
“Gue menunggu jawaban, Bapak Felix.” ucap Lino kembali sambil melihat Felix yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri.
“Ehm.. Sorry, No. Gue tadi udah ke rumah Luna bahkan gue udah sempet menunggunya di depan gerbang rumahnya.” jelas Felix yang mulai gugup karena masih bingung harus bagaimana menyampaikan alasannya kepada Lino.
“Lalu dimana asisten pribadi gue? Kenapa gak ada batang hidungnya di rumah gue sedari pagi?” tanya Lino kembali dengan menekankan perkataannya pada kata ‘asisten pribadi’.
“Ehmm.. itu..” Felix pun masih bingung harus bagaimana memberikan jawaban kepada laki-laki yang ada di depannya.
Jika Felix mengatakan bahwa Luna tidak mau naik mobil yang sama dengan dirinya, maka dia pun harus menceritakan alasan ketidak mauan dari Luna tersebut. Dan pastinya itu akan membongkar semua masalahnya dengan Luna. Masalah sepele sebenarnya tetapi sangat menyinggung gadis itu dan membuatnya tidak bisa memafkan Felix.
“Jadi?” tanya Lino masih menunggu jawaban dari laki-laki yang ada dihadapannya.
“Dia menolak.” ucap Felix akhirnya setelah terdiam beberapa saat karena bingung harus mengatakan apa.
“Ada alasan apa sampai asisten pribadi gue nolak diantar elu? Bukankah dia dulu bawahan elu? Jadinya kalian udah saling kenal dong harusnya? Bahkan gue lihat juga elu pernah nganter dia pulang dari rumah gue, bukan?” tanya Lino bertuntut.
Felix yang bingung harus menjawab darimana pun hanya bisa terdiam mendengar serangkaian pertanyaan dari Lino. Ingin menjawab bahwa itu adalah urusan pribadinya mungkin sangatlah tidak mungkin karena dia pun
seakan mencampurkan pekerjaan dengan urusan pribadi.
__ADS_1
Disini, Lino mungkin terkesan sebagai atasan yang sangat ingin tahu dengan urusan orang lain. Namun, jika urusan pribadi tersebut telah mengganggu sebuah pekerjaan, bukankah atasan bisa saja turun tangan untuk mengetahuinya? Kecuali jika memang urusan pribadi bisa diselesaikan secara pribadi dan tidak mengganggu pekerjaan.
Sebenarnya, jika boleh ditelisik lebih lagi, sebenarnya Lino merasa lega karena Luna tidak diantarkan oleh Felix. Entah kenapa perasaannya cukup terusik dan sangat tidak rela jika harus melihat asisten pribadinya itu bersama dengan sahabatnya. Meskipun alasannya hanya untuk mengantarkannya bekerja.
“Gue sebenernya juga gak pengen tahu masalah pribadi elu kalau emang elu gak mau cerita. Tetapi kalau sampai Luna tidak mau dijemput dan berakhir ijin seperti hari ini, gue juga kan yang rugi?” kata Lino kembali karena tidak mendapati jawaban apapun dari sahabatnya itu.
“Gue gak tau kalau akhirnya dia cuti, No. Jadi gue juga perlu say sorry sama elu untuk itu.” jawab Felix.
Felix memang tidak mengetahui bahwa Luna memilih untuk meminta ijin cuti. Karena menurut pemikiran Felix, setelah dirinya berlalu dari rumah itu, Luna akan memilih untuk berangkat ke rumah Lino dan melakukan pekerjaannya.
“Jadi, sebenernya kalian ada masalah apa?” tanya Lino kembali
Felix pun menghela nafasnya dengan berat. Sangat berat karena menceritakan masalah antara dirinya dan Luna pastinya akan membuat malu dirinya juga atas semua kelancangannya. Namun, dihadapannya adalah sahabat
Felix pun mulai menceritakan bagaimana sejak awal dia mendakati Luna ketika gadis itu masih menjadi bawahannya. Tentunya hal itu sebelum Lino bertemu dengan Luna di kantor dan memutuskan untuk memindahkan
Luna menjadi asisten pribadinya.
Felix pun menceritakan bagaimana akhirnya Luna marah kepadanya karena ciuman yang dia curi ketika berada di café kala itu. Dan hingga saat ini pun Luna masih enggan untuk bertemu dengan Felix dan tentunya tidak mau mendengarkan semua penjelasan yang Felix lakukan.
__ADS_1
BRAK..
Lino pun memukul meja yang ada di depannya. Sungguh, dirinya tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya. Menurutnya, kelakuan itu sangat tidak beretika dan sangat kurang ajar. Bayangkan, mencium seorang gadis
yang bahkan bukan pasangannya sendiri di depan umum. Pasti akan membuat gadis tersebut sangat marah dan merasa malu.
“Kelakuan elu kurang ajar, Lix. Gue heran, elu yang gue kenal gak pernah bertindak kurang ajar pada wanita selama ini.” kata Lino berapi-api sambil memandang sahabatnya itu.
“Entahlah, No. Tapi gue akui kalau gue khilaf. Gue tau kok kalau gue salah.” jawab Felix masih mencoba membela diri.
“Gue harap, elu gak ganggu asisten pribadi gue lagi. Dan gue putuskan untuk menolak permintaan elu kemaren, Lix. Sorry, tapi gue gak mau asisten pribadi gue dalam masalah yang lebih besar kalau bersama dengan elu.” ucap Lino memutuskan dan mempersilahkan Felix keluar dari ruangannya.
************
Waduh.. Marahnya Lino bisa diartikan sebagai rasa cemburu gak ya kalau kayak gini? Hehe
Hari ini Mith sudah upload sampai 4 episode nih sebagai penebusan rasa bersalah..
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya biar Mith juga tambah semangat uploadnya.
__ADS_1
***********
-Bersambung-