Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
BAB 3 : HARI BARUKU


__ADS_3

BAB 3 : HARI BARU



Tidak seharusnya kau mengeluh karena sebuah cobaan, yang cobaan itu nantinya akan bisa membuat dirimu lebih baik.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Hari ini adalah hari terberat untuk Riska, bukan karena dia menyesali atas apa yang sudah terjadi, tetapi dia berfikir bagaimana cara untuk mencari uang tambahan untuk pengobatan papahnya. Sesampainya di sekolah, Riska langsung masuk kedalam kelas dengan wajah yang lesu.


"Hayo, nglamun aja pagi-pagi" Kaget mario dari belakang riska. Mario adalah ketua kelas di kelas riska.


"Eh yo, hahaha... Enggak kok aku lagi mikirin PR matematika kemarin susah banget" Jawab riska dengan ketawa recehnya.


"Jangan bohong kau ris, aku kenal kamu dari SD ya. Ada apa cerita aja mungkin aku bisa bantu" Jawab Mario, dengan mendorong kecil pundak Riska.


"Haha apa sih, sok tau lu tutup kecap" Jawab Riska dengan sedikit menoyor kepala Mario.


"Masih gak mau cerita? Mau aku cubit ginjalnya" Canda Mario sambil mencubit lengan Riska.


"aduhh.. Sakit tau gak. Iya iya aku cerita, jadi gini. Papah masuk Rumah sakit lagi rio, dan bayar Rumah sakitnya mahal banget. Bingung aku harus dapat uang dari mana. Tabungan aku sudah habis. Gaji dari cafe mana cukup buat bayar Rumah sakit" Jawab Riska dengan raut wajah yang mulai sendu.


"Ris, mungkin aku gak bisa bantu banyak tapi kamu mau gak bantuin ibu kantin ? Kalau pas istirahat atau gak nitip makanan apa gitu ke kantin. Kamu bisa bikin kue kan, nanti aku bantu deh buat ngejual ke temen temen lainnya" Jawab mario menawarkan bantuan.


"Benar juga kata mario, kenapa aku tidak coba membuat donat atau kue aja. Lumayan buat tambah uang tabungan" Batin dari Riska


"Wah iya bener, kadang pinter juga ketua kelasku ini. Terima kasih ya pak ketua" Canda Riska sambil mencubit pipi Mario.


"Kebiasaan, sakit nyet" Jawab Mario sambil mengusap pipinya.


"Bodo ah, mau balik ke bangku ku sendiri, bau banget kau Ris belum mandi ya" ejek Mario sambil sok-sokan menutup hidungnya.


"enak aja, aku udah mandi ya. bau mulut kamu sendiri itu mah hahahaha" jawab Riska dengan tertawa receh andalannya.


Mario pun meninggalkan Riska sendiri di bangkunya, dan Riska pun kembali melamun memikirkan bagaimana caranya untuk Nabung penggobatan ayahnya.


Kringgg....kringgg.....kringg......


Suara bel masuk berbunyi.


Semua murid masuk kedalam kelas, riuh suara bercandaan mereka terdengar menggema di kepala Riska. Tiba tiba seketika suasana kelas jadi sunyi, karena Bu Rosa wali kelas mereka masuk kedalam ruangan kelas.


"Pagi anak-anak" Sapa Bu Rosa.


"Pagi Bu........" Jawab mereka dengan kompak.


"Anak-anak ibu mau memberikan informasi untuk kalian, beberapa minggu lagi kita akan melaksanakan Ujian Semester 1. Untuk kalian yang masih ada tanggungan pembayaran segera di lunasi ya. Agar kalian bisa mengikuti ujian semester" Kata dari Bu Rosa, sambil duduk di kursinya.

__ADS_1


Seketika, fikiran Riska menjadi semakin berat. Beban satu belum selesai, datang lagi beban berikutnya. Pelajaran yang di berikan pun tidak masuk di dalam otaknya yang ada di otaknya sekarang hanyalah, bagaimana caranya dia bisa menutup semua tanggungannya, dan dia masih tetap bisa melanjutkan sekolahnya. Mario pun melihat kegelisahan di raut wajah temannya itu. Mario juga ikut kepikiran bagaimana caranya membantu Riska ?


"Ris, kenapa sih lu. gue harus bantu apa" batin Mario sambil mengamati Riska yang sedari tadi menaruh tangan di dagunya


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Tidak terasa jam pelajaran pertama sudah selesai, Sekarang masuk jam pelajaran ke dua. Yaitu waktunya pelajaran Pak Jamal bahasa Indonesia.


"Assalamualaikum" Salam dari pak Jamal.


"Waalaikum salam wr.wb Pak" Jawab para murid serentak.


"Bagaimana dengan tugas kalian ? Sudah selesai ? " Tanya pak Jamal.


Murid-murid hening tidak menjawab apa-apa.


"Ya sudah bapak panggil menurut absen ya, kalian maju. Kalian bacakan cerita kalian" Ucap pak Jamal sambil membuka buku absen.


Semua murid terdiam, ada yang baru mulai menulis, ada yang bingung dimana buku tugasnya. Sampai ada yang demam panggung karena gugup untuk bercerita di depan kelas. Riska pun masih melamun memikirkan tentang masalah hidupnya.


"Yang pertama Annisa Wahyuni" Panggil dari pak Jamal.


"Saya pak" jawab dari Annisa, lalu ia maju kedepan kelas untuk membawakan cerita hasil karyanya.


Aniisa pun membawakan karya ceritanya dengan apik dan menjiwai.


