Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
BAB 2 - AKU BISA


__ADS_3


Aku tau, kalau roda hidup itu akan selalu berputar. Jadi aku tidak boleh menyerah. Hidup keluargaku ada di tanganku.


 


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


 


Ibu Nadira adalah pemilik cafe "7 LORONG" tempat kerja riska selama ini. Bu nadira orangnya baik, buktinya dia mau menerima seorang riska, anak SMA yang belum ada pengalaman kerja untuk bekerja di cafenya.


"Riska, besok lagi kasih tau ibu ya kalau kamu ada apa-apa di jalan. Ibu khawatir soalnya kamu udah telat 1 jam kerja nak" kata bu nadira dengan lembutnya.


"Maafkan riska bu dira, riska salah tidak mengabari cafe terlebih dahulu. Tadi riska panik melihat darah di badan nenek itu cukup banyak" jawabnya sambil menundukan kepala.


"Iya udah sana kamu kerjain kerjaan kamu" kata bu nadira, sambil berdiri dan berjalan ke dalam ruangannya.


"Huhh.. selamat aku, untung aku punya bos yang baik" kata riska sambil membuang nafas perlahan.


"Oke sekarang waktunya kerja, semangat riska, 1 bulan lagi harus bayar uang buku LKS. Kamu bisa go go go semangat" ucap riska, menyemangati dirinya sendiri dalam hati.


Riska mengerjakan semua pekerjaannya dengan hati yang ikhlas dan semangat


Mulai dari mencuci piring dan gelas, menyapu lantai depan cafe, membersihkan kaca, sampai mengambil bekas piring para pengunjung. Dia melakukan semuanya dengan hati gembira karena ayahnya pernah bilang "hati yang gembira adalah obat yang paling ampuh" dan saat ini, dia hanya butuh sebuah rasa bahagia. Untuk menutupi rasa letihnya setelah seharian di sekolah lalu melanjutkan bekerja untuk keluarganya.


Rasa sesak terasa di cafe tempat kerjanya, puluhan kepala memenuhi kursi-kursi di dalamnya.


"Mbak pesan es moccacino 1, gulanya dikit ya"


"Teh pesan roti bakar coklat sama lemontea ya. Masing-masing 2 porsi"


"Mbak saya tambah kopi hitam 1 ya, untuk meja nomor 8"


"Aduhhh ini kenapa pesannya bareng-bareng, aku bingung" batin riska, melihat pesanan yang datang bersama-sama.


Lalu riska berjalan menuju dapur untuk memberikan pesanannya ke bang aldi, chef yang ada di cafe itu.


"Bang aldi pesanan baru, riska taruh sini ya. Riska mau sambil ngerjain PR sambil nunggu pesanan selesai dimasak" ucap riska, sembari menempel pesanan pada papan yang sudah tersedia di dapur.


"Oke neng taruh situ aja" teriak bang aldi, yang masih fokus membuat nasi goreng spesial cafe ini.


Riska pun melanjutkan untuk mengerjakan tugasnya. Riska terbilang anak yang pintar, di sekolahan dia adalah salah satu anak "EKSELERASI" di SMAnya.


Setiap harinya dia harus berangkat pagi-pagi sekali untuk Pelajaran tambahan sekitar jam 06.00 pagi.


Dan sorenya dia melanjutkan di cafe 7 lorong sampai jam 11 malam.


Kapan belajarnya ? Kapan istirahatnya ?


Riska anak yang pandai untuk membagi waktunya, di sela-sela istirahat kerjanya, atau jika cafe sedang sepi. Dia selalu mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Terkadang juga dia memilih untuk memejamkan matanya sejenak, jika dirasa tugas sekolahnya sudah selesai semua.


"Riska, pesanan mu ini sudah semua. Untuk meja nomor 12 ya neng" kata bang aldi mengagetkan riska, yang sedang fokus menghitung rumus-rumus matematika. "Oke siap abang" dengan cekatan, riska langsung membawa pesanan pelanggan. "Mas, mbak ini pesanannya ya. 2 roti bakar coklat, 2 lemon tea, maaf sudah menunggu lama" dengan senyum manis, riska meninggalkan meja pelanggan lalu bergegas pergi ke dapur. Untuk mengambil pesanan berikutnya.


