
“Tetapi saya tidak mencintai Bapak. Dan saya tidak ingin menyakiti orang lain yang telah memberikan cintanya kepada saya dengan tidak membalas perasaannya.” ucap Luna memberikan pengertian kepada Felix. Karena dengan mengikat Luna dalam sebuah hubungan pernikahan, maka hanya akan menyakiti hati laki-laki itu lebih lagi.
“Saya tidak akan mempermasalahkannya, Luna. Yang terpenting adalah kamu berada disisi saya selamanya. Itu sudah cukup buat saya. Terlebih jika kamu mau membuka hati kamu dan membiarkan saya mengisinya. Saya
mohon.” ucap Felix kembali mencoba meyakinkan.
Luna pun hanya bisa terdiam mendengar jawaban dari Felix. Sesungguhnya di dalam hatinya sedang beradu untuk memberikan jawaban yang tidak menyakitkan untuk dirinya dan juga untuk laki-laki di hadapannya. Namun rasanya semua jawaban tidak akan ada yang menguntungkan kedua belah pihak.
Jika dipikir, memang dicintai akan lebih menyenangkan daripada kita mencintai orang yang tidak mencintai. Terlebih bagi para perempuan. Namun, tentunya akan ada perasaan bersalah yang entah akan kapan berakhir jika memang tidak bisa memberikan hati kita kepada orang yang telah memberikan seluruh cintanya itu. Dan dihantui oleh perasaan bersalah itu sungguh tidak mengenakkan. Setuju?
“Saya menunggu jawaban kamu, Lun. Atau mungkin kamu perlu banyak waktu untuk berpikir? Saya akan memberikan kamu waktu hingga esok hari. Pikirkanlah dengan baik, Lun.” ucap Felix memecahkan kesunyian yang ada diantara mereka.
Felix pun memilih untuk meninggalkan kamar tersebut. Namun sebelumnya, Felix tidak lupa mengusap kepala Luna. Entah ada angin apa, tetapi rasanya Felix sangat ingin memegang puncak kepala Luna. Dan kali ini, ia
mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
Dan Luna pun hanya bisa terpana dengan perlakuan Felix kepadanya. Tidak dapat dipungkuri bahwa Luna juga merasakan kasih sayang dari sentuhan yang diberikan oleh Felix. Sejujurnya juga, Luna merasakan sedikit
kenyamanan dari sentuhan tersebut.
Keesokan Harinya
__ADS_1
Hari dengan sangat cepat berganti. Waktu pun berputar tanpa dapat menunggu. Kini, saatnya sang surya bertugas untuk menerangi dunia. Menggantikan bulan yang akan beristirahat sejenak.
Namun ternyata, disebuah kamar yang masih temaramkarena tirai pun belum dibuka, ada sesosok anak manusia yang rupanya belum dapat memejamkan matanya sejak semalam. Otaknya terus berputar untuk menentukan
pilihannya. Pilihan yang tidak akan menyulitkan dirinya ataupun pihak lain. Meskipun demikian, anak manusia ini masih terus berharap bahwa adanya sebuah keajaiban yang bisa mengeluarkannya dari keadaan ini.
Ingin rasanya berjanji untuk menikahi siapa saja laki-laki yang bisa menyelamatkannya dari keadaan ini, atau menjadikannya saudara jika penyelamatnya adalah perempuan, tetapi ia pun tidak berani. Bagaimana berani jika ada laki-laki yang rela memberikan seluruh cintanya saja, dia tidak berani melangkah maju?
Ya, perempuan tersebut adalah Luna Intan Permana. Gadis berparas cantik, dengan tubuh semampai, dan bagaikan gitar spanyol itu. Gadis yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari
bahwa sang surya telah menyinari bumi ini.
Hingga akhirnya, lamunannya pun harus berakhir karena mendengar ketukan di pintu kamarnya yang tidak pernah berhenti. Bahkan sesekali ketukan itu menjadi gedoran yang sangat keras.
“Makanan untuk kamu.” ucap Felix yang ternyata adalah pemilik tangan yang mengetuk pintu kamar Luna sejak tadi. Felix pun masuk ke dalam kamar tersebut dengan membawakan sarapan untuk gadis yang sangat dipujanya itu.
Luna yang tidak tahu harus merespon apa, hanya bisa mengikuti laki-laki itu ke dalam ruangannya dan duduk di ruang santai yang ada di kamar tersebut.
“Makanlah. Tidak ada sesuatu yang berbahaya di makanan itu. Saya memesannya dari restorasi hotel ini. Jadi kamu tidak perlu takut.” ucap Felix karena melihat Luna yang hanya memandang dirinya dan makanan itu secara bergantian. Felix tahu bahwa Luna telah sangat menderita seminggu ini karena ulah dari Rianti yang terus membuatnya tertidur setelah makan. Jadi bisa dipastikan Luna sangat merasa ketakutan jika ada yang memberinya makanan.
“Terima kasih. Saya akan menjawab pernyataan Bapak kemarin terlebih dahulu.” ucap Luna kemudian.
__ADS_1
Seketika, suasana pun berubah menjadi tegang. Felix yang sedari tadi mencoba untuk santai dengan membawakan makanan bagi gadis pujaannya itu menjadi tegang. Bahkan dari cara duduknya sendiri terlihat bahwa Felix sangat tidak nyaman.
“Saya harap jawaban kamu sesuai dengan keinginan saya, Lun.” ucap Felix sambil mencoba menetralisir perasaan takutnya akan penolakan dari Luna. Meskipun telah berhasil mengancam Luna, tetapi Felix juga masih memiliki perasaan takut karena memang nyatanya hingga ancaman itu dikeluarkan, Luna masih saja terus menolak dirinya.
Luna yang paham dengan apa yang dikatakan oleh mantan atasannya itu pun hanya menganggukan kepalanya. Dan setelah menghela nafas sesaat, akhirnya Luna pun memberikan jawaban yang sedari tadi ditunggu
oleh Felix.
“Saya setuju menikah dengan Bapak.” ucap Luna sambil menundukkan kepalanya. Ia memang sudah memutuskan. Namun rasanya tetap saja berat mengatakan hal tersebut karena memang keputusannya itu bukan sepenuhnya
berasal dari hatinya.
“Kamu serius?” tanya Felix mencoba untuk meyakinkan pendengarannya. Harapannya yang telah mencapai ke langit-langit kini akhirnya sebentar lagi akan terwujud.
“Saya serius tapi dengan syarat.” ucap Luna setelah mengaggukan kepalanya sebagai tanda keseriusan atas jawaban yang diucapkannya itu. Ya, Luna memang akan mengajukan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh
Felix jika memang ia harus menikah dengan laki-laki itu. Dan Luna tidak akan segan-segan untuk membatalkan pernikahan itu jika Felix menolak semua persyaratan darinya.
*************
__ADS_1
-Bersambung-