Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 128 – Memohon


__ADS_3

“Tapi aku sudah menyerahkan seluruh hatiku, Bunda. Kenapa Bunda membatalkan perjodohan kami? Kenapa, Bunda? Apa salah Retha, Bunda? Retha mau berubah menjadi seperti apapun, asalkan Bunda mau melanjutkan


perjodohanku dengan Lino.” pinta Retha mencoba memohon kepada Bunda Nadia.


“Maafkan Bunda, Retha.” ucap Bunda Nadia setelah terdiam cukup lama.


Mendengar permintaan maaf dari Bunda Nadia, Retha pun tidak bisa lagi menahan air matanya. Hatinya terasa dipatahkan. Karena setelah dijunjung setinggi langit, kini ia harus dijatuhkan hingga hancur berkeping-keping.


Kalian tentunya bisa merasakan, bukan bagaimana rasanya ketika kita sedang cinta-cintanya dengan seseorang, tetapi orang tersebut menolak kita. Bahkan, keluarganya sendiri pun membatalkan janji yang telah dibuatnya dan menolakmu seketika.


Jika kalian belum pernah merasakan, jangan berharap untuk merasakannya. Percayalah bahwa merasakan hal tersebut sangatlah tidak enak. Mungkin jika bisa berteriak, mulut ini rasanya ingin berteriak sekencang-kenangnya. Tetapi tidak semua tempat bisa menerima teriakan-teriakan yang tidak jelas, bukan?


Oke, sekarang kembali lagi ke rumah Bunda Nadia, dimana saat ini Retha mulai meneteskan air matanya.


“Tapi, Bun. Bunda tahu sendiri kan bahwa Retha telah berteman dengan Lino sejak kecil. Bahkan satu-satunya perempuan yang bisa menerima semua sikap Lino hanyalah Retha, Bunda.” ungkap Retha memaparkan fakta


yang selama ini dijunjung oleh Bunda Nadia dan menjadikan alasan untuk menjodohkan Lino dengan Retha.

__ADS_1


“Sekali lagi maafkan Bunda, Retha. Tapi bukankah fokus kita adalah kebahagiaan Lino? Apakah kamu yakin jika dengan bersamamu Lino akan bahagia?” tanya Bunda Nadia secara perlahan. Bukan bermaksud untuk


menyerang tetapi wanita paruh baya itu ingin membuka mata Retha agar tidak memaksakan kehendaknya.


“Retha yakin Lino akan bahagia jika bersama dengan Retha, Bunda. Bunda, Retha mohon. Jangan batalkan perjodohan saya dengan Lino. Retha sangat mencintai Lino dan Retha yakin, Lino pasti akan bahagia dan


semakin berkembang bisnisnya jika bersama dengan Retha.” ucap Retha masih dengan berderai air mata. Rasanya gadis itu benar-benar menghancurkan harga dirinya saat ini dihadapan Bunda Nadia.


Bunda Nadia pun kembali menghela nafasnya dengan berat. Jika bisa, sebenarnya ia tidak ingin terlibat dengan pembicaraan seperti ini. Antara rasa tidak tega karena seorang wanita harus merendahkan harga dirinya hingga mengemis cinta kepada keluarga laki-laki, dan rasa kesal karena tidak tahu harus berkata apa lagi.


“Retha, dengarkan Bunda. Dengarkan apa yang Bunda katakan. Bunda tidak bisa melanjutkan perjodohan antara kamu dan Lino. Bunda juga sudah menjelaskan semuanya kepada kedua orang tuamu. Cinta tidak bisa


“Tapi, Bunda. Retha yakin bahkan sangat yakin kalau Lino sebenarnya hanya mencintai Retha. Bunda tahu sendiri kan kalau Lino tidak pernah menolak kedekatan kami? Itu tandanya Lino mencintai Retha, Bunda. Bunda


hanya perlu melanjutkan perjodohan itu saja.” kata Retha meyakinkan Bunda Nadia dengan nada yang terus memohon agar wanita paruh baya itu mengerti dan menyetujui kemauannya.


Bunda Nadia pun hanya menggelengkan kepalanya. Seseorang yang sedang dalam kondisi seperti Retha, pasti tidak akan bisa diajak berbicara dengan baik. Oleh karena itu, mendiamkan adalah salah satu solusinya.

__ADS_1


“Bunda, apa perlu Retha berlutut dan memohon kepada Bunda? Apa perlu Retha mencium kaki Bunda untuk mengabulkan permintaan kecil Retha ini?” kata Retha kembali karena tidak mendapatkan tanggapan apapun dari


wanita paruh baya yang ada di sebelahnya.


Bunda Nadia pun hanya tersenyum dan menepuk punggung tangan Retha dengan halus.


“Atau mungkin menurut Bunda, Retha punya kesalahan? Kekurangan? Atau ada yang harus Retha ubah? Retha akan berubah sesuai seperti yang Bunda dan Lino mau. Retha janji, Bunda. Retha akan jadi seperti yang


kalian inginkan.” lanjut Retha semakin memohon.


Bunda Nadia pun hanya bisa menyesap teh miliknya. Hatinya sungguh sakit melihat seorang gadis yang harusnya menerima limpahan cinta dari lawan jenisnya malah mengemis cinta seperti ini.


“Retha, pulanglah. Tenangkan dirimu. Renungkan apa yang Bunda katakan. Dan kamu juga bisa berbicara dengan kedua orang tuamu. Maafkan Bunda tidak bisa membantumu kali ini.” ucap Bunda Nadia sambil berdiri dari tempat duduknya.


Bunda Nadia pun memilih untuk mengakhiri pembicaraannya dengan Retha. Ia pun mengelus sebentar puncak kepala gadis itu dan meninggalkan Retha menenangkan dirinya sendiri sesaat.


*************

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2