"Abang udah nih, yg mana lagi yang di antar" tanya riska kepada bang aldi.


"Kamu istirahat aja neng, udah makan belum makan dulu sana. Ada sisa nasi goreng tadi kebanyakan. Kamu makan aja, daripada dibuang mubadzir" kata bang aldi sambil menyodorkan sepiring nasi goreng.


"Tapi bang, pesanan lainnya gimana"


"Gampang ada iche, iche.. antar ini ya" teriak bang aldi sambil menunjukan nampan berisi makanan kepada iche, teman kerjanya.

__ADS_1


"Siap bang" jawab iche.


Riska tau, bahwa ini bukan nasi goreng sisa.karena setiap hari bang aldi selalu memberikan sepiring makanan untuk riska. Riska bersyukur dia berada di sekitar orang-orang baik.


Dengan lahap, riska menghabiskan nasi gorengnya. Tetapi tiba-tiba dia teringat sesuatu "bang bayu, risna sama ayah udah makan belum ya" pikirnya.


 


🍀🍀🍀 🍀🍀🍀


 


"Bang aldi riska pulang dulu ya" pamit riska kepada bang aldi.


"Iya neng hati-hati ya" jawab bang aldi.


Riska pulang tepat jam 11.30. Walaupun dia dibilang masih kecil, tapi dia adalah anak yang pemberani. Baginya, hal yang paling ia takuti hanya ada 3 hal. Tuhan, ayah dan mamahnya.


"Ayah riska pulang bawain nasi goreng" gumamnya dalam hati.


Setelah mengumpulkan uang receh yang ada di tasnya, dia berhasil mengumpulkan uang 30.000 untuk 2 bungkus nasi goreng, tapi entah kenapa bang aldi kasih dia 3 bungkus. Lagi-lagi bang aldi bilang jika nasinya kebanyakan. Semoga saja bang aldi di berikan kesehatan dan rezeki yang melimpah untuknya dan keluarganya. amiin..


Sesampainya dirumah.


"Assalamualaikum, teh risna riska pulang"


"Waalaikumsalam, malam banget dek pulangnya"


"Iya nih teh tadi harus bantuin bang aldi dulu buat beresin isi kulkas" jawabku sambil menaruh helm di atas meja.


"Yaudah kamu bebersih dulu ya dek" kata risna.


"Kok banyak banget, jangan boros-boros ya dek. Teteh masih bisa kok makan sama nasi tadi pagi" jawab risna.


"Ahh gapapa teh, sesekali kan. Teteh gak kangen apa makan enak gini hehe" jawab riska sambil tertawa receh.


Risna pun tersenyum, lalu masuk kedalam untuk menyiapkan makannya.


Saat aku masuk, aku liat ayah tidur di atas ranjang kamarnya. Yang sudah setia menemaninya semenjak sakit "yah, maafin riska ya. Riska belum bisa bawa ayah kerumah sakit. Doain riska sehat selalu ya yah" batin riska. Air matanyapun menetes di sudut matanya. Lalu riska pergi kedalam kamarnya untuk bersih-bersih diri.


Setelah selesai, riska pergi ke meja bakan bersama abang dan kakaknya.


"Alhamdulillah dek, abang dapet kerjaan jadi penjaga toko. Abang cuti kuliah dulu, mau bantuin kalian cari uang" tiba-tiba bang bayu membuka pembicaraan.


"Serius bang ? Wah alhamdulillah. Tapi memang tidak apa-apa abang cuti kuliah" tanya risna.


"Udah tak usah di fikirkan kuliah abang, sekarang bagaimana caranya kita selalu ada untuk ayah. Dan cari uang buat pengobatan ayah ya" jawab bang bayu sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


Riska hanya tersenyum, melihat saudara-saudaranya yang rukun dan saling membantu. Baginya, keluarga segalanya. Walaupun mamahnya tidak ada diantara mereka saat ini. Tapi riska yakin, disanapun mamahnya juga merindukan kebersamaan mereka.


"Uhukk uhukk uhukkk nak, bayu. Uhukk uhukk uhukk" terdengar suara ayah memanggil nama bang bayu.


