Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 106 – Pemikiran Lino


__ADS_3

Selepas pertemuan dengan Enriko siang ini, Lino dan Luna pun kembali ke kantor karena masih ada meeting yang harus dihadiri olehnya.


Sepanjang perjalanan menuju ke PT Lino, Lino pun hanya bisa terdiam. Rasanya kepalanya dipenuhi dengan pernyataan-pernyataan yang Enriko lontarkan tentang asisten pribadinya. Bahkan, semua penjelasan Luna


tentang materi meeting yang nanti akan dihadirinya pun seakan tidak masuk dalam kepalanya itu.


Namun, tentu saja ia tidak bisa menanyakan hal-hal tersebut kepada Luna. Ia tidak ingin Luna merasa tertekan dan nantinya menjauh dari dirinya. Oleh karena itu, Lino hanya bisa memikirkannya sendiri. Mungkin, nantinya Lino akan menyuruh orang untuk mencari tahu tentang masa kuliah Luna. Siapa tahu, bukan?


Bahkan hingga meeting berlangsung, rasanya Lino tidak bisa fokus dengan pembahasan yang dilakukan. Ia seringkali terlihat tidak menyimak dan harus dipanggil beberapa kali untuk menyadarkannya. Hingga akhirnya meeting pun harus dibubarkan meskipun belum setengah jam berjalan.


Lino pun kembali ke ruangannya untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya yang tertunda. Namun tanpa disadari, Roland dan Cleon terus mengikutinya di belakang karena merasakan keanehan pada sahabatnya ini.


“Elu kenapa?” tanya Roland tiba-tiba setelah memasuki ruangan Lino.

__ADS_1


Kali ini Roland dan Cleon pun berbicara dengan santai layaknya sebagai sahabat. Meskipun ketika bekerja mereka semua akan tetap professional, namun tetap ada kalanya pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan adalah sebagai sahabat. Oleh karena itu, mereka akan berbicara santai, seperti ketika diluar kantor.


“Luna?” tanya Cleon sambil menebak permasalahan sahabat sekaligus atasannya itu.


Lino yang tidak menyadari kehadiran kedua sahabatnya itu pun cukup tersentak karena terkejut. Lebih terkejut lagi karena apa yang diucapkan Cleon hampir tepat.


“Kapan kalian masuk?” tanya Lino sambil duduk di kursi kebesarannya tanpa menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya dan mengalihkannya ke pertanyaan lain.


“Jawab aja pertanyaan kami, No. Gak perlu mengalihkan pembicaraan. Bahkan elu aja gak sadar kapan kami masuk.” ucap Roland sambil duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


“Luna ternyata memiliki banyak penggemar.” ucap Lino setelah menghela nafasnya sesaat. Ia tahu bahwa ini adalah tindakan paling tidak professional yang pernah dilakukannya. Memikirkan masalah perasaannya di


tengah pekerjaan.

__ADS_1


“So?” ucap Cleon yang tidak menemukan akar permasalahannya. Karena menurutnya, memiliki penggemar adalah suatu hal yang biasa. Bukan hal yang aneh dan bisa membuat kegundahan.


“Dan salah satu penggemarnya ternyata adalah rekan kerja sama kita. Tadi gue sempat ketemu sama dia.” jelas Lino kembali sepatah demi sepatah karena ia juga bingung permasalahannya dimana. Rasa-rasanya, ia hanya tidak rela karena Luna memiliki penggemar lain selain dirinya. Dengan demikian, Luna memiliki banyak pilihan laki-laki yang tepat menurut dirinya.


“Lalu?” tanya Cleon kembali karena masih tidak menemukan permasalahannya. Ia tidak paham apa yang harus diresahkan oleh sahabatnya itu.


“Dia takut Luna memilih rekan kerja itu daripada dia, oneng.” ucap Roland sambil menoyor kepala sahabat yang duduk di sebelahnya.


“Nikahin aja. Beres perkara.” ucap Cleon masih dengan santainya. Baginya, semua permasalahan itu pasti memiliki jalan keluar. Dan masalah hati, memiliki jalan keluar yang cukup simple dan tidak berbelit.


“Bener tuh. Dan bukannya Bunda emang sudah minta elu untuk nikahin Luna segera? Jadi apa yang elu pikirin?” ucap Roland menyambung jawaban dari Cleon yang menurutnya adalah ide brilliant. Selain itu, ia juga sudah mengetahui bahwa Bunda Nadia sudah sangat ingin membuat sebuah pesta pernikahan yang sangat mewah untuk Lino dan Luna.


Lino yang mendapatkan jawaban dari kedua sahabatnya pun hanya bisa terdiam. Ia sebenarnya juga membenarkan perkataan Cleon. Namun masalahnya untuk melamar Luna dan memintanya menikah dengan dirinya bukanlah hal yang mudah.

__ADS_1


************


-Bersambung-


__ADS_2