
Sepeninggal Bunda Nadia, Lino pun kembali memikirkan kata demi kata yang dikeluarkan dari mulut sang bunda. Lino sendiri tahu keinginan bundanya saat ini. Dan Lino pun memahami kenapa Bunda Nadia meminta hal tersebut dari dirinya.
Namun, rasanya untuk saat ini Lino belum siap jika harus menikah. Lino masih ingin memajukan perusahaannya hingga lebih lagi. Memang, jika dilihat, untuk yang namanya memajukan perusahaan itu tidak pernah ada habisnya. Target itu akan selalu berganti dan bertambah. Jadi jika ingin melihat perusahaan hingga terus berkembang, maka tidak akan ada waktu pastinya.
Selain itu, Lino juga merasa masih ingin memiliki waktu untuk berdua dengan Bunda Nadia. Lino sadar dengan segala kesibukan yang Lino lakukan saat ini saja telah menguras waktunya bersama sang bunda. Lalu bagaimana jika ia harus menikah nantinya? Waktunya pasti akan lebih tersita lagi, dan dengan demikian, waktu bersama Bunda Nadia akan semakin sedikit.
Hal ketiga yang sebenarnya membuat Lino belum siap untuk menikah adalah karena gadis yang akan dinikahinya. Ya, Lino memang belum bisa memantabkan hati untuk mengarungi biduk rumah tangga bersama seorang
Oretha Sandrina. Entah apa kurangnya dari gadis itu, teapi hati Lino selalu menolak. Selama ini pun, kedekatan Lino dengan Retha hanya karena Bunda Nadia.
Memang ada satu sisi dalam diri Lino yang cukup merasa bersalah kepada Retha dan keluarganya karena seolah-olah, Lino memberikan harapan yang besar. Lino juga cukup sering membawa Retha ke berbagai pertemuan penting dan acara-acara dari para kolega. Namun, jika boleh jujur, semua itu hanya karena ingin menyenangkan Bunda Nadia. Karena jika boleh memilih, Lino akan memilih untuk hadir besama Roland ataupun sahabatnya yang
lain.
__ADS_1
Anehnya, setiap kali Lino mendapatkan undangan untuk sebuah acara, Bunda Nadia selalu mengetahuinya. Dengan demikian, Bunda Nadia sendiri akan selalu meminta dan mengaturkan kebersamaan Lino dengan Retha.
Mungkin, bagi Bunda Nadia, Retha adalah calon menantu idaman. Tinggi, putih, langsing, cantik, pintar, dan pastinya dari keluarga baik-baik. Retha juga sudah sangat dipersiapkan oleh keluarganya sendiri untuk menjadi seorang istri yang baik dan bisa mendukung semua pekerjaan sang suami. Oleh karena itu, sejak dari dahulu, Retha selalu diajarkan berbagai macam hal oleh kedua orang tuanya.
Namun, itu kan baru yang terlihat dari luarnya. Bukankah tidak ada satu orang pun yang tahu isi hati orang lain, selain orang itu sendiri? Oleh karena hal itulah, Lino merasa tidak nyaman dengan seorang Retha. Rasanya ada sesuatu yang ditutupi oleh Retha, entah apa itu.
“Ah, sekarang aku harus bagaimana?” ucap Lino pada dirinya sendiri sambil mengacak rambutnya.
Permintaan Bunda Nadia memang bukan hal yang berat. Bukan sesuatu yang membutuhkan perjuangan extra. Lino cukup berkata ‘iya’ dan semua akan berjalan tanpa Lino perlu menyentuhnya. Lino pun tidak butuh mendekati seorang gadis karena dia sendiri yang akan menyerahkannya kepada Lino. Jadi, bukan sesuatu yang susah dan ribet, bukan?
“Bagaimana kalau aku bersama dengan Luna? Apakah Bunda akan setuju? Setidaknya Bunda tidak perlu mendekatkan terus padaku.” ucap Lino bertanya pada dirinya sendiri.
Ya, ide untuk menggunakan Luna pun tiba-tiba muncul di kepalanya. Lino tahu bahwa Luna tidak akan setuju jika mereka harus menikah. Jangankan menikah, untuk bisa dekat dengan Luna saja Lino harus menggunakan
__ADS_1
berbagai macam cara. Itu pun, sepertinya tidak membuahkan hasil yang baik. Karena hingga saat ini, Luna tidak pernah mau menunjukkan kedekatan secara personal dengan Lino.
Dan jika Lino mengajak Luna bekerja sama, mereka akan lebih bisa membuat alasan agar Bunda Nadia tidak memintanya agar segera menikah terus menerus. Namun, kira-kira apakah Bunda Nadia akan setuju dengan
perempuan lain selain Retha?
Lino tidak ingin memusingkannya sekarang. Ia akan mencoba berbicara dengan Bunda Nadia. Mungkin dengan sedikit kebohongan bahwa Luna adalah pacarnya saat ini. Dengan demikian, setidaknya rencana Bunda Nadia
dan Ibu dari Retha akan berhenti.
Urusan bagaimana harus berbicara dengan Luna, akan Lino pikirkan setelahnya. Mungkin dengan persyaratan kerja sama atau semacam surat perjanjian. Dan jika rencana ini berhasil, maka bisa jadi Lino akan semakin dekat dengan Luna.
Dan setelah menyusun rencananya dengan matang, Lino pun merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Sudah saatnya dia beristirahat. Tubuhnya benar-benar lelah dan pikirannya benar-benar bekerja keras malam ini.
__ADS_1
***************
-Bersambung-