
“Tumben kamu mau makan di rumah, No? Biasanya kamu paling malas jika disuru pulang ketika siang begini. Kalau tau kamu mau makan di rumah, kan aku bisa masakin kamu.” ucap Retha sambil mengambilkan makanan
untuk Lino.
“Terima kasih.” jawab Lino sambil mengambil piring yang telah diisi makanan oleh Retha.
Sejujurnya Lino juga tidak tahu kenapa hari ini dia ingin makan di rumah. Mungkin karena efek ada Luna yang akan menemaninya makan atau mungkin karena rasa lelah yang dihadapinya beberapa hari belakangan ini.
Dan untuk Retha, sejujurnya jadwal makan siang kali ini, yang tadi sempat dibatalkan oleh Lino, adalah jadwal yang disiapkan oleh Bunda Lino sendiri. Bunda Nadia, ibu dari Lino, memang seringkali menjadwalkan pertemuan antara Lino dan Retha. Dia sangat berharap anaknya bisa segera melamar wanita yang sudah beberapa tahun ini selalu setia disamping Lino.
“Kapan-kapan aku akan masakin kamu ya. Boleh kan?” tanya Retha kembali disela-sela waktu makannya bersama dengan Lino.
“Hmm” jawab Lino singkat karena masih menikmati makanan yang dibuat Luna.
Lino memang sering kali tidak terbiasa untuk makan sambil berbicara. Namun, Retha adalah orang yang berkebalikan. Menurutnya, waktu di meja makan bisa dimanfaatkan untuk saling bercerita antar anggota keluarga. Jadi jangan heran jika kerap kali perkataan retha seakan diacuhkan oleh Lino.
__ADS_1
Waktu telah berjalan sekitar dua puluh menit. Makan Lino pun telah usai. Kini Lino pun menikmati kopi hangat yang tadi sempat dimintanya dari Luna. Sambil menikmati beberapa buah-buahan yang telah disiapkan juga oleh Luna.
“No, aku boleh tau sesuatu?” tanya Retha secara perlahan.
Sejujurnya, Retha sudah sangat penasaran dengan wanita yang baru pertama kali dilihatnya. Biasanya Lino tidak suka berada dekat dengan wanita. Oleh karena itu hampir semua yang bekerja dekat dengannya adalah
pria. Namun kali ini, Retha melihat ada satu wanita yang sejak tadi melayani Lino. Bahkan, mungkin wanita itu juga yang menghubunginya untuk membatalkan janji makan siang.
“Tanyalah sebelum jam makan siangku berakhir.” ucap Lino tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphone yang sejak tadi dipegang oleh laki-laki itu.
“Siapa wanita yang sejak tadi melayanimu? Seingatku, kamu tidak punya asisten wanita.” tanya Retha.
Meskipun Lino tidak pernah melarang Retha untuk dekat dengan dirinya, bahkan Lino juga seringkali mengajak Retha ke berbagai pertemuan, tetapi seingat Retha, Lino tidak pernah mengijinkan gadis itu untuk mengikutinya secara terus menerus. Bahkan untuk bertemu dengan Lino saja harus membuat janji terlebih dahulu.
Lino juga tidak pernah memperlakukannya dengan romantis, seperti mengantar atau menjemputnya. Jika memang telah memiliki jadwal untuk bertemu, Lino akan selalu meminta Retha untuk langsung bertemu di tempatnya. Dan setelah pertemuan itu selesai, Lino akan meninggalkan Retha untuk pulang sendiri.
__ADS_1
Jadi, dengan adanya seorang wanita yang bisa mengikuti semua jadwal Lino, tentunya membuat Retha bingung dan sangat bertanya-tanya. Dan tentunya merasa sedikit terancam karena wanita itu bisa menjadi lebih dekat dengan Lino.
“Sekretaris pribadi.” jawab Lino singkat untuk menjawab pertanyaan Retha sambil terus melanjutkan kegiatannya dengan smartphone yang sepertinya lebih menarik daripada Retha.
“Kemana Roland? Biasanya kamu paling tidak suka ada wanita di sekitarmu.” tanya Retha kembali masih dengan keingin tahuan yang sangat tinggi.
“Kemana lagi? Ya tentu saja di kantor. Pertanyaanmu aneh, Retha.” ucap Lino kemudian dan meninggalkan gadis itu di tempatnya sekarang.
Lino tahu bahwa Retha pasti akan bertanya banyak hal tentang Luna. Mungkin jika Bundanya tahu, dia akan dibombardir dengan pertanyaan juga. Namun, menurutnya apa yang dilakukannya dengan Luna tidak ada
masalah. Jadi bukan sesuatu yang patut dijadikan kehebohan.
****************
-Bersambung-
__ADS_1