Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 113 – Tak Sengaja


__ADS_3

Sementara kita tinggalkan dulu Lino yang sedang bersama dengan Bunda Nadia. Bercengkrama dan berdua seperti sebelum Luna datang ke kehidupan mereka. Sekarang kita akan beralih lagi ke Luna dan Vina yang


masih menikmati hidangannya di café tersebut.


“Kak Luna..” panggil seseorang dari arah pintu yang baru saja terbuka ketika Luna sedang menikmati minumannya sambil bercanda dengan Vina, sahabatnya, setelah pembicaraan yang cukup berat tadi.


Luna pun menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya siang itu. Dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui siapa yang datang menyapanya. Orang yang cukup tidak diharapkan kehadirannya karena akan semakin membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Terlebih ketika mulutnya tidak bisa berhenti berbicara.


“Siapa?” tanya Vina yang penasaran dengan laki-laki yang meneriakkan nama sahabatnya dengan muka yang terlihat jelas kebahagiaannya.


“Klien di kantor.” ucap Luna kembali setelah mengetahui laki-laki yang memanggilnya adalah Enriko.


Rasanya Luna ingin segera berlalu dari café tersebut. Meninggalkan sisa makanannya beserta laki-laki yang baru saja memanggilnya. Hari ini Luna sangat malas untuk meladeni dan berbasa basi dengan siapapun. Ia ingin acuh dan tidak peduli dengan sekitarnya, serta menikmati hari Minggunya ini hanya bersama sang sahabat.

__ADS_1


“Sorry, maksudku Luna.” ucap Enriko setelah sampai di meja yang ditempati Luna dan Vina sambil terus menyunggingkan senyumnya.


“Selamat siang, Pak Enriko.” ucap Luna dengan sopan dan dengan senyum yang dipaksakan.


“Senang sekali bisa bertemu kamu, Luna. Boleh saya duduk sini?” ucap Enriko tanpa malu-malu. Ia memang bukan tipe orang yang bisa menutupi perasaannya. Meskipun selama beberapa tahun sempat memendam perasaan


cintanya kepada kakak angkatannya itu. Namun, saat ini, ia bertekat untuk menunjukkan perasaannya.


“Duduk dulu lah, Lun. Kita baru saja bertemu. Tapi mungkin juga kita berjodoh ya, Lun. Karena di hari libur seperti ini masih bisa bertemu. Rasanya memang Tuhan mentakdirkan kamu untukku.” ucap Enriko kembali tanpa mau mempedulikan keengganan yang telah nyata ditunjukkan oleh Luna.


“Mohon maaf, Pak. Tapi kami benar-benar harus pergi dari sini.” ucap Luna kembali sambil berdiri dari tempatnya duduk dan merapikan tas yang dibawanya.


“Panggil aku, Riko. Tanpa perlu embel-embel Bapak, Pak, atau apapun. Hubungan kita lebih dekat dari itu, Luna. Dan tolonglah temani saya.” ucap Enriko sambil memegang tangan Luna agar gadis itu tidak beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


Luna pun hanya bisa menghembuskan nafasnya. Inilah salah satu hal yang sangat ia tidak sukai dari kaum laki-laki. Mereka selalu memerintah dan mengendalikan wanita. Entah itu wanitanya ataupun siapa saja sesuai keinginannya. Dan Luna adalah gadis yang sangat benci dikendalikan. Karena menurutnya, hidupnya adalah miliknya. Keinginannya tidak dapat diganggu gugat. Dan tubuhnya adalah hak nya.


“Mungkin lain kali, Pak Enriko. Sorry, maksud saya, Riko.” ucap Luna kembali setelah menghirup banyak udara agar bisa membuatnya tetap bersabar saat ini dan menekan nada suaranya agar tidak meninggi.


Enriko pun melepaskan kepergian Luna tanpa bisa menahannya lagi. Enriko tidak ingin terkesan buruk dan memaksa, meskipun ia sangat menginginkan hal itu.


Namun satu keyakinan Enriko, pertemuannya dengan Luna belakangan ini merupakan tanda bahwa Luna adalah jodohnya. Karena jika tidak berjodoh, maka tentunya ia tidak mungkin bertemu kembali dengan gadis itu. Dan perasaannya bisa saja terganti dengan sangat cepat.


Tetapi, satu yang dilupakan laki-laki itu. Bahwa jodohnya dan kisah cintanya ada ditangan Mith. Hahahaha..


**********


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2