
Tak terasa, waktu pun cepat berlalu. Banyak pembicaraan yang dilakukan oleh Bunda Nadia dan Lino terkait dengan pernikahannya. Lalu bagaimana dengan Luna? Luna hanya menjadi pendengar yang baik. Dia hanya akan menjawab seperlunya jika Bunda Nadia bertanya padanya. Namun, jika Lino yang bertanya, ia akan pura-pura tidak mendengar. Luna juga sering kali mengalihkan pembicaraan ketika Lino mulai bertanya kepadanya.
Kini, saatnya Luna dan Lino untuk meninggalkankediaman Bunda Nadia. Karena besok mereka masih akan bekerja meskipun hanya sebentar. Oleh karena itu, mereka tidak bisa tinggal lebih lama disana. Namun, baik Luna maupun Lino telah berjanji akan mengunjungi Bunda Nadia lagi dalam waktu dekat.
Luna pun pulang dengan diantar oleh Lino, sesuai perintah dari Bunda Nadia. Selain itu, Luna memang menunggu moment berdua bersama Lino. Ia ingin berbicara banyak kepada atasannya itu agar membatalkan rencana konyolnya.
Setelah mobil keluar dari pekarangan rumah Bunda Nadia, Luna pun memulai pembicaraannya.
“Mohon maaf, Pak Lino. Rasanya perjanjian kita tidak sampai sejauh ini. Dan saya menolak untuk menikah dengan Bapak.” ucap Luna kepada Lino yang masih mengendarai mobilnya itu dengan nada suara setenang mungkin. Meskipun emosinya hampir mencapai puncak, tetapi Luna masih tetap berusaha untuk berbicara dengan sopan. Terlebih, laki-laki di sebelahnya adalah atasannya.
“Silahkan bicara dengan Bunda Nadia untuk membatalkannya.” ucap Lino dengan santainya karena ia tahu bahwa Luna tidak mungkin mengecewakan Bundanya itu. Ia tahu bahwa sebenarnya antara Luna dan Bundanya telah terjalin perasaan yang sangat kuat satu sama lainnya. Oleh karena itu, mereka tidak akan mungkin saling menyakiti satu sama lainnya.
__ADS_1
“Baik. Saya akan berbicara dengan Bunda Nadia. Membatalkan keputusan konyol Bapak, beserta memberitahu tentang perjanjian itu kepada Bunda.” ucap Luna cukup menantang. Sebenarnya ia juga tidak akan tega untuk menghancurkan harapan Bunda Nadia, tetapi untuk menggertak seorang Lino, ia harus bersikap berani.
Lino yang tidak menyangka dengan jawaban Luna pun mengerem mobilnya secara mendadak. Untuk saat ini jalanan cukup sepi dan mereka memang belum sampai di jalan raya yang pastinya akan ramai.
“Aduh!” teriak Luna karena kepalanya terantuk. Meskipun tidak terlalu keras tapi cukup membuatnya terkejut. Dan untungnya, Luna telah menggunakan seatbelt sehingga ia tidak terantuk dengan sangat keras.
“Bapak mau buat saya celaka? Saya pulang sendiri saja. Terima kasih untuk jamuannya di rumah Bunda.” ucap Luna dengan nada emosi yang sudah tidak dapat ditahan lagi. Kali ini emosinya sudah benar-benar mencapai puncaknya. Bagaimana tidak, sudah keputusan yang dibuat Lino tanpa bertanya dahulu padanya, dan sekarang laki-laki itu seakan ingin membuatnya celaka dengan menginjak rem secara mendadak padahal mobil masih berjalan.
Luna yang semula ingin membuka mobil pun hanya terdiam ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan atasannya itu. Kalau boleh juju ria juga tidak tega. Tetapi ia juga tidak siap untuk menikah. Banyak ketakutan dalam dirinya.
“Bapak bilang saya egois? Lebih egois mana membuat keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu?” tanya Luna balik tapi tanpa nada emosi di dalam setiap katanya. Ia hanya ingin menyadarkan Lino bahwa tindakannya membuat keputusan tersebut juga tidak dapat dibenarkan. Dan Luna sangat tidak suka jika disudutkan seperti itu, seakan ia yang harus menanggung kesalahan.
__ADS_1
“Maaf kalau saya egosi. Tapi percayalah kalau kita bisa mencobanya, Luna.” ucap Lino kembali. Ia tahu bahwa akan sia-sia jika ia mengungkapkan perasaannya saat ini. Oleh karena itu, ia pun memilih jalan lain untuk meyakinkan Luna.
“Saya juga mohon maaf, Pak Lino. Tetapi saya tetap menolak. Saya belum siap untuk menikah. Di usia saya saat ini, saya hanya ingin mengejar karir saya.” ucap Luna kembali dengan tegas. Bukannya ia tidak ingin mencobanya tetapi semua bayangan buruk tentang sebuah pernikahan selalu menghantuinya.
Memang jika pernikahan orang tua kita tidak berakhir dengan baik, maka sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan seorang anak tentang sebuah pernikahan. Meskipun tidak semua akan terjadi seperti itu, tetapi
percayalah bahwa anak akan memiliki pandangan tersendiri. Terlebih ketika hubungan yang buruk itu dibumbui dengan pertengkaran dan kekerasan. Maka, bisa jadi, anak akan memiliki trauma tersendiri.
***************
-Bersambung-
__ADS_1