Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 145 – Papasan


__ADS_3

Luna pun menutup pintu ruanganya dengan sangat keras sehingga mengeluarkan suara yang bisa mengagetkan semua insan. Rasa-rasanya baru kali ini asisten pribadi dari CEO di PT Lino ini terlihat sangat marah hingga membanting pintu ruangannya sendiri. Untungnya, suara itu tidak sampai ke telinga sang CEO.


Kemudian, Luna segera membereskan barang-barangnya. Berkas-berkas berharga disimpannya dengan rapi di sebuah ruangan, dimana hanya dirinya dan Lino yang mengetahuinya. Luna juga membereskan mejanya.


Semuanya itu dilakukan Luna dengan perasaan jengkel yang menguasai hatinya. Namun, ia tetap berusaha untuk melakukannya dengan cepat. Ia sudah sangat ingin merilekskan badannya.


Dan ketika ia hendak membuka handle pintu yang tadi dibantingnya, smartphone nya pun berbunyi.


Nono


Nana, pulanglah terlebih dahulu. Nanti aku akan menyusulmu. Kabari aku dimana keberadaanmu dan aku akan menyusulmu setelah membereskan wanita gila itu.


Luna pun menghela nafasnya. Ia tidak bisa marah dengan atasannya sekaligus kekasihnya itu. Tetapi ia sangat marah dengan wanita yang berani-beraninya mengaku sebagai calon istri dari kekasihnya. Namun, Luna tahu, menghadapi iblis, berarti dia harus lebih pintar dari iblis itu. Oleh karena itu, ia pun mengikuti permainan wanita itu.


Luna juga tahu bahwa Lino telah menyiapkan sebuah rencana untuk membalikkan ‘serangan’ dari wanita iblis itu. Tetapi yang Luna tidak tahu, rencana apa yang akan dijalankan oleh Lino nantinya. Jadi, Luna pun saat ini hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh atasan sekaligus kekasihnya itu.

__ADS_1


Setelah membaca pesan dari Lino, Luna pun kembali memasukkan smartphone nya ke dalam tas tangannya. Ia pun berlalu dari ruangan tersebut. Dan ketika ia sampai di depan lift, saat itu juga Lino dan Retha menuju ke arah lift dengan wanita itu memeluk manja lengan sang lelaki.


Mereka pun menunggu lift terbuka dalam keterdiaman. Tetapi sudut mata Luna selalu mengawasi dua orang yang ada disebelahnya. Mata Lino pun tidak pernah bisa berpaling dari kekasihnya itu.


Ting.. Lift pun terbuka. Mereka pun masuk kesana.


“Berikan kartu akses Anda saat ini juga. Mulai besok, Anda, Nona Luna, dilarang menginjakkan kakimu di area kantor utama PT Lino, beserta semua anak cabangnya.” ucap Retha memecah kesunyian yang terjadi


diantara mereka bertiga.


“Kau tidak bisa memerintah sesukamu, Retha.” tegur Lino dengan menahan emosinya saat ini. Ia sangat ingin membela Luna dan memaki wanita yang katanya mencintai dirinya.


“Oya? Sebentar lagi aku yang akan menjadi Nyonya Adelino Damaresh. Jadi darimana aku tidak bisa memerintah? Bahkan setelah ini, aku yang akan mengatur semua keuangan kita karena itulah tugas istri. Suami hanya perlu bekerja untuk mencari uang untuk istri dan anak-anaknya.” balas Retha dengan keyakinan yang sangat tinggi. Namun, ia tidak tahu bahwa perkataannya itu sedikit banyak menunjukkan jati dirinya sendiri.


“Cih.. Baru akan aja bangga.” lirih Luna dengan wajah yang muak dengan perkataan Retha saat ini. Wanita manja yang hanya bisa bergantung pada laki-laki, pikir Luna.

__ADS_1


“Apa Anda bilang? Coba ulangi!” titah Retha yang sebenarnya mendengar ucapan Luna.


“Anda hanya bisa menggunakan ************ Anda untuk menarik perhatian laki-laki demi mendapatkan uang. Kasian sekali orang tua yang sudah menyekolahkan Anda karena ternyata otak Anda ada di ************.” kata


Luna dengan tegas dan wajah yang meremehkan.


“Kau!!!” teriak Retha sambil mengangkat tangannya hendak menampar wanita yang berani mengatainya saat ini. Padahal jika dilihat, wanita yang ada dihadapannya itu hanyalah seorang karyawan, berbeda dengan dirinya yang seorang anak pengusaha. Tetapi karyawan itu berani-beraninya mengatai dirinya.


Beruntungnya, sebelum tangan Retha melayang ke pipi mulus Luna yang kemerahan karena blush on itu, pintu lift pun terbuka. Mereka telah sampai ke tujuan. Dan Luna pun melenggang keluar tanpa mempedulikan


teriakan-teriakan dari Retha yang menggema di seluruh lobby PT Lino.


*********


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2