
2 jam pun berlalu. Felix masih setia memeluk Luna. Kini, tangis Luna pun telah sedikit mereda. Namun, Felix masih tidak berani melepaskan Luna. Felix masih dibayangi pemandangan dimana Luna menaiki balkon kamar mereka untuk bunuh diri. Terlebih karena Luna masih meracau dan mengatakan ingin mati.
“Maafin saya, Lun.” ucap Felix ketika merasa Luna sudah mulai tenang walaupun masih ada sisa-sisa tangisan dan racauan yang belum berhenti sepenuhnya.
“Saya akan bertanggung jawab. Kita akan menikah, Lun. Saya janji akan membahagiakan kamu dan mengganti semua kesedihan kamu.” ucap Felix kembali dengan harapan Luna mendengarkannya dan menyetujui semua
ucapannya.
Namun lagi-lagi, harapan hanyalah tinggal harapan. Karena bukan saja Felix tidak mendapatkan tanggapan dari Luna, tetapi gadis itu masih meracau dan mengatakan bahwa lebih baik dia mati. Sangat memilukan hati, bukan?
Felix yang mendengar semua ucapan dan isakan Luna pun tampak hampir frustasi. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk Luna. Setidaknya agar setiap perkatannya di dengarkan oleh Luna. Jika mau, Felix bisa
__ADS_1
saja membungkam bibir manis Luna yang terus berujar ingin mati itu dengan ciuman panas. Namun, lagi-lagi, Felix bukanlah laki-laki sebrengsek itu yang mampu memanfaatkan kesempatan. Dan jika dia melakukan itu, Luna pun bisa saja semakin membenci dirinya.
“Lun, please. Dengerin saya, Lun.” ucap Felix kembali karena masih tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Luna yang masih berada di dalam pelukannya. Namun lagi-lagi Felix tidak mendapatkan tanggapan apapun dari gadis itu.
Hingga akhirnya, kesabaran Felix pun menipis, terlebih karena sudah lebih dari 2 jam ini gadis itu masih berkata ingin mati dan ingin mengakhiri hidupnya, Felix pun memegang kedua bahu Luna dan menggoncangkannya. Tidak terlalu kencang, tetapi juga bukan yang terlalu lembut. Felix hanya berharap, Luna bisa tersadar.
Dan kali ini harapan Felix menjadi kenyataan. Luna bukan hanya tersadar dari kesedihannya. Bahkan Luna menghadiahi Felix sebuah tamparan yang sangat keras di pipinya. Sakit? Pasti! Namun ia tidak mempermasalahkannya. Terlebih ketika Luna telah tersadar dan tidak lagi meracau, meskipun masih ada sedikit tangisan dan bulir air mata yang metes dari mata cantiknya.
“Tidak mungkin saya pergi, sayang. Saya sangat mencintai kamu, Luna. Saya pasti akan bertanggung jawab. Percaya sama saya.” ucap Felix meyakinkan gadis yang ada dihadapannya itu. Usahanya sudah sampai
sejauh ini, Felix tidak mungkin mundur hanya karena perkataan Luna yang memintanya untuk pergi.
__ADS_1
“Mencintai saya? Jika Bapak mencintai saya, Bapak tidak akan merusak saya!” ucap Luna kembali penuh penekanan. Ingatannya pun kembali dimana pagi ini dia terbangun dengan keadaan yang tidak sepantasnya.
Terlebih mantan atasannya juga berada di sebelahnya dengan keadaan yang sama dengan dirinya.
“Kamu bahkan menikmati permainan kita semalam, Luna. Jadi dimana saya merusaknya jika kamu juga menginginkan saya? Dan jika kamu tidak mau dengan saya, siapa yang mau dengan kamu? Kamu kotor, Luna. Kesucian kamu sudah hilang dan aku yang mendapatkannya..” ucap Felix kembali dengan senyum liciknya. Memang semua itu hanya karangan Felix, tetapi karena Luna tidak mengingat semua kejadian semalam, maka Felix bebas mengarang cerita apapun.
Mendengar kata-kata Felix, Luna pun hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan perkataan Felix. Ia ingin tidak mempercayainya tetapi Luna sendiri tidak ingat apa yang terjadi malam itu hingga akhirnya dia terbangun dengan keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun. Namun dia mau percaya dengan perkataan Felix juga entah kenapa hati kecilnya mengatakan bahwa tidak mungkin ia melakukan itu. Ah, sungguh pusing rasanya.
**************
-Bersambung-
__ADS_1