraihnya.


Mau bagaimanapun juga, langkah kaki pria memang seringkali lebih cepat daripada langkah kaki wanita. Meskipun, wanita tersebut telah berusaha melangkah dengan sangat cepat menurutnya. Benar demikian?


Mendapati pergelangan tangannya digenggam oleh laki-laki yang telah mencuri ciuman dibibirnya, Luna pun hanya bisa mengibaskan tangannya. Rasanya dia sangat tidak sudi jika tangannya harus dipegang oleh laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita itu.


Dan ternyata, genggaman yang dilakukan oleh Felix pun tidak terlalu kencang. Sehingga kibasan yang dilakukan oleh Luna pun membuat genggaman tersebut terlepas.


Luna pun kembali melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia benar-benar sudah muak dengan semua yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya ini. Entah itu Felix ataupun Lino.


“Luna, tunggu!” ucap Felix kembali.


******************

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2