Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 40 – Bertemu Bunda (3)


__ADS_3

Makan malam pun telah usai. Kini, Bunda Nadia, Luna, dan Lino pun duduk di ruang keluarga rumah tersebut untuk saling bercerita satu sama lainnya. Suasana hangat pun menyelimuti ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu.


Hingga tiba-tiba, Bunda Nadia pun melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang agaknya sulit untuk Luna jawab.


“Luna, sekarang apa pekerjaan kamu?” tanya Bunda Nadia.


“Luna bekerja sebagai asisten pribadi Lino, Bunda.” ucap Lino membantu Luna untuk menjawab pertanyaan dari Bunda Nadia.


“Wah, pantas saja kamu semakin giat bekerja. Asisten pribadi kamu secantik ini.” ucap Bunda Nadia dengan bahagia karena mendengar perkataan Lino.


Menurut Bunda Nadia, dengan bekerja sebagai asisten pribadi Lino, maka hubungan Luna dan Lino pastilah sangat dekat. Selain itu, mereka juga bertemu setiap hari tanpa harus diaturkan jadwal oleh Bunda Nadia seperti sebelumnya.


Mendengar jawaban dari Bunda Nadia, Lino dan Luna pun hanya bisa menampilkan senyumnya. Apa yang dipikirkan oleh Bunda Nadia tentunya sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada menurut Luna.


Namun, Luna tidak ingin merusak pemikiran dari Bunda Nadia.


“Jadi, Luna, karena kamu sehari-hari sudah bertemu dan banyak waktu yang telah kalian habiskan untuk saling mengenal, apakah kamu sudah siap untuk menikah dengan Lino?” tanya Bunda Nadia tiba-tiba dan mengagetkan Luna beserta Lino.


Luna yang tidak bisa menjawab pertanyaan Bunda Nadia pun hanya menatap Lino sangat lama. Ia sangat tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti ini di pertemuan pertama.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Bunda Nadia tanpa rasa bersalah ketika melihat perubahan raut wajah yang terjadi antara Luna dan Lino.


“Bunda kenapa langsung tanya begitu sih? Bunda ngagetin Luna dan No juga lho.” jawab Lino membantu Luna untuk menjawab pertanyaan Bunda Nadia.


“Apa salahnya sih No kalau Bunda menanyakan langsung ke calon menantu Bunda yang sudah ada di depan mata ini? Kalian sudah menjalin hubungan, tentunya bukan untuk main-main kan? Karena kalau untuk main-main,


mending kalian selesaikan saja sekarang.” ucap Bunda Nadia menjelaskan.


Ya, Bunda Nadia memang terkesan terburu-buru ingin melihat anak laki-laki satu-satunya itu menikah. Dan karena Lino sendiri yang telah membawa seorang gadis kehadapannya, maka Bunda Nadia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.


“Bunda, bukan begitu. No dan Luna memang belum membicarakan hingga sejauh itu. Kami juga masih mau saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu.” ucap Lino mencoba memberikan penjelasan kepada Bunda Nadia.


Luna yang sejak tadi masih shock dengan pertanyaan Bunda Nadia pun hanya bisa terdiam. ia sungguh tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan Bunda Nadia. Karena tidak mungkin kan kalau Luna membongkar semua kerja sama antara dirinya dan Lino dihadapan Bunda Nadia? Tetapi untuk menikah dengan Lino? Rasanya Luna juga tidak akan pernah siap.


“Bagaimana Luna? Apakah kamu siap jika nantinya menikah dengan Lino?” tanya Bunda Nadia kemudian kepada Luna karena tidak mendapati jawaban apapun dari Luna sejak tadi.


Luna pun masih terdiam dan terus berpikir untuk jawaban yang pantas untuk diberikan kepada Bunda Nadia. Luna benar-benar dihadapkan pada pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.


Dan detik-detik yang menegangkan pun terus berjalan. Menegangkan untuk Lino dan Luna tentunya. Tetapi masih cukup menyenangkan untuk Bunda Nadia.

__ADS_1


“Maaf, Bunda. Mungkin untuk saat ini Luna belum bisa mengatakan siap untuk menikah dengan Lino. Bukan berarti Luna menolak tetapi kita bisa jalani dulu saja. Jodoh tidak akan ada yang tahu kan, Bunda? Yang terpenting buat Luna, dan pastinya juga buat Lino adalah dukungan Bunda untuk kami, baik dalam hubungan saat ini maupun pekerjaan kami.” ucap Luna akhirnya memberikan jawaban setelah menghela nafas sesaat.


Mendapati jawaban dari Luna, Lino pun hanya bisa mengembangkan senyumnya. Lino pun turut lega dengan jawaban dari gadis yang  dibawanya. Rasanya benar-benar tidak salah untuk membawa gadis itu dan mengajaknya bekerja sama.


“Baiklah, jika itu memang mau kalian. Bunda akan menunggu. Tetapi Bunda juga berharap tidak terlalu lama hubungan kalian akan diresmikan ke jenjang yang lebih serius. Bunda sudah tidak sabar untuk menimang


cucu selagi Bunda masih sempat.” ucap Bunda mengakhiri pembicaraan yang menegangkan ini.


Mereka pun sama-sama tersenyum dan melanjutkan obrolan ke berbagai pembicaraan lainnya. Mulai dari pekerjaan, klien, hingga masa kecil Lino. Luna sendiri lebih banyak mendengarkan cerita-cerita dari Bunda Nadia sambil sesekali mengenang masa kecilnya yang cukup menyakitkan.


Hingga tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Luna pun berpamitan dengan Bunda Nadia untuk kembali ke kediamannya karena sudah sangat malam. Bunda Nadia pun melepas kepergian Luna dan Lino


dengan pesan agar Luna sering-sering mampir ke tempatnya. Dan Luna pun hanya menjawab dengan anggukan kepala tanda menyetujui permintaan Bunda Nadia.


***********


Disini, Mith ingin menggambarkan Bunda Nadia itu sebagai seorang ibu yang tegas tetapi cukup memberikan kebebasan juga kepada anaknya. Dan dia juga tidak memandang sebelah mata terhadap sebuah status dari orang lain. Yah, bisa dibilang ibu-ibu kaya tetapi memiliki kebijaksanaan gitu sih. Bagaimana menurut kalian?


***********

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2