"Dan akhirnya aku tau, bahwa aku bukanlah anak dari orang tuaku. Dan selesai" Penutup dari Annisa yang mampu membuat anak-anak satu kelas bertepuk tangan.


"Terima kasih pak" jawab Annisa lalu beranjak kembali ke bangkunya.


"Saya pak" jawab dari Mario.


Mario dengan percaya diri maju kedepan kelas. Dan mulai membacakan ceritanya.


Mario menceritakan tentang Hobby bermusiknya yang di tentang oleh ayahnya. Paragraf demi paragraf dia bawakan dengan bagus. Walaupun ada beberapa kata yang salah penyebutan. Tapi mampu membuat temen-temennya bertepuk tangan karena kagum.


"Bagus mario, silahkan duduk. Yang selanjutnya Ariska Hafya" Panggil pak Jamal kemudian. Namun, Riska tidak menjawabnya. Dia masih tetap melamun.


"Ariska Hafya" panggilan ulang dari pak Jamal.


"Ris, giliranmu maju tuh" Senggol bella teman sebangkunya.


"Hah ngapain maju? Ada apa?" Jawab Riska karena kebingungan.


"Ariska Hafya maju kedepan sekarang juga" Teriak dari pak Jamal.


"Ehhh iya pak, saya pak" jawab Riska dengan gugup.

__ADS_1


Dan dengan sigap Riska mencari buku tugasnya, dan ternyata buku itu tertinggal di rumah. Riska bingung sekali, akhirnya dia memberanikan diri untuk maju kedepan dengan membawa buku kosong.


"Silahkan bercerita" Ucap pak Jamal.


"Eee.. Saya.. Ee... Eh.. Saya." Ucap Riska dengan terbata-bata.


"Ayo riska kamu bisa, ayo mulai bercerita" Batin dari Riska.


"Riska kamu tidak mengerja..." Belum sempat pak jamal selesai berbicara, Riska sudah memulai ceritanya.


"Hai teman-teman. Perkenalkan namaku Riska. Hari ini aku mau menceritakan tentang Kisahku" Pembukaan dari Riska. Teman-temannya masih tidak mendengarkannya. Mereka masih asyik ngobrol sendiri. Sampai akhirnya masuk di pertengahan cerita. Mereka mulai tertarik mendengarkan cerita dari Riska.


"Kini aku menjalani hidupku dengan ikhlas. Apa yang aku dapat sekarang, karena Tuhan sayang aku. Aku tidak pernah menyalahkan Takdir. Mau bagaimanapun apapun yang aku berikan kepada orang tuaku tidak akan bisa menggantikan segala kebaikan mereka" Ucap Riska, yang mulai menitihkan air bening di sudut matanya.


"Ayahku selalu berkata, kalau kita mau naik derajat berarti kita tidak boleh mengeluh atas apa yang sedang kita jalani sekarang. Sebesar apapun cobaan, kalau kita ikhlas akan menjadi ringan" Tambah dari Riska.


Suasana kelas mulai menjadi Haru, beberapa siswa sudah meneteskan air matanya.


"Hari ini aku tahu, pengorbanan ayahku demi kami semua anak-anaknya. Yang harus bangun pagi, berangkat bekerja, pulang malam. Dan aku menyesal pernah bilang ayah jahat, karena ayah gak sayang kita semua selalu saja mementingkan pekerjaannya. Tapi ternyata salah. Selama ini ayah sayang banget sama aku dan saudara-saudara aku. Ayah rela membuang rasa lelahnya. Hanya untuk kami anak-anaknya" Air bening itu tidak bisa terbendung lagi. Pecahlah tangis Riska saat menceritakan tentang perjuangan ayahnya. Tidak hanya Riska, orang-orang satu ruangan di buat menangis karena cerita dari riska.


"Dan untuk kalian, yang sekarang masih di biayai sama kedua orang tua kalian. Sekolah yang sungguh-sungguh ya. Karena orang tua kalian kerja keras untuk kesuksesan anaknya, sekian dari saya. Dan selesai" Penutup dari Riska yang mendapatkan tepuk tangan riuh dari teman-temannya, dan tentunya dari pak Jamal juga. Yang juga terlihat meneteskan air matanya.


"Riska saya tau, di bukumu itu tidak ada tulisan apa-apa. Semua keluar dari hati kecilmu nak. Bapak kasih kamu nilai 95, bapak bangga sama kamu Riska" Ucap pak jamal sambil memeluk Riska, yang masih terisak.


Dan karena cerita itu. Riska tau, apa yang harus dia lakukan sekarang.


Dia tidak boleh menyerah, ayahnya selalu mengajarkan kepadanya untuk tidak menyerah. "Ayah terima kasih, semua kata-kata ayah sangat berguna untuk Riska sekarang, hari ini Riska siap menjalani hari baru Riska ayah, semangat. Ini semua demi ayah" Ucap riska dalam hatinya.


🍀🍀🍀🍀🍀


**Hehehe... Bagaimana nih pembaca.


masa-masa Sekolah kalian pasti seperti teman-teman Riska kan.


Yang selalu gugup kalau disuruh maju ke depan kelas untuk bercerita hihi...


Oh iya...


Terima kasih ya sudah membaca Episode sebelumnya.


Terima kasih untuk Like dan Commennya juga :)


Sangat membantu saya untuk lebih semangat lagi untuk menulis.


Dan satu lagi.


Jangan lupa bersyukur ya temen-temen.

__ADS_1


Semoga hari kalian selalu bahagia.


see you <3**


__ADS_2