Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 144 – Memanggil


__ADS_3

 “Karena sekarang kamu sudah menyutujui permintaanku\, aku mau kamu panggil ****** itu kemari\, sayang. Aku hendak berbicara dengannya.” kata Retha setelah kembali dari keterkejutannya atas perkataan Lino terakhir.


Lino pun dengan santai menghampiri telpon yang ada di mejanya. Menekan nomor yang akan langsung tersambung dengan ruangan Luna dan memintanya untuk masuk ke ruangan atasannya itu.


Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, terdengar ketukan pintu di ruangan CEO. Setelah dipersilahkan masuk, Luna pun memasuki ruangan itu.


“Silahkan duduk karena saya yang akan berbicara dengan Anda.” kata Retha memberikan instruksi kepada Luna dan menunjukkan sofa sebagai tempat mereka berbincang.


Luna pun mengikuti perintah yang dikatakan oleh Retha. Ia duduk di kursi yang berada di tengah ruangan atasannya itu dengan sikap yang cukup anggun. Dan tentunya membuat Lino tidak bisa memalingkan matanya dari makhluk ciptaan Tuhan itu.


“Oke, saya tidak akan berbasa basi dan akan langsung to the point.” kata Retha membuka pembicaraan dengan Luna setelah dirinya mendudukkan pantatnya di kursi yang berada di dekat Luna.


Luna pun menganggukan kepalanya tanda menyetujui. Karena sejujurnya pekerjaannya juga sedang menumpuk dan menurutnya, pembicaraan dengan wanita yang ada di dekatnya itu sangatlah tidak penting.


“Sebagai calon istri dari Lino Damaresh maka mulai hari ini saya memecat Anda. Silahkan ajukan surat pengunduran diri ke bagian HRD atau HRD akan mengeluarkan surat pemecatan secara tidak hormat kepada

__ADS_1


Anda.” lanjut Retha.


Luna pun seketika langsung mengalihkan pandangannya menuju ke arah atasannya. Ia tidak memahami apa yang terjadi, tetapi perkataan Retha cukup membuat dirinya terkeju.


Pertama, wanita di dekatnya itu mengatakan bahwa dirinya adalah calon istri dari Lino, dimana laki-laki itu masih berstatus sebagai kekasih Luna. Kedua, dengan seenaknya Retha pun memecat dirinya tanpa kesalahan apapun. Bahkan semua pekerjaannya selalu selesai dengan memuaskan. Jadi tidak ada alasan untuk memecat dirinya.


Namun, ketika pandangannya bertemu dengan atasannya itu, Lino hanya tersenyum, mengedipkan matanya, dan kemudian menganggukan kepalanya. Luna tahu bahwa ia diminta menyetujui perkataan Retha, meskipun ia


tidak tahu ada rencana apa dibalik kedipan mata sang kekasih.


“Baik.” kata Luna singkat setelah kontak cepat dengan Lino sebagai atasannya itu.


yang mengembang di wajahnya dan menekankan pada kata ‘calon suami’.


Luna pun menghela nafasnya dan segera beranjak dari tempat yang dia duduki saat ini. Malas rasanya meladeni ucapan wanita yang gak jelas itu. Oleh karena itu, Luna pun memilih pergi untuk merapikan ruangannya dan

__ADS_1


pulang, meninggalkan kantor yang selama ini menjadi tempatnya mencari nafkah.


“Emang gak punya sopan santun. Untung saya langsung tahu ketika pertama kali lihat dan memutuskan untuk memecatmu.” teriak Retha yang tidak terima dengan kepergian Luna tanpa berpamitan kepada dirinya, bahkan


tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Mendengar teriakan dari wanita yang tadi mengajaknya berbicara, Luna yang hampir mencapai pintu pun membalikkan badannya.


“Mohon maaf, calon Nyonya Adelino Damaresh, tapi Anda bukan atasan saya dan kantor ini bukan kantor saya sejak Anda memecat saya. Jadi buat apa saya bersopan-sopan dengan Anda? Tidak penting.” kata Luna


membalas ucapan Retha dan kembali melanjutkan langkah kakinya.


Retha sendiri yang mendapatkan balasan dari Luna langsung memerah wajahnya. Emosinya tiba-tiba naik ke ubun-ubun. Sedangkan Lino, hanya tersenyum bahagia mendengar balasan Luna tersebut. Ia tahu bahwa


wanitanya sangatlah tidak mudah ditindas.

__ADS_1


***********


-Bersambung-


__ADS_2