
“Dimana salah Luna, Bun? Luna tidak minta terlahir di dunia ini. Tapi kenapa Luna tidak bisa merasakan bahagia sejak Luna kecil?” tanya Luna dengan air mata yang berlinang. Ya, akhirnya tangis Luna pun pecah saat itu. Ia tidak bisa lagi menetupi sakit hatinya dengan kekerasan yang selama ini ditunjukkannya.
Bunda Nadia yang melihat tangis Luna pun berpindah tempat duduk. Kini ia duduk di samping gadis yang sangat rapuh itu. Memeluknya dengan kasih sayang. Berharap bisa meringankan sedikit penderitaan yang dialami
oleh Luna. Melegakan perasaannya yang penuh dengan tekanan. Karena mau bagaimana pun juga, Luna tetaplah seorang gadis yang akan mengutamakan perasaan daripada logika.
Namun Luna memang bukanlah gadis seperti gadis-gadis lainnya. Ia hanya perlu menumpahkan tangisnya sesaat dan setelah itu, ia akan kembali menjadi Luna yang kuat dan tak tergoyahkan. Luna yang keras untuk menutupi semua kerapuhannya.
“Maafkan Luna, Bun. Luna juga tidak tahu kenapa Luna bisa sampai menangis seperti tadi. Maaf kalau Luna membuat Bunda malu dengan tangisan Luna.” ucap Luna setelah berhasil menormalkan kembali perasaan dan
nafasnya.
Bunda Nadia pun hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Luna. Entah kenapa, meskipun rasanya sakit mendengar cerita Luna, tetapi ada sedikit kebahagiaan di hatinya. Karena dengan jujurnya Luna, berarti gadis itu mempercayai dirinya.
“Bunda malah senang kamu mau menceritakan semuanya kepada Bunda, Luna. Itu berarti kamu percaya dengan Bunda. Kamu percaya kalau Bunda sangat menyayangimu.” ucap Bunda Nadia sambil mengelus rambut Luna yang
__ADS_1
sangat indah.
Luna pun hanya menganggukan kepalanya. Ia juga tidak tahu kenapa bisa sampai percaya dengan Bunda Nadia. Bisa jadi karena kasih sayang yang dirasakannya dari Bunda Nadia, membuatnya nyaman berada di dekat
wanita paruh baya itu. Dan lama kelamaan, ia pun percaya bahwa Bunda Nadia tidak akan mengecewakannya.
“Kalau boleh Bunda tahu, Lun. Apakah kamu menganggap Lino seperti laki-laki yang telah jahat padamu? Apakah Lino menunjukkan sikap yang tidak pantas sehingga kamu ragu untuk melangkah bersamanya?” tanya Bunda
Nadia sambil masih terus membelai rambut Luna yang masih berada dalam pelukannya.
Luna pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Selama bekerja bersama dengan Lino, laki-laki itu tidak pernah berbuat tidak pantas terhadapnya. Bahkan laki-laki itu sangat sopan kepadanya. Meskipun Luna beberapa kali menginap di rumah Bunda Nadia, tetapi Lino tidak pernah memanfaatkan situasi di tempat yang notabenya masih rumahnya sendiri.
Luna pun terdiam mendengar ucapan Bunda Nadia. Tidak ada paksaan sama sekali dalam setiap kata yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu. Tidak ada juga ancaman untuk menerima Lino seperti yang ia baca di
novel-novel.
__ADS_1
“Bunda memang tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Akan ada kalanya Lino akan menyakitimu. Atau mungkin Bunda yang akan menyakitimu. Tetapi percayalah. Percayalah bahwa tidak ada maksud jahat dibalik itu semua, Luna. Kamu cukup percaya dan menjalaninya saja.” kata Bunda Nadia melanjutkan nasehatnya setelah dirasa tidak ada pergerakan dari Luna yang diyakininya bahwa gadis itu mendengarkan setiap kata yang diucapkan.
Luna pun masih bergeming. Ia masih terdiam dalam pelukan wanita paruh baya yang entah kenapa bisa sangat menyayanginya.
“Cobalah, Lun. Bunda tidak akan memaksamu. Bunda juga tidak akan memohon kepadamu. Semua keputusan ada ditanganmu. Bersama atau tidak, kamu tetap anak perempuan Bunda. Bunda sangat menyayangimu sama seperti
Bunda sayang terhadap Lino.” kata Bunda Nadia kembali. Perkataan yang cukup menusuk untuk di dengar oleh Luna. Karena di perkataan itu, mengandung sebuah harapan tetapi juga memberikannya kebebesan.
Luna pun memeluk Bunda Nadia semakin erat. Rasanya ia tidak ingin melepaskan moment-moment ini. Rasanya juga ia ingin mencurahkan semua kasih sayang dan pengabdiannya kepada wanita paruh baya ini, sebanyak
Bunda Nadia mencurahkan kasih sayang kepadanya, atau bahkan lebih.
***********
Happy weekend, all.. Selamat menikmati waktu bersama keluarga masing-masing.
__ADS_1
***********
-Bersambung-