Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 127 – Bertemu Bunda Nadia


__ADS_3

Perjuangan Retha belum selesai. Kini setelah gagal dan merasa dipermalukan di ruangan Lino, Retha pun memilih untuk menghubungi Bunda Nadia. Ia ingin kembali meminta, bahkan sebisa mungkin memohon kepada Bunda Nadia untuk melanjutkan perjodohan dirinya dengan Lino. Ia akan memberikan segala alasan kepada wanita paruh baya itu agar perjodohan tersebut tetap terlaksana.


Wanita itu pun melajukan mobilnya kembali ke rumah kediaman keluarga Damaresh. Ya, rumah yang tentunya ditinggali oleh Bunda Nadia beserta para asisten rumah tangganya karena sang anak semata wayang memilih


untuk tinggal sendiri.


Tidak membutuhkan waktu yang lama karena jalanan terlihat agak lenggang, akhirnya Retha pun sampai di pintu gerbang rumah besar tersebut. Ia pun membunyikan klakson mobilnya agar penjaga disana membukakan pintu gerbang tersebut untuknya.


Dan benar saja, tidak perlu menunggu lama, pintu gerbang pun terbuka secara otomatis. Penjaga yang sedang berjaga di pos nya pun hanya menganggukan kepalanya. Ia sudah diberitahu bahwa akan ada tamu yang


datang untuk nyonya majikan di rumah itu.


Retha pun memarkirkan mobilnya di pelataran yang memang tersedia. Ia pun bergegas turun dari mobil karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bunda Nadia.


Begitu sampai di pintu utama, Retha pun dipersilahkan langsung masuk ke taman belakang. Ternyata sejak dihubungi oleh Retha, Bunda Nadia pun telah menunggunya di taman belakang dengan teh dan cookies yang akan menemani mereka.


“Selamat sore, Bunda.” sapa Retha sambil berjalan menuju ke arah wanita paruh baya yang sedang duduk bersantai di taman belakang sambil menikmati udara sejuk karena taman yang sangat hijau dan cukup terawat


itu.

__ADS_1


“Halo, sayang. Sudah sangat lama kita tidak bertemu ya. Bagaimana kabarmu dan kedua orangtuamu?” tanya Bunda Nadia membalas sapaan yang diberikan oleh Retha sambil menggenggam tangan gadis itu dan membawanya duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


“Mereka baik, Bunda. Tetapi mungkin Retha yang sedang tidak dalam keadaan baik.” ucap Retha dengan mimik yang cukup menyedihkan.


Bunda Nadia yang mulai mengetahui kemana arah pembicaraan pun hanya terdiam. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan gadis yang ada disebelahnya ini. Karena setahunya, Bunda Nadia sendiri telah mengatakan tentang pembatalan perjodohan tersebut kepada keluarga Kusuma. Bahkan Bunda Nadia pun sampai meminta maaf secara langsung kepada kedua orang tua gadis itu.


Meskipun sempat kecewa dengan keputusan dari Bunda Nadia, tetapi Yoris dan Cerelia pun tahu bahwa mereka tidak bisa memaksakan kehendak. Oleh karena itu, akhirnya kedua orang tua itu pun menerima permintaan


maaf tersebut. Dan mereka pun berjanji untuk menganggap ini sebagai sebuah kegagalan biasa tanpa mau memperpanjang masalah lagi.


Oleh karena penerimaan itu pulalah yang membuat Bunda Nadia menjadi heran dengan kedatangan Retha hari ini.


“Bunda tahu sakitnya mendengar orang yang dicintai akan bertunangan dengan wanita lain? Itu yang Retha rasakan sekarang, Bunda.” kata Retha sambil memandang dengan taapan sendu ke arah wanita yang batal


menjadi calon mertuanya itu.


Bunda Nadia pun hanya bisa mengehembuskan nafasnya dengan berat. Permasalahan hati memang tidak akan ada habisnya. Selesai satu, akan muncul yang lain. Dan begitulah seterusnya. Kemarin urusan hati anaknya,


kemudian calon menantunya, kini gadis lain. Rasanya Bunda Nadia sendiri penat mengurusi urusan hati anak-anak muda sekarang.

__ADS_1


“Kamu harus ikhlas, Retha. Lahir, jodoh, dan maut, bukan kita yang menetukan. Sudah ada yang menetukannya. Mungkin kamu tidak berjodoh dengan laki-laki itu, tetapi bisa saja kamu mendapatkan yang lebih baik lagi.” nasehat Bunda Nadia. Memang berkata-kata itu sangatlah mudah, tetapi tentunya tidak mudah juga untuk dilakukan.


“Tapi aku sudah menyerahkan seluruh hatiku, Bunda. Kenapa Bunda membatalkan perjodohan kami? Kenapa, Bunda? Apa salah Retha, Bunda? Retha mau berubah menjadi seperti apapun, asalkan Bunda mau melanjutkan


perjodohanku dengan Lino.” pinta Retha mencoba memohon kepada Bunda Nadia.


Bunda Nadia pun kembali menghembuskan nafasnya dengan berat. Dulu, ia memang berencana menjodohkan Lino, yang menurutnya tidak kunjung mendapatkan wanita, dengan Retha. Menurutnya Retha adalah wanita baik


yang bisa tahan dengan sikap cuek dan dinginnya Lino. Bahkan dari banyak wanita yang pernah dicoba untuk dijodohkan dengan Lino, hanya Retha yang tetap bertahan hingga akhirnya.


Selain itu, Lino dan Retha juga sudah berteman sejak kecil. Jadi tentunya Bunda Nadia dan kedua orang tua Retha sudah saling mengenal dengan baik. Oleh karena itulah perjodohan itu dilakukan.


Namun, kembali lagi, bukankah jodoh itu bukan ditangan manusia? Manusia memang bisa berencana, tetapi yang menetukannya bukanlah manusia itu sendiri.


“Maafkan Bunda, Retha.” ucap Bunda Nadia setelah terdiam cukup lama.


************


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2