
Sepeninggal Jordan, Luna masih duduk termenung di tempatnya. Sejujurnya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dan sedari tadi kakaknya itu berbicara, Luna tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk
memotong perkataan tersebut.
Luna memang gadis yang sangat lembut hatinya. Bahkan dengan keluarga yang selama hidupnya sangat kejam kepadanya itu, hatinya masih tidak tega untuk meninggalkan. Terbukti dengan kegundahan dihatinya saat ini.
Setengah hatinya sebenarnya Luna ingin menjenguk sang ibu. Terlebih kata Jordan, Rianti sering menyebut namanya. Bisa jadi penyakitnya cukup parah hingga wanita paruh baya itu sering menyebutkan namanya.
Namun setengah hatinya lagi melarang untuk kesana karena takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ia ingat betul bagaimana Rianti mengurungnya di dalam kamar dan selalu memberikannya obat tidur agar ia
tidak bisa kabur dari rumah tersebut hingga akhirnya dia berada di luar negeri bersama laki-laki yang sangat tidak ia inginkan.
Luna pun menghembuskan nafasnya dengan berat. Pergolakan batinnya seperti ini benar-benar menyiksanya. Dan perkataan Jordan terus saja berputar di kepalanya.
Luna pun sebenarnya membenarkan semua perkataan Jordan. Mau bagaimana pun juga, mereka adalah satu keluarga dan bagaimanapun jahatnya mereka, darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan darah mereka.
Jika bisa, rasanya Luna ingin berteriak yang sangat kencang agar bisa melepaskan penat yang ada di hatinya itu. Melepaskan semua sesak yang ditimbulkan oleh kehadiran kembali keluarganya itu. Ingin juga rasanya ia menghilang ke tempat dimana tidak ada orang yang bisa menemukannya.
Setelah tidak mendapatkan jawaban apapun, akhirnya Luna pun berlalu dari tempat itu. Mungkin nanti dia akan bertanya kepada Lino ataupun Vina agar masalahnya ini bisa terselesaikan. Dan Luna pun berlalu dari tempat tersebut untuk kembali ke kantornya. Semua keinginannya untuk menyantap makanan mendadak hilang dan rasa lapar pun berganti dengan rasa kenyang seakan telah menghabiskan beberapa porsi makanan sekaligus.
********
__ADS_1
“Kamu gakpapa kan? Dia gak nyakitin kamu kan? Kamu gak jadi beli makanan keinginan kamu?” Lino pun memberondong pertanyaan ketika Luna baru saja melangkahkan kakinya keluar dari lift di lantai tempat
ruangannya berada.
Luna yang masih memikirkan setiap perkataan Jordan pun terkejut dengan suara atasan sekaligus kekasihnya itu. Ia tidak menyangka akan disambut dengan banyak pertanyaan seperti ini.
Untuk menjawab semua pertanyaan Lino, Luna pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu harus darimana menjawab semua pertanyaan Lino tersebut.
“Katakan Luna, aku tidak paham dengan gelengan kepalamu.” ungkap Lino sambil memegang kedua pundak kekasihnya itu.
“Aku baik-baik saja. Jordan tidak menyakitiku dan setelah berbicara dengan dia, selera makanku mendadak hilang. Laparku pun entah kemana sehingga aku memutuskan untuk kembali ke kantor tanpa membeli makanan
Luna tahu bahwa kekasihnya itu tidak bisa membaca pikiran orang lain. Dan seperti semua orang ketahui bahwa sebagian besar makhluk dengan jenis kelamin laki-laki itu sangatlah tidak peka. Oleh karena itu, kode yang diajukan oleh wanita pun tidak akan mereka mengerti jika tidak dibicarakan dengan jelas.
“Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa. Tadi sebenarnya aku pengen nyusulin kamu. Tapi aku takut kalau-kalau ternyata dia mau berbuat sesuatu ke kamu tapi gak jadi karena ada aku. Jadi aku memilih untuk bersembunyi sehingga jika dia berbuat jahat, kita bisa menangkapnya dan menjebloskannya kembali ke penjara.” kata Lino dengan santai.
Luna yang mendengar perkataan Lino pun cukup terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Lino berpikir sejauh itu. Dan bahkan ia seakan mengumpankan dirinya agar salah satu dari anggota keluarganya kembali mendekam di balik jeruji besi.
Meskipun Luna juga tidak tahu apakah dia telah mengikhlaskan semua perlakuan keluarganya itu, tetapi mendangar ada orang yang ingin berbuat jahat, walaupun demi kepentingannya, kepada anggota keluarganya,
tentu saja membuatnya tidak senang.
__ADS_1
Dan Luna pun mulai kembali berpikir untuk menceritakan semua yang dibicarakan Jordan kepada kekasihnya itu. Karena Luna sangat yakin jika Lino pasti akan menolak semua permintaan Jordan.
Kini pun rasanya Luna mulai ragu dengan Lino. Karena bagaimanapun juga, sebagaimana jahatnya kedua orang tua dan kakaknya, mereka tetaplah keluarga Luna. Dan tampaknya Lino tidak dapat menerima mereka. Jika
demikian, apakah Lino bisa menerima Luna dengan tulus karena sebenarnya ia adalah anggota dari keluarga tersebut?
Luna pun memilih untuk meninggalkan Lino dengan perasaan yang semakin campur aduk. Ingin marah tapi sedikit banyak yang dikatakan Lino itu benar. Tetapi ia juga sangat tidak suka dan perkataan kekasihnya itu sangat menyinggungnya.
Yah, mungkin inilah yang dinamakan darah lebih kental daripada air. Jadi mau bagaimana pun kita marah dan benci pada keluarga kita, tetapi kita tidak akan rela jika ada yang menjelekkan atau hendak berbuat jahat kepada keluarga kita sendiri.
***********
Bagi sebagian orang, punya keluarga meskipun telah berbuat jahat kepada kita akan lebih baik daripada tidak memiliki keluarga sama sekali. Tetapi bagi sebagian orang, menjadi individu mandiri yang tidak tergantung pada siapapun, tidak akan masalah apakah ada keluarga atau tidak.
Bagaimana dengan kalian?
**Terima kasih bagi kalian yang sudah terus membaca novel ini. Jangan lupa untuk love, komen, like, dan vote nya ya.**
************
-Bersambung-
__ADS_1