
Divisi keuangan pun seketika menjadi heboh sepeninggal Lino karena panggilan dari CEO terhadap asistent manager di divisi itu. Hampir semua karyawan menebak-nebak apa yang akan dilakukan oleh CEO kepada Luna.
Sedangkan Luna sendiri, ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Wajahnya memucat. Jika bisa, dia ingin pingsan seketika agar tidak harus menghadap CEO dengan segera.
“Lun, are you oke?” tanya Hera menyadarkan Luna dari keterkejutannya di tempatnya berdiri sejak tadi.
“Bingung aja, Ra. Salah apa ya sampe dipanggil langsung sama CEO? Apa jangan-jangan aku mau dipecat?” kata Luna dengan panik karena masih tidak mengetahui tujuan pemanggilan untuk dirinya.
“Jangan terlalu dipikirkan dulu, Ra. Mending sekarang kamu ke ruangan Pak Felix dan tanya langsung apa yang harus disiapkan untuk dibawa menghadap CEO.” saran Hera.
"Tapi, Ra.." ucap Luna yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Udah, Lun. Mending sekarang kamu beneran pergi ke ruangan Pak Felix untuk bertanya. Jangan sampai Pak Lino menunggumu dan benar-benar memecatmu karena dia rasa kamu sangat lambat." kata Hera kembali sambil menarik tangan Luna untuk menuju ruangan atasannya.
__ADS_1
Luna pun menganggukan kepalanya dan mengikuti Hera berjalan menuju ruangan atasannya. Ia ingin tahu sebab dibalik pemanggilan dirinya. Berharap bahwa atasannya bisa menjelaskan letak kesalahannya sehingga membuat dirinya dipanggil oleh CEO.
Tok..tok..tok..
“Masuk!” ucap Felix ketika mendengar ketukan di pintu ruangannya.
Ya, setelah mengantarkan Lino keluar dari ruang divisi keuangan, Felix langsung kembali masuk ke dalam ruangannya. Sejujurnya, Felix sendiri bingung dengan permintaan Lino untuk memanggil Luna menghadap
atasannya itu.
“Ada apa, Lun?” tanya Felix dari balik meja kerjanya yang masih berantakan dengan berbagai file yang memang sedang diperiksanya.
“Soal pemanggilan CEO. Kalau boleh tahu, apa kesalahan saya, pak? Dan apakah ada yang perlu saya persiapkan?” tanya Luna tanpa basa basi karena ia tidak ingin CEO menunggu dirinya terlalu lama.
“Untuk itu saya kurang tau. Tapi saya sarankan, kamu segera menghadap CEO karena dia tidak suka menunggu. Tidak perlu mempersiapkan apapun.” ucap Felix menjawab pertanyaan dari Luna.
Luna pun segera undur diri dari ruangan atasannya untuk segera menuju ruangan CEO. Ia tidak ingin ada hukuman yang bertambah berat hanya karena keterlambatan yang dilakukannya saat ini. Apalagi jika sang CEO harus menunggu sangat lama. Pasti akan fatal akibatnya.
__ADS_1
Sesampainya di lantai 7, Luna pun disambut oleh Caroline, sekretaris dari CEO. Caroline pun segera mengantarkan Luna ke ruangan CEO sesuai pesan dari atasannya tadi. Dan setelah mendapatkan perintah atas ketukan di depan pintu ruangan CEO, Luna pun segera memasuk ke ruangan tersebut.
“Selamat pagi, Pak.” kata Luna memberikan sapaan kepada CEO yang ada di hadapannya.
Lino yang ketika itu sedang memeriksa beberapa pekerjaan untuk ditanda tangani hanya mengisyaratkan Luna untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.
Luna yang memahami isyarat tersebut pun memutuskan untuk mengikuti perintah atasannya tersebut dalam diam. Ia pun menunggu dengan perasaan yang cukup campur aduk. Antara takut tetapi juga bingung.
Dan setelah lebih dari 30 menit, akhirnya Lino telah menyelesaikan pekerjaan dan menyerahkannya kepada sekretarisnya.
“Luna Intan Permana.” ucap Lino membuka kalimatnya sambil menatap Luna dengan tajam.
Mendapatkan tatapan tajam, Luna pun hanya bisa semakin menundukkan kepalanya. Kali ini ketakutannya akan dipecat bertambah berkali-kali lipat. Namun, apakah Lino akan memecat Luna?
********************
-Bersambung-
__ADS_1