
Sementara Luna menghabiskan hari Minggunya bersama sang sahabat, berbeda halnya dengan Lino. Hari ini ia lebih memilih untuk bertemu dengan Bunda Nadia. Rasanya sudah sangat lama ia tidak berkeluh kesah dengan sang Bunda. Dan kali ini, rasa tertekan dari Lino membuatnya ingin kembali merasakan kenyaman di pelukan Bunda Nadia.
Pagi-pagi sekali, bahkan ketika matahari belum menampakkan wajahnya, Lino telah bersiap untuk pergi ke rumah sang Bunda. Ia ingin menikmati seharian ini bersama Bunda Nadia. Dan ia juga ingin mencari solusi dari masalah hati yang membuatnya ‘sakit’ belakangan ini.
Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 ketika Lino telah sampai di pekarangan rumah besar milik sang Bunda. Selain karena belum terjebak kemacetan, Lino juga memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi sehingga bisa segera sampai disana.
Sesampainya di rumah Bunda Nadia, Lino pun segera menuju kamarnya. Entah kenapa, tiba-tiba ia merindukan balkon kamarnya yang membuatnya bisa melihat matahari terbit. Ya, matahari terbit memang membawa
harapan tersendiri bagi diri Lino. Dan meskipun banyak halangan, sang surya akan terus berjuang untuk memancarkan cahayanya sehingga membuat dunia tidak gelap gulita.
Dan setelah semua itu dilakukan, kini saatnya Lino duduk manis di meja makan karena sebentar lagi adalah waktunya untuk sarapan. Dan Lino pun memutuskan untuk menunggu Bunda Nadia di meja makan.
“Loh, kok kamu disini?” ucap Bunda Nadia ketika melihat Lino telah duduk dengan manisnya di meja makan sambil menunggu sarapan dihidangkan dihadapannya.
Lino pun hanya memberikan senyumnya yang paling manis sehingga membuat ketampanannya berlipat ganda. Lino dan Bunda Nadia pun sarapan dalam diam. Tetapi tidak dapat dipungkiri kebahagiaan dari keduanya
__ADS_1
karena memang telah lama tidak makan berdua seperti ini. Terlebih sejak kasus penculikan Luna.
Setelah selesai makan, Lino pun mengajak Bunda ke halaman belakang. Taman yang membuat siapapun merasa tenang disana. Dan Lino pun mengajak Bunda Nadia duduk di tengah-tengah taman tersebut.
“Kenapa? Ada yang mengganjal?” ucap Bunda Nadia seakan mengetahui kerisauan yang dirasakan oleh anaknya.
“Luna menolak Lino, Bun.” ucap Lino kemudian setelah menghembuskan nafasnya dengan berat. Rasanya dadanya sangat sesak ketika mengungkapkan hal tersebut.
Bunda Nadia yang sudah mengetahui semua hal tentang anaknya dengan asisten pribadinya itu pun tidak terkejut. Bunda Nadia hanya tersenyum menanggapi perkataan anaknya dan mencoba menggoda anaknya agar
“Apakah pesona seorang Adelino Damaresh sudah menghilang?” tanya Bunda Nadia seakan menggoda sang anak karena selama ini tidak ada wanita yang bisa menolak Lino. Bahkan selalu Lino yang menolak wanita yang dihadapkan padanya.
“Luna bukan seperti gadis-gadis lainnya yang bahkan rela menyerahkan dirinya kepada Lino. Luna punya trauma tersendiri terhadap lawan jenis dan hubungan pernikahan.” ucap Lino mengungkapkan apa yang menjadi
kendalam bagi Luna.
__ADS_1
“Kalau begitu, kamu tentu tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan?” kata Bunda Nadia lagi yang lebih kepada pertanyaan. Ia yakin bahwa sebenarnya Lino sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya. Namun anaknya itu merasakan suatu ketidak pastian terhadap tindakan yang akan dilakukan.
“Bantu Lino, Bunda. Pleaseeeee…” ucap Lino sambil memeluk sang Bunda dan memberikan tatapan memohon layaknya anak kecil yang sedang menginginkan sebuah permen.
Bunda Nadia pun hanya bisa menghela nafasnya sambil sedikit tertawa melihat perilaku sang anak yang sudah tidak bisa dikatakan anak-anak lagi. Namun nalurinya sebagai ibu, pasti akan melakukan berbagai hal untuk anaknya. Termasuk membantu masalah hati yang dialami oleh sang anak. Tapi, tetap saja Bunda Nadia ingin tahu, sampai sejauh mana anaknya menginginkan bantuannya.
“Apa yang harus Bunda lakukan?” tanya Bunda Nadia sambil sesekali mengelus kepala sang anak yang masih berada dipundaknya.
“Bantu Lino meyakinkan Luna, Bunda.” ucap Lino kembali. Lino tahu bahwa caranya terkesan pengecut karena tidak berani menghadapi sendiri. Tetapi Lino juga tahu, Bunda Nadia adalah senjata utama yang bisa meyakinkan wanita itu karena Luna tidak akan tega untuk menolak Bundanya.
Bunda Nadia pun hanya bisa menganggukan kepalanya. Sebenarnya, ia pun telah memiliki rencana tersendiri untuk membantu hubungan Lino dan Luna. Tetapi sejujurnya, ia lebih ingin melihat dari kejauhan saja.
*************
-Bersambung-
__ADS_1