
Setibanya di rumah, Luna tidak langsung masuk ke kamarnya. Luna memilih untuk duduk di sofa di ruang keluarga. Meregangkan otot-ototnya yang sangat lelah dan meredakan emosinya yang cukup memuncak di hari ini.
“Udah pulang, Lun?” sapa Vina yang ternyata sedang berada di rumah siang ini.
Vina dan Luna memang tinggal dalam satu atap. Namun dikarenakan kesibukan masing-masing, kedua sahabat ini sangatlah jarang bertemu. Bahkan dalam sebulan, pertemuan mereka bisa dihitung dengan jari. Biasanya, Vina dan Luna bisa bertemu pada akhir pekan. Dengan catatan jika Vina tidak ada syuting ataupun Luna tidak ada pekerjaan. Tidak jarang juga Vina dan Luna tidak bertemu sama sekali entah sampai berapa lama ketika memang mereka
berdua sedang overload pekerjaan.
Meskipun demikian, hubungan keduanya masih tetap baik, bahkan sangat akrab. Bukankah memang persahabatan itu tidak harus bertemu setiap hari, tetapi hati yang akan berbicara? Dan itulah mereka. Meskipun jarang bertemu, hati Vina dan Luna tetaplah berbicara satu sama lainnya.
“Hmmm..” jawab Luna sambil menganggukan kepalanya dengan malas tanpa membuka matanya sama sekali.
“Capek banget kayaknya?” tanya Vina kembali sambil duduk di sebelah Luna.
“Lelah, Vin. Fisik dan batin.” jawab Luna singkat.
Rasanya kepalanya sangat berdenyut siang ini. Sialnya, dia tidak bisa melupakan kejadian yang telah dilakukan oleh Felix kepadanya. Dan hanya dengan mengingat kejadian itu, emosinya pun kembali naik dan menguasai dirinya.
__ADS_1
“Kamu bisa cerita lho, Lun kalau memang mengganggu banget. Aku siap dengerin kok.” kata Vina sambil memberikan minuman yang dibawanya kepada Luna.
Ya, sebelumnya Vina memang telah membuat secangkir coklat hangat yang sebenarnya untuk merilekskan dirinya sendiri. Namun ketika melihat sahabatnya yang tampak kusut di sudut sofa ruang keluarganya, Vina pun
memutuskan untuk memberikan coklat itu kepada Luna. Vina berharap jika secangkir coklat itu bisa membantu Luna untuk sedikit lebih rileks.
Vina tahu bahwa Luna adalah seorang gadis yang sangat pekerja keras. Tidak jarang dia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya hingga larut malam. Dan dia juga tidak akan menolak jika akhir pekannya harus
habis untuk bekerja.
Namun, hari ini Luna tampak berbeda. Entah kenapa, auranya tampak sangat gelap. Nafasnya pun sangat cepat. Rasanya tidak mungkin hanya karena pekerjaan Luna menjadi seperti ini. Oleh karena itu, Vina mencoba
“Aku tahu kamu ada masalah. Tapi yang aku gak tahu adalah masalah apa yang sedang kamu hadapai. Dan yang aku yakin, masalah ini bukan tentang pekerjaan. Apakah aku benar?” kata Vina ketika tidak mendapati jawaban apapun dari Luna.
Luna yang mendengar perkataan Vina pun hanya bisa menganggukan kepalanya. Sejujurnya, bukan Luna tidak mau bercerita terhadap sahabatnya. Namun, Luna masih perlu mengontrol emosinya sesaat.
Dan segelas coklat hangat dari Vina mungkin bisa membantunya untuk lebih mengontrol emosi. Katanya kan coklat bisa membantu memperbaiki suasana hati.
__ADS_1
“Kasi aku sepuluh menit, Vin. Biarkan aku mengontrol dan meredam emosiku dahulu.” jawab Luna yang disambut dengan anggukan dari Vina.
Sepuluh menit pun berlalu dalam keterdiaman diantara kedua gadis yang duduk di sofa tersebut. Sekilas orang akan mengira bahwa mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Namun, tidak akan ada
yang menyangka bahwa kedua gadis ini sedang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.
“Oke.. Aku mulai cerita. Tapi tolong jangan putus cerita aku di tengah-tengah.” ucap Luna yang dibarengi oleh anggukan dari Vina.
Vina tahu banget tabiat dari sahabatnya ini. Sejak dahulu memang jika Luna sedang bercerita, ia sangat tidak suka jika ada yang memotong ceritanya. Dan jika hal itu terjadi, maka Luna akan dengan senang hati menghentikan ceritanya dan membuat orang-orang yang mendengar menjadi penasaran.
Lalu kapan Luna akan melanjutkan cerita jika sudah demikian? Biasanya, cerita tidak akan berlanjut dan terlupakan begitu saja. Namun, untuk Vina, biasanya Luna akan kembali bercerita tetapi setelah lewat beberapa hari atau mungkin beberapa minggu.
Luna pun mulai menceritakan semua permasalahannya di kantor sejak pertama kali dia menginjakkan kaki disana. Menceritakan bagaimana nyamannya teman-teman disana dan tidak nyamannya berada dibawah pandangan Felix
yang kala itu masih menjadi atasannya. Hingga Luna pun menceritakan kejadian yang baru saja dihadapinya beberapa saat lalu. Dan betapa emosi dan traumanya keluar menjadi satu kesatuan.
Tidak berselang lama, cukup sekita dua puluh menit, Luna pun menghentikan ceritanya dengan emosi yang kembali hadir di hatinya. Emosi yang menutup hatinya dari permintaan maaf.
__ADS_1
****************
-Bersambung-