" abang ayah bang" kataku sambil berlari ke kamar ayah.


Terlihat ayahnya sudah mengeluarkan darah di hidungnya, di telapak tanggannya sudah penuh dengan darah. Mereka bertiga pun panik, melihat keadaan ayah mereka yang semakin melemah.


" kita bawa ayah ke rumah sakit sekarang" kata bang bayu. Akhirnya mereka bertiga pun memutuskan untuk membawa ayah mereka ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, suster lari menghampiri mereka dengan membawa ranjang emergency untuk membawa ayah mereka masuk ke ICU.


"Ya Allah, jaga ayah kami" batin riska, terlihat air bening menetes di sudut matanya dengan deras.

__ADS_1


1 jam mereka menunggu kabar dari dokter. Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan. "Ayah kalian harus di rawat, setidaknya mendapatkan perawatan intensif di sini" kata dokter.


"Iya dok, lakukan yang terbaik untuk ayah kami" jawab bang bayu.


"Ya sudah, kalian urus persyaratannya dulu. Biar ayah kalian bisa cepat di bawa ke kamar inap"


"Iya dok" mereka bertiga pun bergegas untuk pergi ke bagian pembayaran.


"Suster saya mau nanya untuk rawat inap ayah saya" tanya bang bayu.


"Iya mas, sebentar saya hitungkan dulu ya" jawab dari suster itu sambil menghitung di komputernya.


"Total semua 4.2 juta mas. Untuk obat dan ruangan" jawab suster.


"Itu untuk berapa hari sust" tanya risna.


"Untuk masuk ini saja mbak, untuk hari berikutnya nanti akan di infokan" jawab dari suster.


4 juta ? Itu adalah uang yang sangat banyak. Dapat uang dari mana mereka. Itu cuma sehari. Bagaimana dengan hari berikutnya. "Besok saya bayar ya sus tidak apa-apa kan sus. Tapi masukkan ayah saya ke ruang inap dulu" kata bang bayu.


"Iya mas bisa, batas pembayaran jam 10 pagi ya" jawab suster.


Akhirnya mereka pun membantu suster untuk memindahkan ayahnya ke kamar inap.


Riska melihat wajah ayahnya yang sudah mulai menua, dengan raut wajah yang menahan rasa sakit. Seketika, air bening itu keluar lagi. Tidak bisa lagi di bendung "maafkan riska ya yah. Ayah cepet sembuh" batin riska.


"Dek kalian tidur duluan deh. Besok sekolah kan. Lumayan masih ada 2 jam buat tidur. Tidur gih" kata bang bayu, mengagetkan lamunan riska.


"Iya bang, yaudah yuk riska kita tidur" jawab risna, dan mengajak riska tidur di sofa dalam ruangan.


Adzan subuhpun berkumandang. Mereka bertiga sholat berjamaah di dalam ruangan ayah. Terlihat dari wajah mereka, terlihat raut wajah sendu, dan air mata membasahi pipi mereka.


Sebelum berangkat ke sekolah.


Disitu mereka bertigapun memutuskan untuk membuka semua tabungan mereka


Bang bayu akan menjual hanphonenya yang kira-kira akan laku sekitar 3.2jt. Risna dan riska membuka tabungannya.


Semua uang terkumpul sekitar 5.6 juta.


"Kita harus bekerja lebih giat lagi, tapi abang minta perhatikan sekolah kalian juga ya. Apalagi kamu riska kamu anak ekselerasi kan. Belajar yang giat. Jangan sampai ini semua membuat sekolah kalian kacau" kata bang bayu.


Riska dan risna pun menganggukan kepala, tanda mengerti dengan perintah abangnya.


"Aku bisa, aku harus giat lagi. Aku gak boleh menyerah. Ini semua demi ayah. Riska kamu bisa" gumam riska dalam hatinya.


 


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


 


**Hallo para pembaca 😁


Bagaimana nih, apa kalian juga pernah merasakan berada di posisi Riska ?


atau mungkin kalian juga memiliki Keluarga seperti kakak-kakak Riska ?


Semoga keluarga kita semua dalam RahmatNya ya 🌹


Terima kasih sudah membaca** ❤

__ADS_1


__ADS_2